Minggu, 21 Februari 2016

Free Streaming: rekah - Untuk Seorang Gadis yang Selalu Memakai Malam (Debut Single)

rekah datang dari Jakarta, mereka memainkan skramz dengan nuansa yang blackened dan dibalut lirik yang puitis. Kontemplatif juga sih. Soalnya pas dengerin musik mereka, langsung teringat sesuatu gitu. Anyway, ini proyek terbarunya salah satu personil dari Amuk Redam -band skramz asal Jakarta juga. Mereka juga masuk dalam kompilasi Revolution Autumn #2, ituloh kompilasi yang fokus untuk memetakan scene emo di Indonesia. Banyak band keren di sana, cari dan beli deh fisiknya. Tapi jangan lupa untuk dengerin rekah dulu, cek tautan di bawah ini. (Roy)

Free Streaming: OATH - Saksi Bisu Kesakitan / Terbekam (New Single)

Kuartet sludge/crust asal Bandung, OATH, rilis single terbaru mereka. Silahkan dengar langsung di bawah ini. Untuk para penikmat EyeHateGod, Noothgrush, dan Corrupted.

Sebagai informasi tambahan, vokalis mereka (Hera) sedang menggarap film dokumenter seputar aktifitas perempuan di scene punk loh. Baca interviewnya di sini: Ini Scene Kami Juga!.(AL)

Trio Pop Punk Fiv Card Miracle Bawakan Tembang Dangdut

Band pop punk asal Depok, Fiv Card Miracle yang kini telah menjadi trio setelah hengkangnya bassis dan drumer mereka beberapa waktu yang lalu. Menayangkan sebuah video yang tidak biasa, mereka mengcover sebuah tembang dangdut milik penyanyi Ikke Nurjanah berjudul "Selalu Milikmu".

Dalam video tersebut FCM yang kini digawangi oleh Gmux (gitar), Aray (vokal), dan Icad (gitar) bersama dua orang bassis dan drummer tambahan membawakannya dengan cara mereka namun tidak menghilangkan unsur dangdut secara keseluruhan. Walaupun vokalis Aray tidak bercengkok ria layaknya para biduan dangdut pada umumnya, namun FCM membuktikan bahwa band punk bisa mengcover lagu apapun. "Siapa bilang anak punk gabisa cover lagu dangdut. Cek nih," tulis mereka pada fanpage Facebook FCM.

Tonton deh video mereka di bawah ini. (Akim)

Sabtu, 20 Februari 2016

Minim Kesadaran Untuk Menjaga, Twice Bar Milik JRX SID Tutup

Ada kabar kurang menyenangkan datang dari Bali, selain tentunya kasus Reklamasi Teluk Benoa yang semakin meradang, juga tersiar kabar bahwa Twice Bar resmi tutup pertanggal 17 Februari 2016. Bar milik JRX drumer Superman is Dead tersebut tutup lantaran, menurut sang pemilik, karena minimnya dukungan dari segelintir orang yang berkunjung ke sana. "Masih banyak yang beli minuman di luar bar. Masih banyak yang hanya menuh-menuhin bar tanpa mau berkontribusi," ujar JRX.

Lanjutnya, masih ada pula pengunjung yang beli minuman dari luar namun mabuknya di Twice Bar. Selain itu maraknya minimarket di sekitar tempat dan juga intervensi pihak kepolisian juga menjadi kendala di tutupnya Twice Bar. "We tried everything, mencoba memakai tiket dan melarang orang membawa minuman dari luar. Namun tidak ada efeknya," keluhnya.

JRX mengaku bahwa Twice Bar didirikan atas passion untuk memberikan taman bermain bagi tumbuh kembangnya band bawah tanah yang ada di Bali. Namun menurutnya, hal tersebut tidak disertai dukungan yang layak. "Dan passion tanpa support adalah passion yang pincang. Ketika kepincangan terjadi berkali kali dan ia tak kunjung menunjukkan tendensi positif. Maka hanya ada satu jalan keluar dari lingkaran ini, its time to say good bye. Thanx for all the good times and, obviously, the bad!" tandasnya.

