Sabtu, 06 Februari 2016

6 Band Yang Mengusung Konsep Virtual Reality Pada Video Clip

source google
Kemajuan teknologi yang semakin hari bertambah pesat, turut membawa dampak pada berkembangnya kreatifitas video maker. Jika sebelumnya menyaksikan sebuah video hanya dari satu arah. Kini melalui teknologi virtual reality, video dapat dilihat secara penuh dari segala penjuru arah atau 360 derajat. Cukup putar ke kanan, kiri, atas, dan bawah penonton bisa leluasa menikmati video. Sekilas hal ini mengingatkan pada layanan Google Street View yang ada di Google Maps bedanya ini video bukan foto.

Kemajuan teknologi video tersebut langsung merangsang para musisi untuk menggarap video clip masing-masing dengan konsep virtual reality 360 derajat. Apalagi setelah youtube sebagai situs sharing video nomer satu di dunia telah mendukung fitur ini. Penonton jadi semakin merasa seolah-olah dekat dengan para musisi. Tentu hal tersebut memberikan pengalaman dan sensasi yang baru dalam menikmati tayangan video, bukan ?

Mau tau siapa saja musisi yang menggunakan fitur virtual reality dalam video clipnya ? Berikut ini tim Lemarikota telah merangkumnya. (AL)

Kamis, 04 Februari 2016

#youshouldknow | Mutombo: Band Indie Rock Jakarta Bernuansa 90an

Joko Wiryawan (gitar) memiliki banyak materi lagu yang selama ini terpendam bertahun-tahun dan belum juga dieksekusi menjadi sebuah karya. Hal tersebut ia akui lantaran belum menemukan bandmate yang tepat. Barulah pada akhir 2015 di sebuah kamar yang terletak dibilangan Jakarta, bersama dengan Anto F. Rachman (bass) mulai berlatih bersama dan disusul oleh masuknya Budi Triyadi (Drum). Dari sanalah cikal bakal Mutombo lahir sebagai band.

"Kita teman kecil kebetulan. Baru ngeband sekarang tapi," ungkap mereka.

Proses kreatif mereka tergolong cepat, akhir tahun terbentuk, langsung menggarap mini album. Alhasil pada awal Februari 2016, mereka merilis Dreadfully Yours yang bisa kalian unduh gratis melalui akun soundcloud ataupun bandcamp. Terdapat lima lagu bernuansa indie rock 90-an, seperti Yo La Tengo, Sebadoh, Pavement, dan band sejenisnya.

Silahkan dengar dan download mereka melalui link di bawah ini, mari kita bernostalgia bersama. Oh yah, mereka belum pernah manggung. Tolong jangan ragu untuk mengundang mereka tampil. (AL)


Reuni Band-Band Underground Bogor Terekam Dalam Sebuah Film

Sebuah film tentang pelaku skena underground kota Bogor belum lama ini dirilis oleh Kick It! Collective melalui kanal youtube resmi mereka pada Senin (1/2) kemarin. Film dengan judul Kick It!: Teenage Revival The Movie tersebut menangkap betapa serunya sebuah konser musik yang diisi oleh band-band lintas generasi juga genre yang ada di kota hujan.

Dikutip dari pernyataan Kick It! Collective selaku penyelenggara, film ini mengalami berbagai kendala sehingga berdampak pada mundurnya jadwal rilis yang memakan waktu setahun.

"Butuh waktu yang cukup lama untuk merilis video ini karena beberapa alasan seperti kesibukan, keterbatasan kemampuan, hingga mood para panitianya," tulis mereka.

Film tersebut adalah bagian dari pagelaran pesta temu dengar yang berjudul sama yang terselenggara pada Februari 2015 lalu di Baranangsiang, Bogor. Band-band seperti Revolt, Topi Jerami, Psychotic Angels, Lepas Landas, Deadly Eye Candy, Full of Envious, Her Spring Holiday, The Kuda, My First Wet Dream, dan masih banyak lagi, turut meramaikan gigs reunian tersebut. (AL)

Rabu, 03 Februari 2016

Take This Life: "Semakin Unik Dan Eksperimental Akan Memperkaya Scene Sendiri"

Band asal Malang ini sudah cukup lama berada di skena hc/punk sejak tahun 2005 dan memainkan genre musik yang tidak biasa yaitu Mathcore dan (mid 90s) Screamo or whatever you call. Ya, band ini bernama Take This Life. Band yang cukup bisa dibilang veteran ini sendiri di gawangi oleh Julius Bagus (vocal), Bayu Jabrek (gitar), Yogi Sinyo (bass), dan Rizky Gondol (drum) Mereka juga sudah memunculkan dua EP dan satu Album yang sangat menarik, dan selalu memiliki tema tersendiri di tiap rilisan mereka.

