Selasa, 22 Oktober 2013

Black Rebellion Records: Refleksi Kecintaan Terhadap Hardcore Punk Dalam Wujud Label

Matheo. Photo by Himself doc.
Pesatnya pertumbuhan skena hardcore/punk di kota Depok dari tahun ke tahun selalu diiringi dengan semakin banyaknya band-band baru yang bermunculan. Semakin membuat pergerakan di kota tersebut tetap bernafas. Namun rasanya semua itu akan hambar jika tidak dibarengi dengan hal penunjang lainnya, dalam hal ini adalah records label.

Tentu dua hal tersebut (band dan records label) adalah satu paket yang tidak bisa dipisahkan. Meskipun faktanya tidak sedikit band yang dapat merilis karyanya sendiri tanpa bantuan records label. Namun tetap saja, disamping itu peran records label dalam sebuah pergerakan musik itu tidak bisa dipandang sebelah mata. Karna tak sedikit pula band-band yang terbantu dengan adanya records label.

Bicara soal records label. Pada kesempatan kali ini, LK berkesempatan berbincang-bincang sedikit dengan Matheo, pemilik records label Black Rebellion. Salah satu records label asal Depok yang sedang giat-giatnya merilis band-band hc/punk lokal dan internasional seperti: Busuk, To-Die, Tumor Ganas, Holiday Suckers, Compulsion To Kill (Malaysia), AxFxA (Jepang), dan masih banyak lagi band-band keren lainnya. (AL)

Ceritain sedikit dong tentang Black Rebellion ? Apa sih itu ?
Black Rebellion adalah DIY Records Label dari Depok, yang mencoba ngebantu audio rilisan temen-temen scene dari Depok maupun yang ada diluar Depok sekalipun.

Dulu gua taunya BR itu semacam blog yang menyajikan link download ? terus sejak kapan dan bagaimana prosesnya bisa jadi records label seperti sekarang ini ?
BRR itu sebenernya dimulai diawal Juni 2010 kalo ga salah, dan saat itu masih ada 2 orang yang ada di dalam label ini. Nah, entah mengapa (cia ilah!) setelah rilisan pertama dari BRR, temen gua ujug-ujug (tiba-tiba) tanpa ada ujan, angin, dan petir yang menyambar memutuskan mundur dari label bau kencur ini dan diserahkan kepada daku seorang. *seketika ada hembusan angin*. Nah karena gua bingung dan gak tau harus berbuat apa, yasudah... iseng-iseng gua bikin blog dengan nama yang sama... hehehehehe

Ditengah kondisi minimnya orang terhadap rilisan fisik, lu justru bikin BR. Apa yang membuat lu punya inisiatif untuk menjalankan records label ?
Dari ketertarikan gua terhadap rilisan fisik itu sendiri, dan sebuah kepedulian terhadap scene lokal tentunya. Banyak band tapi minim records label untuk ngebantu temen-temen yang punya band itu hehehe

Menurut lu haram atau nggak. Jika kita mengharapkan profit dari apa yang kita lakukan (dalam konteks ini menjalankan label) ?
Sah-sah aja sih menurut gua, asal nggak berlebihan “dalam arti” menuntut atau mencari terlalu banyak keuntungan atau profit dari DIY Records Label. Kalo menurut gua, kenapa sah-sah aja ya karena kita juga ada kebutuhan. Misalnya buat beli rokok, buat beli bensin motor kalo mau nyetak cover, atau beli kaset kosong, buat beli es kelapa karena kepanasan nungguin orang COD yang lama, bisa juga buat nambahin bayar artwork untuk cover kan? Jadi Kalo ada lebihnya ya sukur, kalo ga ada ya ngga masalah hahahahahahaha

Sejauh ini sudah berapa banyak rilisan yang BR keluarkan ?
Ada 14 rilisan kalo ga salah, dan semoga masih terus berlanjut hehehehe...


Sejauh gua merhatiin BR. Rilisan lu itu dominan band-band grindcore, noise, dan sejenisnya lah. Apa yang membuat lu tertarik dengan band-band yang memainkan style tersebut ?
Ya, bisa dibilang. Lebih dominan sama hal yg gua suka, pertemanan, hal aneh, dan attitude dari bandnya aja sebenernya... hehehe

Selama ini apasih yang menjadi kendala dalam menjalankan sebuah label ?
Kendalanya banyak sih hahaha, dana yang engga muter, jadi agak sedikit lama kalo harus ngerilis next project. Terus ongkos kirim yang gila-gilaan, bikin peminat dari temen-temen dari luar Indonesia keberatan. Dan kurangnya support dari scene lokal hahahaha

Karna lu berkecimpung di dunia perilisan, otomatis lu setidaknya sedikit banyaknya tau tentang band dan kondisi scene di tempat tinggal lu. Nah, dari kacamata personal lu. Bagaimana kondisi scene lu saat ini ?
Scene Depok itu sebenernya Scene yang besar ya menurut gua, scene yang selalu ber re-generasi setiap waktu. Namun yang sangat disayangkan juga ketika tidak sedikit scenester yang udah lama berkecimpung di dunia itu malah enggan untuk menanggapi generasi baru disini. Ya intinya sih, sikap senioritas dan rockstar attitude masih besar disini.

Sebutin dong label favorit lu ?
Time Up Recs, Movement Recs, Noiseblast Recordings, sama Grindtoday Recs. Mereka sangat memotivasi hehehehe

Tidak sedikit records label yang baru mengeluarkan beberapa rilisan, terus mendadak “mati”. Kalau dari lu sendiri, bagaimana agar sebuah label itu dapat survive ?
Tergantung dari apa tujuan dibuatnya DIY Records Label itu sendiri. Kalo tujuannya untuk “Keren-kerenan” atau cuma buat mencari keuntungan sih ga akan bertahan lama menurut gue. Harus berdasarkan kecintaan diri kita sama scene dan rilisan fisik yang membuat DIY Records Label itu survive.

Kasih tips dong buat para pembaca yang mungkin mau memulai menjalankan records label ?
Jangan berhenti untuk belajar dan jangan malu untuk bertanya. Cari tahu terus deh intinya hehehehehe

Selain aktif menjalankan label. Apa yang lu lakukan diluar itu ?
Download film di situs semprot.com, youporn.com, redtube.com dan menjualnya ke om-om sange berkumis yang suka nongkrong di pos ronda huehuehuehuehuehuehehehehe

Apa yang lu ketahui dari Lemari Kota Webzine ? Dan bagaimana pendapat lu tentang itu ?
Webzine asooy yang aduhai. Dan buat siapapun yg masih haus informasi tentunya, ini adalah sarana untuk scenester agar bisa mendapatkan informasi selain ngerumpi di gigs. Pokoknya buat loe loe semua yang masih haus informasi, support zine atau webzine lokal, engga rugi deh :3

Last words ?!
 If you support all DIY Bands, why you not try to support DIY Records Labels too

Contact: blackrebellionrecords@gmail.com / https://www.facebook.com/BlackRebellionRecords

Artikel Lain:

Tidak ada komentar:

Posting Komentar