Twice Bar adalah salah satu tempat yang intens mengadakan pertunjukan musik bagi band-band bawah tanah di Bali juga Luar Bali. Berbagai band dengan latar belakang musik pernah main di sana, di antaranya Real Project, Kontradiksi, Ugly Bastard, Devildice, Dialog Dini Hari, Error Brain, Navicula, Bigger Boss Sound (Polandia), Mom's Day (Jerman), dan masih banyak lagi band lokal ataupun internasional lainnya yang pernah merasakan atmosfir di sana. (Roy)

=================================================================

Opini nyelip:
Sebenarnya ini bukan masalah apa tempatnya, tapi bagaimana kita menjaga tempat tersebut, apapun tempatnya, entah itu bar/cafe, GOR, ballroom, apalagi studio music. Perlu diakui bahwa hal yang terjadi pada Twice Bar, juga pernah dialami oleh berbagai teman dari belahan kota manapun di Indonesia. Yang terdekat mungkin isu ditutupnya Rossi Music Fatmawati oleh pihak kepolisian setempat, lantaran pemicunya keributan hingga menelan korban jiwa di salah satu konser musik yang ada di Jakarta Selatan. Sehingga Rossi yang terdaftar dalam wilayah tersebut juga ikut terkena imbasnya. Beruntungnya kini Rossi sudah mulai beroperasi kembali.

Sementara itu pula, tak sedikit tempat pertunjukan yang harus ditutup karena ulah kita sendiri. Yang pada akhirnya merugikan berbagai pihak yang berada dalam sebuah susunan acara: panitia, band, dan penonton yang benar-benar datang ingin menikmati musik. Ini masalah klasik yang tak pernah berakhir sepertinya. Tapi jika kita tidak benar-benar sadar untuk merubah mental ketika berada dalam sebuah acara, membeli tiket, menjaga harmonisasi diantara yang lain, dan tidak menimbulkan keributan. Akan tidak mungkin bahwa semakin sulit untuk kita mendapatkan tempat guna menumpahkan seluruh ekspresi yang ada. Kalau begitu jangan berharap membangun community space layaknya Rumah Api atau Rumah Pirata deh.

Atau kita harus memelas iba pada pemerintah untuk menyediakan tempat pertunjukan untuk komunitas ini ? Musik kita terlalu keras untuk memelas. Mereka-pun sepertinya sibuk dengan hitung-hitungan upeti dari kantong para investor. Jangan berharap. Maka yang bisa kita lakukan adalah memaksimalkan yang ada dan menjaganya. (AL)

Jumat, 19 Februari 2016

Sounds of Bitch Vol.01 by Codename A of Wreck

Satu waktu salah seorang kawan dari Lemarikota Webzine mengontak dan memintaku untuk membuat sebuah playlist untuk konten Sound of Bitch yang menurutku asik. Jujur saja, aku sedikit kebingungan karena begitu banyak lagu yang bagiku menarik dan tentu saja enak untukku sendiri. Terlebih aku menemukan begitu banyak band-band yang ‘canggih’ dan membantuku untuk mulai tak bermalas-malasan mencari referensi-referensi baru yang menyegarkan. Walaupun pada kenyataannya lagu yang aku pilih adalah lagu-lagu lama yang mungkin adalah favorit bagi beberapa orang.

Akhirnya dengan mantap aku putuskan 10 lagu favorit yang dalam beberapa bulan terakhir ini selalu ada dalam daftar lagu yang selalu kuputar semenjak aku tinggal di Ibukota. Niat awalnya aku ingin menjelaskan kenapa 10 lagu ini yang aku pilih, tapi setelah dipikir-pikir aku malah takut jika aku malah meracau tak jelas dan berbelit-belit. Jadi kuputuskan tak perlu diberi tulisan segala. Selamat mendengarkan! (Codename A)

Disdain Bebas Dengarkan Debut Album "In Ordinary"

Unit screamo/post-hardcore asal Depok, Disdain pada 14 Februari 2015 lalu merilis debut album bertajuk In Ordinary melalui Optical Records -label independen milik sang bassis Fikri. Itu tandanya sudah setahun lebih sejak debut album yang dirilis dalam format kaset pita dan cakram padat tersebut beredar.

Bertepatan dengan setahun rilisnya debut album milik band yang digawangi oleh Fajar Muharram (gitar), Fikry S. Firmansyah (bass), Hafidz Faze (vokal), Lutvy Zulhram (gitar), dan Kamal Pasha (drum). Mereka merilis kembali dalam bentuk digital melalui akun resmi di bandcamp. Berisikan lima buah track yang melodius dan emosional. Jika kalian menyukai La Dispute, Pianos Become The Teeth, Suis La Lune, dan band sejenis lainnya. Silakan coba dengarkan mereka, jika kalian tertarik silahkan untuk membeli rilisan fisiknya juga.