Beruntunglah saya memiliki kesempatan melakukan sesi tanya jawab dengan mereka di tengah-tengah kesibukan mereka semua yang harus bertahan hidup atau bekerja, selamat menikmati interview kali ini. (oldbrains91)

Hai perkenalkan dong siapa kalian dan ceritakan sedikit tentang Take This Life ? 
Halo, saat ini Take This Life adalah Julius Bagus, Bayu Jabrek, Yogi Sinyo, dan Rizky Gondol. Tahun ini Take This Life genap berusia 10 tahun, semoga masih bakal jalan sampai banyak tahun lagi.

Modern Guns Rilis Single "Hopefall" Untuk Album Baru

Band hardcore asal Depok, Modern Guns merilis single terbaru berjudul "Hopesfall" melalui official soundcloud mereka. Lagu berdurasi dua menit lebih tersebut akan menjadi bagian dalam album terbaru mereka yang akan dirilis oleh Armstretch Records. "Sangat senang untuk memberitahukan bahwa kami menandatangani kontrak dengan Armstretch Records. Album baru akan segera rilis tahun ini," tulis mereka pada fan page Facebook.

Dalam lagu tersebut Modern Guns berkolaborasi dengan Praditya Eka Putra yang notabene adalah gitaris dari band hardcore, Limerence. Namun dalam bentuk kolaborasi kali ini, Praditya tidak bermain gitar melainkan menyumbangkan suara untuk bagian clean vocal.

Sebelumnya Modern Guns telah merilis debut album bertajuk Pure Love From The Black Heart pada 2014 lalu dalam format cd dan juga tersedia diberbagai platform musik digital yang ada. (AL)

Selasa, 02 Februari 2016

Kontrasosial: Touring Eropa, Bandung, dan Ganja

Setelah membuka-buka folder redaksi kembali, ternyata saya melewati satu naskah yang saya sendiri sudah lupa sejak kapan menyimpannya. Naskah tersebut berisi transkrip wawancara saya bersama band d-beat asal Bandung, Kontrasosial. Setelah dibaca ulang ternyata materinya masih lumayan relevan untuk dipublikasi.

Saya memang tidak ingat kapan naskah ini tersimpan namun saya ingat ketika itu mewawancarai mereka tepatnya setelah album terbaru mereka bertajuk Vol.4 rilis. Langsung saja di simak hasil wawancara seputar album terbaru mereka tersebut, touring Kontrasosial ke Eropa, hingga makanan favorit mereka. Yang diwakili oleh Billy Anjing (B) dan Ebby (E). (AL)


Hal apa yang dalam waktu terakhir mengganggu kalian nih ?
(B) Akhir-akhir ini aku sedang terganggu oleh terbatasnya perangkat berkarya.

(E) Hal yang sangat mengganggu yaitu PEMILU tapi istri saya memilih JOKOWI

#youshouldknow | Doctrine Clone: Duo Grindcore Bahaya Kota Hujan

Pengaruh yang terkloning! Begitu kira-kira bila di bahasa indo kan, sebuah grup bebunyian penuh distorsi berformat duo asal Bogor. Doctrine Clone adalah Dimas memainkan gitar sambil bernyanyi dan Rian menabuh drum pun sambil bernyanyi, kebayang kan walaupun cuman berdua tapi rame gitu, dua-dua nyanyi, teriak-teriakan pula hihi. Mereka berdua LDR an nih, karena dimas study di Bandung sedangkan Rian di Bogor, dan sebentar lagi Rian pun bakalan cabut karena pekerjaannya sebagai pelaut, makin LDR aja mereka. Makanya nih akhir-akhir ini mereka lagi rajin-rajinnya main di gigs, dan lagi nyicil-nyicil rekaman sebelum Rian berangkat. Mereka berdua sebelumnya sempet gabung di band punk rock bernama Chaos Anarchy, sekitar tahun 2005/2006 an gitu. Posisi mereka sama-sama main drum dan gitar setelah itu, tahun 2009 Rian pindah ke Pontianak dan membentuk band juga disana bernama Disculture. Akhirnya bertemu Dimas kembali akhirnya membentuk si Doctrine Clone ini.

