Senin, 11 Januari 2016

Beeswax Kritisi Pembangunan The Rayja Resort Melalui 'Wellspring'

BEESWAX adalah nama baru skena indie Malang yang sedang ramai dibicarakan. Mereka menawarkan musik tipikal mid-west sound layaknya American Football, Capz N Jazz, Texas is the Reason, dan sejenisnya. Belum lama ini mereka merilis sebuah single bertajuk "Wellspring", sebuah lagu yang berangkat dari fenomena pembangunan hotel di Kota Batu.

"Wellspring adalah refleksi tentang format kepedulian tentang sebuah masalah. Apakah kami terlalu sibuk dengan masalah sendiri sehingga tidak peduli dengan masalah lingkungan atau kami peduli tapi dengan effort minim," ungkap mereka.

Mereka mengkritisi dampak yang terjadi dari pembangunan hotel The Rayja yang terletak di Kota Batu, lalu menyebabkan Mata Air Gemulo yang hanya berjarak 100M dari lokasi hotel tidak dapat berfungsi lagi. Padahal, menurut penuturan mereka, sebelum adanya pembangunan hotel saja, kondisi Mata Air Gemulo sudah mulai mengkhawatirkan karena tingkat debutnya menurun.

Polemik pembangunan hotel The Rayja yang dimodali oleh PT. Panggon Sarkasa Sukses Mandiri (PT PSSM), sudah bergulir sejak 2013 lalu. Ketika itu warga sekitar dibantu oleh Forum Masyarakat Peduli Mata Air (FMPMA) Kota Batu, mencoba mengajukan gugatan secara perdata ke Pengadilan Negeri Malang. Mereka menuntut ganti rugi Rp 318 miliar karena pembangunan hotel tiga lantai dengan 88 kamar itu mengancam kelestarian sumber air Gemulo yang berfungsi untuk pertanian dan air minum.

Pada 2014, warga menang melalui putusan Pengadilan Negeri Kota Malang. Namun awal Januari 2016 ini, kasasi hotel The Rayja diterima dan pembangunan kembali berjalan.

"Warga sempat demo, beberapa kali sampai saat ini, tapi nampaknya perjuangan belum usai. BEESWAX sebagai musisi punya hak untuk ikut andil dalam protes dalam bentuk lagu. Prospek lagu sebagai media protes bisa membantu lewat berbagai media," tandas mereka. (AL)



Artikel Lain:

Tidak ada komentar:

Posting Komentar