Dalam akun bandcamp tersebut, Disdain tidak hanya menggratis dengarkan debut album saja. Terdapat pula satu track berjudul "Such As Gold", yang mana lagu tersebut terdapat juga dalam album kompilasi Not So Quiet On The Starfruitcity yang dirilis via netlabel Lemarikota Records pada Maret 2015 lalu. (Akim)

**Foto diambil dari Disdain Fanpage

Vakum Tiga Tahun, Unit Hardcore Yogyakarta Throughout Siapkan Album Baru

Pada 2012 lalu Throughout merilis mini album bertajuk Step Ahead Into the Real World dibawah label Samstrong Records. Kemudian setahun kemudian, tepatnya Maret 2013, mereka kembali merilis album split dengan Challenge -band asal Portugal, masih melalui label yang sama. Setelah itu mereka tiba-tiba hilang tak tentu rimba dan album split tersebut adalah karya terakhir dari band bervokaliskan perempuan ini.

Setelah tiga tahun menghilang dari scene hardcore lokal, Samstrong Records selaku label yang menaungi mereka mengabarkan bahwa Throughout akan kembali dengan album ke dua. Aditya si empunya Samstrong Records menuturkan bahwa dirinya sangat bersemangat untuk bekerjasama dengan mereka setelah sekian lama.

Lanjutnya lagi, "Mereka mengalami masa sulit atas kepergian vokalis Astrida ke luar pulau untuk bekerja, Saya masih melihat passion dan spirit mereka dalam band dan Mengharapkan sesuatu yang berbeda dari album sebelumnya."

Throughout terbentuk sekitar tahun 2004 oleh Sidharta, dan saat ini beranggotakan Rika Fadhila (Vokal), Julianus Ferry (Gitar), Rio Catur
(Drum), Yusron (Bass), dan Sidharta (Gitar). Throughout dikenal memiliki riff yang merdu dengan part modern oldschool hardcore sejak kemunculan pertamanya, Performa panggung mereka terlihat sangat emosional, Mereka juga ikut meraimaikan kancah gigs Hardcore Punk di Yogyakarta dan Jawa serta melakukan tur Jabotabek dan Jawa Timur bersama Knockdown dan Reason to die awal tahun 2012, Bersiaplah untuk menantikan album baru mereka. (Akim)

Ini Scene Kami Juga!: Sebuah Film Tentang Perempuan Punk

Pertama kali mendengar bahwa akan ada sebuah film dokumenter tentang scene hardcore punk Indonesia, membuat gua penasaran. Selain memang film dokumenter adalah sesuatu yang masih asing di scene lokal, ditambah lagi film tersebut ternyata fokus ke aktifitas para perempuan. Dua hal yang langsung membuat gua semakin menggila. Pun gua pikir sudah bukan saatnya lagi scene ini terperangah kagum ketika melihat American Hardcore, The Punk Singer, The Other F Word, atau yang sedang panasnya The Other Option, dan seabrek film lainnya yang mengekspos scene punk di luar sana. Scene ini butuh pendokumentasian yang solid juga. Dan gua pikir langkah Hera Mary untuk membuat Ini Scene Kami Juga! cukup tepat, walaupun ia mengakui dikerjakan dengan kemampuan yang serba terbatas, namun itu bukan masalah yang besar. Terpenting adalah semangat untuk melakukannya terlebih dahulu.

Beruntungnya Lemarikota berkesempatan untuk ngobrol dengan Hera yang berdomisili di Bandung seputar film garapannya dan ide dibelakangnya. (AL)


Kamis, 18 Februari 2016

Kuartet Post Metal Cipanas Ensena Rilis Single 'Instrumental'

Datang dari Cipanas, kuartet post-metal/hardcore punk Ensena melepas single baru berjudul "Instrumental". Lagu sepanjang 30 menit lebih tersebut mereka lepas melalui akun official soundcloud pada Rabu (17/2) kemarin.

Menurut bassis Randy Pradana, lagu tersebut buah dari kejenuhan mereka dalam pembuatan musik. "Mungkin terdengar aneh, namun part yang kami mainkan di album dengan durasi sekitar 39 menit ini. Tercipta dengan sangat alami," lanjutnya.

Randy juga mengatakan kalau sebenarnya "Intrumental" adalah bagian dari wacana album ke dua mereka, yang sudah dipersiapkan sejak 2014 lalu namun sayangnya mengalami berbagai kendala hingga menuai keterlambatan. "Dan kami sepakat untuk membagikan secara gratis. Segratis melihat indahnya pemandangan elok Gede-Pangrango ketika terbangun di pagi hari," tandasnya. (Roy)





**Foto oleh Holding On

Rabu, 17 Februari 2016

Dead Vertical Segera Rilis Album Kempat

Gebrakan yang signifikan dan progress di Album ke - 4 dari trio DeadVertical ini membuktikan bahwa band ini memang suatu band Grindcore yang mempunyai ciri musikalitas tersendiri yang membedakan dengan band-band ekstrim lainnya.