Berawal dari kejenuhan monotonnya hidup mereka, takut menjadi introvert, dan band merupakan pelarian yang cuco buat mereka, asoy! Ketukan drum ala Extreme Noise Terror, riff gitar yang gaspol, sludgy, raw raw gimana gitu,eh gimana sih? Hehe, ditambah dengkingan noise ala Man is the Bastard merupakan deskripsi yang cocok buat musik Doctrine Clone. Mereka juga udah buat beberapa merchandise, kalau mau mesen bisa dikunjungi fanpage facebook nya ketik aja Doctrine Clone, gitu. Bentar lagi juga mereka bakalan rilis ep yang dinaungi oleh label asal Batam, S.O.N Records, dalam format kaset.

Nah seperti yang udah saya sebutin di atas, mereka juga bakalan rekaman lagi sebelum kepergian Rian buat rencana full album nya Grind made Eruption bisa kalian dengerin di bandcamp mereka. Sebuah track berbahaya, juga menjadi satu alesan kenapa band ini dibentuk, sugoy! Eh dari perbincangan saya sama mereka, si Rian ini minta didoain jadi nakhoda, bukan naekhonda ya, biarpun irit sih, tapi boong iritnya, asli. Kalo si Dimas ini lagi mau pameran kebetulan dia tukang gambar gitu, minta doa juga supaya sukses pamerannya. Kenapa pada minta doa gini ya? Oh ya saya lupa genre mereka kan Grindoacore! Hihi. (Fauzan)



Rabu, 27 Januari 2016

Upaya Penipuan Vinyl Hark! Melalui Facebook, Grimloc: "Hati-Hati Dengan Parasit!"

Ada kabar kurang mengenakan dari rencana rilis ulang album Dorr Darr Gelap Communique milik Hark! It's a Crawling Tar-Tar (selanjutnya Hark!) dalam bentuk piringan hitam 12" yang diinisiasi oleh Grimloc Records dan Disaster Records. Pasalnya ada segelintir pihak yang mencoba mengambil keuntungan dengan ikut membuka pre-order melalui Facebook fan page Hark!. Sementara sistem pre-order hanya resmi berlaku melalui dua label yang bersangkutan. Hal tersebut langsung dibantah oleh Grimloc Records, "Hati-hati dengan parasit seperti ini. Penjualan vinyl Hark hanya via @dsstrrecs_ dan kami saja sementara ini," kicau mereka pada 27 Januari.

Hal tersebut bermula dari seseorang yang menjalankan Facebook fan page Hark! secara tidak resmi dan ikut membuka pre-order pada 24 Januari lalu. Kemudian direspon oleh salah satu followers fan page berinisial YF, yang ikut dalam pre-order tersebut dan mentransfer uang sejumlah Rp. 562.000,- ke rekening bank sang admin pada tanggal 25 Januari 2016.

"Saya inbox ke Fanpage nya Hark It's Crawling Tar-Tar dan saya dikasih info untuk transfer ke nomer rekening atas nama AR dan sudah melakukan transfer harus email ke : dorrdarrgelapcommunique@gmail.com sampai hari ini balesan emai tak kunjung di balas," ungkap YF pada Rabu (27/01).

Insiden yang tidak diinginkan ini langsung memicu reaksi para personil Hark!, yang mengatakan bahwa semenjak bubar mereka tidak pernah membuat dan menjalankan fan page apapun berkenaan dengan bandnya tersebut. "Ini pure fraud mengatasnamakan band yang sudah lama defunct. Sekali lagi saya tekankan di sini kita gak ada sangkut pautnya dengan fan page itu," ujar vokalis Ari Ernersto.

Hark! adalah kolektif hardcore/punk Bandung yang digawangi oleh Ari Ernesto (vokal), Dede (gitar), Kenji (drum), Uwep (bass), dan Billy (gitar) yang terbentuk dari reruntuhan Domestik Doktrin. Hark! aktif di era 2000-an awal dan memutuskan bubar sekitaran tahun 2007. Mereka hanya meninggalkan satu album bertajuk Dorr Darr Gelap Communique yang dirilis oleh Thrash Steady Syndicate (Singapura) dalam format CD pada 2006, yang mana kemudian album tersebut dianggap sebagai karya terbaik dan cukup berpengaruh pada generasi 2000-an. Sebelumnya pada 2013 lalu, album Hark! sempat dirilis ulang dalam bentuk kaset oleh Grimloc Records. (AL)

Talamariam: Bukan Band Hanya Kolektif Pendongeng Luka

Gaung Talamariam mungkin jauh dari hingar bingar pembicaraan, namun jejak mereka ada di mana-mana. Mulai dari cafe, bar, hingga ruang-ruang solidaritas. Mereka hadir sebagai representasi dari kerumunan orang yang volume suaranya diperkecil dan merasakan kegelisahan terhadap ketimpangan yang dihadapi dalam keseharian.

Melalui musik ala spoken word mereka mencoba meruntuhkan tembok para perugi. Suara mereka lantang terdengar di tengah aktivis, mahasiswa, hingga korban kejahatan agraris seperti di Rembang. Meski begitu mereka enggan disebut sebagai sebuah band. "Talamariam hanyalah pendongeng keliling, bukan grup band seperti yang kalian bayangkan. Kami hanya tukang cerita, penutur dongeng luka," ungkap kolektif asal Yogyakarta ini.

Berikut ini wawancara dengan mereka selepas rilisnya lagu terbaru bertajuk "Nafas" pada 22 Januari kemarin. (AL)


Apa yang sedang membuat kalian gundah dan gembira ketika menjawab interview ini ?
Hallo Lemarikota semoga semangat kalian masih terbakar di sana! Jujur kita gundah karna jarak dan kesibukan antar anggota kolektif musik ini, akhirnya membuat kita sempat tidur panjang. Dan gembira karna kebun rumah kami mulai diguyur air hujan!

Selasa, 26 Januari 2016

Simak "Cerita Senja" Ala Duo Folk Pygmy Marmoset

Duo Zenith dan Sanjay yang berkarya bersama dalam Pygmy Marmoset (Pygmos) punya cara tersendiri untuk mengawali tahun 2016 ini. Caranya dengan bercerita tentang senja yang selalu mereka temui sepulang melakukan rutinitas kehidupan dan merekamnya menjadi sebuah single bertajuk "Cerita Senja".

"Sebuah kisah sederhana tentang bagaimana kita tidak lupa untuk bersyukur atau berbahagia atas segala sesuatu yang sudah terjadi hari itu," tutur mereka.

Lanjut mereka, "Cerita Senja" mencoba mengajak pendengar mengingat kembali hari-hari yang pernah mereka lewati, apakah sudah menjadi yang terbaik untuk diri sendiri di hari tersebut atau belum. Saran mereka, coba untuk mendengarkan lagu tersebut di saat langit sore berwarna kuning keemasan, jingga, atau kadang magenta.

"Setiap orang punya cara masing-masing menikmati senja tersebut. Mungkin akan diabadikan dalam layar berwarna telepon genggamnya atau sembari menikmati kopi panas yang dihidangkan diatas meja. Terkadang pula senja membuat seseorag menjadi sangat melankolis," tandas duo folk/akustik asal Denpasar ini.

Single "Cerita Senja" bisa langsung dinikmati melalui soundcloud resmi mereka. Sebelumnya, pada 11 Januari 2016 kemarin, mereka telah merilis sebuah video clip "Cerita Tentang Pohon" yang mana lagu tersebut menjadi bagian dari album perdana Kabar Dari Hutan yang rilis 2014 lalu. (AL)

Senin, 25 Januari 2016

Lemarikota Memperkenalkan LK Gigs Sebagai Subdivisi

Setelah kami berhasil mendirikan netlabel Lemarikota Records pada akhir 2011 silam, sebagai bagian dari Lemarikota Webzine. Kini kami ingin memperkenalkan sub-divisi baru yakni LK Gigs, yang bertujuan mengorganisir gigs dan juga merekamnya menjadi sebuah live session yang akan kami tayangkan secara tunda melalui kanal youtube.

Bekerjasama dengan kawan-kawan dari Lingkar Kolektif (sebelumnya dikenal dengan nama Kolektif Dhuafa. Red), secara berkala kami akan mengorganisir gigs dengan berbagai band multi-genre, khususnya hardcore/punk. Tujuan dari LK Gigs tidak lain untuk menampilkan lalu merekam jejak band-band yang ada di skena lokal dan menjadikannya sebagai sebuah pendokumentasian sejarah. Dengan disadari dari minimnya pendokumentasian yang ada, maka dengan usaha yang sederhana ini kami mencoba untuk memperkaya arsip musik Indonesia.

Kami meminimalisir keberadaan pihak sponsorship dalam pelaksanaan LK Gigs, maka dari itu kami akan menjual merchandise sebagai bentuk benefit yang mana hasil penjualannya akan digunakan untuk mendukung kegiatan ini. LK Gigs sendiri akan dimulai untuk pertama kalinya pada akhir Februari 2016 mendatang, untuk informasi lebih lanjut akan segera diberitahukan melalui website dan sosial media Lemarikota. (JJ)

Rabu, 20 Januari 2016

AK//47: Bangun Tidur, Fenomena Blackened, dan Masa Depan

Lama tak terdengar, setelah memutuskan hiatus pada 2008 silam. Unit veteran grindcore asal Semarang, AK//47 mendadak aktif kembali. Tidak hanya sekedar bangun dari tidur, mereka juga menggelar rangkaian tur 13 Kota pada Desember 2015 kemarin. Tidak hanya itu AK//47 yang kini diperkuat oleh Novelino Adam (bass, vokal), Yogi Ario (drum), dan Garna Raditya (gitar, vokal) sedang disibukan oleh penggarapan album ketiga.

Mereka juga baru saja menyelesaikan produksi video klip untuk lagu "Ignorant Middle Class" dengan bantuan kawan-kawan dari Semarang On Fire dan LOL Production. "Video tersebut akan dirilis bersamaan dengan album," tutur mereka.

Beruntung sekali Lemarikota berkesempatan untuk mewawancarai AK//47 disela-sela kesibukan mereka memproduksi album, bekerja, dan mengurusi Vitus Records Store. (AL)

Kalian kembali aktif tahun 2015 lalu. Apa yang membuat kalian pada akhirnya memutuskan untuk kembali berjalan ? Dan, pertimbangan apa saja yang muncul ketika itu ?
Materi album baru sudah kami kerjakan sejak awal tahun 2014. Sebelum kami main lagi, kami banyak latihan dan memulai untuk membiasakan menjaga stamina di panggung. Kami tidak berekspetasi apa-apa jika kami kembali, kami hanya ingin bersenang-senang, meletupkan energi yang terpendam. Lalu pada bulan Maret 2015, Rifqi (Moiss) ingin kami tampil lagi sekaligus mendampingi Vrosk, Matiasu, Kaitzr saat mereka tur ke Semarang. Mengejutkan, energi di panggung maupun audiens memberi isyarat bahwa kami telah kembali. Sepertinya, "Asu...kemana aja kita ini. Kita melewatkan banyak kesenangan selama beberapa tahun." Seperti itulah. (tertawa)

Ternyata Tempat Seperti Ini Bisa Juga Dipakai Untuk Gigs

924 Gilman. Sumber: Google
Sekarang apa yang akan kita bahas di sini ? Tutorial mengorganisir gigs yang baik dan benar, kah ? Oh tidak. Kalau kalian mengharapkan itu, silakan cari saja fanzine lawas asal Bandung yang pernah ditulis oleh Ari Ernesto (Domestik Doktrin/Hark It's Crawling Tar Tar). Atau aturan beretika yang baik ketika di gigs ? Tidak! Saya tidak akan menulis hal konyol itu, biarlah menjadi porsi orang lain.

Kalian yang sedang dirundung masalah krisis venue sementara hasrat mengorganisir gigs tak bisa terbendung atau sedang jengah dengan konsep gigs yang begitu-begitu saja: di cafe, bar, GOR, atau hall serba guna. Beberapa gigs ini bisa menjadi acuan mengobati kejenuhan ataupun sebagai alternatif kalian dalam menyelenggarakan gigs. Dan itulah yang saya akan bahas.

Jadi mari kita mulai. (AL)

Selasa, 19 Januari 2016

Take Rilis 'Hide' Menjelang Debut Album

Duo pasutri Tirta (gitar, drum, vokal latar) dan Keke (bass, vokal) yang tergabung sebagai duo pop punk, Take. Akan merilis debut mini album bertajuk A Storyline di bawah bendera Rizkan Records pada akhir Januari mendatang.

Namun sebagai bentuk perkenalan, mereka lebih dulu merilis sebuah single berjudul "Hide". Single tersebut bisa didengar ataupun diunduh bebas melalui akun resmi bandcamp mereka.

Bernuansa pop-punk/indie-pop dengan sound yang crunchy, drum beat yang enerjik, dan karakter vokal manis namun pada satu sisi terdengar seperti tipikal vokal riot grrrl yang membara. "Hide" bercerita tentang karakteristik yang terdapat pada setiap orang. "Yang rumit/sulit mereka sadari namun tetap tersembunyi di dalam diri," ujar Tirta.

Direkomendasikan untuk para penggemar The Evens, Lemuria, RVIVR, Martha, dan band sejenis. (AL)

Tujuh Tahun Tertidur, AK//47 Kembali Menggerinda

Kabar bahagia datang dari veteran grindcore Semarang, AK//47. Pasalnya setelah memutuskan untuk hiatus pada 2008 silam, kini mereka bersiap untuk menggerinda telinga para pecinta grindcore tanah air kembali.

Band yang digawangi oleh Garna Raditya (gitar, vokal), Novelino Adam (bass, vokal), dan Yogi Ario (drum) ini, sedang mempersiapkan album ketiga bertajuk Verba Volant, Scripta Manent yang rencananya akan rilis Februari mendatang. "(album tersebut) merupakan bahasa latin, artinya 'Yang Sekadar Terucap Akan Hilang, Yang Tertulis Akan Abadi'," ujar Garna Raditya kepada Lemarikota pada Senin (18/01).

Terdapat 13 lagu, yang menurut Garna, didedikasikan kepada pergerakan literasi untuk menggerus pembodohan dan ignoransi. Saat ini mereka sedang merampungkan sebuah video klip untuk lagu "Ignorant Middle Class" dengan bantuan tim dari Semarang On Fire dan LOL Production. "Video tersebut akan dirilis bersamaan dengan album."

Sebelumnya band bentukan tahun 1999 tersebut, baru saja menyelesaikan rangkaian tur 13 kota akhir tahun 2015 kemarin. Sejauh ini pula, mereka telah menghasilkan dua album pendek Tidak Setuju pada 2003 dan album penuh Barricades Close The Street, But Open The Way pada 2006, serta beberapa proyek kompilasi dan split album. (AL)



Senin, 18 Januari 2016

Alasan Efek Rumah Kaca Gratiskan Sinestesia

Source by google
Setelah puasa album selama tujuh tahun lamanya, Efek Rumah Kaca, akhirnya merilis album ketiga pada akhir 18 Desember 2015. Album bertajuk Sinestesia tersebut dirilis dengan format digital melalui platform iTunes. Hanya butuh waktu beberapa jam saja untuk album tersebut bercokol menjadi top album. Tiga hari setelahnya giliran versi fisik Sinestesia yang rilis.

Namun belum genap satu bulan album tersebut rilis, trio pop minimalis asal Jakarta ini lantas menggratiskan Sinestesia. Album tersebut sudah bisa diunduh bebas pertanggal 9 Januari 2016 melalui efekrumahkaca.net.

Ternyata langkah tersebut dilakukan untuk mengikuti dua album terdahulu yakni Efek Rumah Kaca dan Kamar Gelap yang juga mereka gratiskan begitu saja. "Sama persis dengan alasan ketika kami menggratiskan album-album sebelumnya," ujar pihak Efek Rumah Kaca, dua hari setelah Konser Sinestesia berlangsung.

Pada 2013 silam, Cholil Mahmud (vokal/gitar) mengabarkan bahwa tidak ada lagi karya mereka yang tidak legal. Menandakan bahwa semua album Efek Rumah Kaca termasuk proyek ERK RMX dan Daur Baur ikut dibebas unduhkan. Langkah tersebut dilakukan lantaran, menurut Cholil, musik adalah bagian dari ilmu pengetahuan dan kehadiran internet itu sangat membawa manfaat bagi dirinya pribadi dengan bertebarannya ilmu pengetahuan didalamnya, maka menggratiskan karya ERK adalah membalas atas segala ilmu pengetahuan yang sudah diberikan oleh internet dan society-nya.

Hal senada juga diungkapkan oleh Adrian Yunan (bass), menurutnya, hal tersebut merupakan bentuk balas jasa. “Selama ini, kami sudah banyak di untungkan dengan berbagai referensi musik yang didapatkan secara gratis melalui internet. Bila membuka file-file lagu di komputer saya, bisa dibilang sekitar 10% adalah karya musisi dalam negeri yang saya dapatkan dengan membeli CD-nya, sedangkan 90%-nya adalah karya-karya musisi dalam dan luar Indonesia yang saya dapatkan gratis melaluli internet. Rasanya, presentase ini cukup signifikan mempengaruhi wawasan musik saya, termasuk yang tertuang pada musik Efek Rumah Kaca."

Alasan utama Efek Rumah Kaca memproduksi karya, menurut Adrian, dikarenakan bagaimana karya mereka bisa diakses oleh masyarakat luas. Tanpa bantuan Industri main stream di Indonesia lebih sulit rasanya untuk menjangkau masyarakat dengan media promo yang sudah mapan. Internet lantas menjadi solusinya, sehingga ia dan bandnya bisa membuka akses seluas-luasnya dalam dan luar negeri. "Orang lain pun pantas mendapatkan lagu kami secara gratis terlebih dahulu karena mereka bisa menyimak lebih dahulu sebelum memastikan suka atau tidaknya. Bila pada akhirnya mereka mau mengunduhnya dengan berdonasi, membeli rekaman fisiknya, atau mengundang kami untuk manggung, itu adalah bonusnya,” tandasnya seperti yang dikutip dari website resmi mereka. (AL)

Download album Sinestesia dari Efek Rumah Kaca, di sini.

Minggu, 17 Januari 2016

#youshouldknow | taRRkam: Kampung, Minim Aturan, dan Tanpa Kelas

Geliat skena hardcore/punk di Indonesia, khususnya Jakarta nyaris tak pernah sepi dalam beberapa tahun terakhir. Selalu ada nafas baru yang menderu di dalamnya. Entah yang hanya sekedar mengajak bernostalgia, menawarkan sound baru, ataupun hanya "numpang lewat". Lantas bagaimana dengan band asal Jakarta satu ini ? taRRkam namanya.

Dimulai dari obrolan antara Ape (vokal) dengan Epan (gitar) seputar band favorit di sebuah gigs, yang ternyata keduanya menemukan kecocokan. Ape lantas mengusulkan untuk membuat sebuah band bersama Epan dengan mengajak Haryo (bass) dan Bagas (drum). "Yang emang sudah temenan lama sama saya. Bisa dibilang ini memang band tongkrongan," ujar Ape.

Dari situlah kemudian terbentuknya taRRkam sebagai sebuah band. Yang Ape akui, dibentuk lantaran kualitas vokalnya tidak sebagus Glenn Fredly. "Makanya saya bikin band punk," celetuknya. Lain dengan Epan yang menganggap terbentuknya taRRkam sebagai sebuah suratan takdir yang harus ditempuh demi kesehatan jiwa juga raganya. Sementara Haryo yang sebelumnya mengikuti les gitar merasa sayang apabila ilmunya tidak dipraktikan, walaupun pada kenyataannya ia menjadi pemain bass di band ini. Di antara mereka mungkin yang paling sederhana ialah Bagas, tidak ada alasan khusus kenapa ia bergabung dengan taRRkam selain hanya ingin bermain musik.

Sabtu, 16 Januari 2016

#review | Fatrace "Don't Tell Your Mom, I'm Fat", Tape Cassette (Radrace Records, 2016)

Sebuah grup pop-punk asal Cikini, merilis sebuah EP bertajuk, Don’t Tell Your Mom, I’m Fat pada hari Sabtu (16/1) ini. Band yang dibentuk pada Agustus 2015 ini di gawangi oleh, Dito (bass & vokal), Farhan (gitar & vokal) dan Egi (drum). Setelah menggodok materi sejak 4 bulan yang lalu, 4 lagu yang mereka rekam ini dirilis dalam format kaset oleh label mereka sendiri yakni, Radrace Records.

Salah satu lagu mereka berjudul, “2015, Starter Pack” telah dirilis Desember 2015 lalu. 4 lagu yang terdapat didalam nya lebih berbicara kepada situasi yang mereka alami sendiri. Seperti lagu, “Soyeon is a Punk” adalah sebuah hasil dari fantasi Farhan ketika membayagkan seorang Soyeon adalah seorang punkrock girl. Sedikit sentuhan pop-punk awal 90-an terasa di lagu ini. Berbeda dengan itu, sebuah track hasil curahan tentang wanita dalam kehidupan nyata pun tak luput untuk mereka tulis. Hal itu terasa di track, “Jenny, How Are You Today ?” kita akan merasakan alunan yang berbeda dari lagu sebelumnya.

Selain itu, Fatrace memiliki satu track yang berjudul, “My Friends Join The Stranger” adalah sebuah curahan cemas yang dirasakan ketika beberapa teman memasuki ranah keanehan dan berubah drastis dari kebiasaan sebelumnya. Jika dibandingkan dengan 3 lagu lainnya, track ini memiliki lirik dengan tingkat keseriusan yang tinggi.

Bagi kalian yang mulai penasaran akan EP ini, kalian bisa langsung menghubungi mereka untuk mendapatkan kasetnya. (Pratama)

Atas Nama Api Dari Langit Utara, Crutches Menghantam Kembali Jakarta

Untuk kedua kalinya unit D-beat/Crust Tsunami dari kota malmo Sweden, Crutches menyambangi Jakarta, dalam rangkaian South East Asia Tour yang bertajuk Fire From The Northen Sky, mereka datang ke 12 kota dalam 3 negara berbeda, Jakarta adalah kota ke 10 setelah hari sebelumnya mereka menuntaskan gigs di Rumah Pirata Bandung.

Di Jakarta gigs diselenggarakan di Kampus Moestopo Senayan pada hari minggu 3 januari 2016. Pukul 19.30 Rundown bergulir, gigs dibuka dengan penampilan Ratpack, unit D-beat hardcore pendatang baru, setelah ratpack menyapu habis setlist mereka, giliran band kedua Zudas Krust, band raw hardcore punk inferno yang di motori oleh Anugerah Esa selaku bos rekot Doombringer records yang menghandle tour Crutches Chapter Jakarta, Trio ini benar benar memanaskan atmosfir malam itu. Selanjutnya The Roof, Jakarta punx menghajar pit dengan track track liar mereka.

Akhirnya Oskar, Andreas, Tom & Daniel memulai set mereka, dengan beberapa track dari album Lurad dan album FörlOrAD, pit berubah panas, beberapa mangel-punx terjun ke pit, hampir 11 track mereka muntahkan. Meskipun sound sederhana dengan ampli vocal yang di direct ke ampli bass, crutches tidak kehilangan ke agresifannya. Yang menarik mereka benar benar mabuk malam itu, Oskar sang vokalis menenteng botol aqua 1 liter yang di isi full intisari atau mereka lebih senang menyebutnya Black Wine.

Setelah Crutches menyelesaikan setlist, giliran band ke empat, Heuristik Unit Hardcore Raw Distort Punx dengan sound Distrort Disclose mereka berbagi noise khas Kawakami dengan penonton, Setelah itu Band Veteran D-beat Punk Jakarta Total Conflict adalah band terakhir yang akhirnya menutup gigs malam itu. (Hdrkadns)

#youshouldknow | Meracau: Kegilaan Bernostalgia Dengan Hardcore 80's

Kesepakatan empat orang untuk membentuk sebuah band dalam meciptakan suatu penyegaran dalam bermusik akhirnya terbuahkan. Didasari atas kekendoran jadwal latihan, main, sampai lamanya proses perilisan album dari band asli masing-masing personilnya, yaitu Abi (Losershead), Riki (Losershead), Nyobi (Just For Today) dan Demes (Just For Today). Kesibukan personil dari masing-masing band sebelumnya itu membuat Abi (Vocal), Nyobi (Gitar), Riki (Drum) dan Demes (Bass) sepakat untuk membuat band baru yang diyakini bisa produktif untuk terus menciptakan karya baru tanpa batasan waktu. Hal ini dilakukan demi hasrat untuk menuangkan eksplorisasi mereka dalam bermusik yang belum tersalurkan.

Nama Meracau diambil dari kata racau yang bermakna mengigau atau sedang kacau selayaknya orang yang mabuk, dengan maksud ingin membuat pendengar masuk kedalam atmosfer cheotic dalam penyajian karya dan penampilan aksi panggung mereka.

Genre yang dipilih merupakan keinginan untuk mencoba mengangkat kembali Hardcore di era 80s, menumbuk menjadi satu mulai dari Minor treat, Black Flag, Bad Brain, dan Ramones. konsep lirik dari karya yang sedang digarap mereka saat ini di tulis dari kegelisahan yang timbul di keseharian mereka, dibawakan dengan gaya kritis menyindir dan teresan sedikit slengean. (Demes Febrian)