Hantaman atmosfir depresif, kemarahan, kekecewaannamun tetap dibalut optimisme dengan lirik yang puitis berkarakter kuat tentang kehidupan, pergaulan, rumah tangga, dan pengkhianatan semua tertuang dalam album Angkasa Misteri ini. Kualitas sound dan style musik yang makin mantab serta easy listening di album ini siap menghajartelinga para Grinder dan metalhead, wait this.

Album terbaru trio asal Jakarta Timur ini akan dirilis pada 1 Maret mendatang di Joglo Beer Jakarta Selatan. Turut pula dimeriahkan oleh Arkenstoned dan Siksa Kubur. Berisikan 11 lagu, album ini siap menggerinda telinga kalian. (Akim)

Selasa, 16 Februari 2016

Pentolan The Milo dan Ex-Cherry Bombshell Bikin Album Bareng

Anoa Records berencana untuk merilis enam buah lagu milik Silverglaze yang belum pernah terpublikasikan sejak direkam pada tahun 2000-an. Enam lagu tersebut nantinya akan di rilis pada akhir Februari dengan tajuk Essays EP dalam format cakram padat. Sebelumnya pada awal Desember 2015 kemarin, single "We Can Do It Now Together" dilepas ke umum.

Silverglaze digawangi oleh nama-nama yang sudah tidak asing lagi bagi skena indie, khususnya di Bandung seperti Ajie Gergaji (Cherry Bombshell, Themilo), Widi (Cherry Bombshell,Lass) dan Ajo (Cherry Bombshell, Puppen), terbentuk pada sekitaran tahun 2000. Sayangnya dari sejak kemunculannya dalam skena indie lokal, band ini belum sekalipun melakukan pertunjukan langsung.

Dapat dikatakan pula berkumpulnya tiga nama dalam band ini sebagai reuni, sebab mereka pernah sama-sama berada dalam Cherry Bombshell untuk album Waktu Hijau Dulu dan Luka Yang Dalam. Terlebih lagi untuk Widi dan Ajo yang sempat memutuskan untuk berhenti bermusik karena alasan berkeluarga.

Sebagai bentuk promo Essays EP, Anoa Records sebagai label yang akan menanguni Silverglaze akan mengadakan bundling t-shirt dan CD yang dilegalisir langsung oleh para personil. Juga, pada Maret mendatang akan diadakan listening session untuk mini album tersebut dengan dihadiri oleh seluruh personil di Kineruku Bandung. (AL)

#youshouldknow | Insomnoise: Kuartet Shoegaze Dari Jakarta

Insomnoise adalah band yang terbentuk di kota metropolitan tepatnya Jakarta, Indonesia dan mengusung genre Shoegaze, genre yang telah merambah permusikan dunia sejak tahun 80-90an. Dankini Jakarta telah menelurkan sebuah project shoegaze yang menetaspada akhir 2014 lalu, terinfluence dari My Bloody Valentine, Slowdive, Dan band band pengusung genre alt rock lainnya.

Tepat pada bulan februari 2016 ini, mereka telah menyelesaikansingle pertama yang bertitle "100 Days" dengan durasi 04:31 dan direkam di suatu Home Recording Chrysocolla Record dengan format Donald Mauls [Vocal], Alwi [Gitar], Ronald [Gitar], dan drum di isi oleh Paul.

Rupanya single pertama ini menjadi pintu gerbang menuju EP album yang akan rilis di pertengahan tahun 2016 dengan title yang sama seperti single pertama ini yaitu "100 Days". Kemungkinan untuk track selanjutnya mereka akan mengisi lineup yang kosong seperi bass.

Senin, 15 Februari 2016

Mari Bagi Cerita Lo Di Noizetalgia

Kemarin secara sengaja, gua kembali membaca koleksi zine yang ada, khususnya zine-zine hardcore punk yang eksis sekitar tahun 2007 hingga sekitar 2010-an. Ada satu hal yang membuat gua merasakan kerinduan dengan zine format cetak tersebut yakni kolom essay. Di mana dalam kolom tersebut kadang berisi tulisan-tulisan personal dan semi-personal entah dari sang pembuat zine ataupun kontributor yang menulisnya. Mulai dari yang isinya berbobot sampai yang sampah sekalipun, namun dari semuanya tetap ada yang bisa dipetik, yang lebih pentinynya lagi adalah proses saling berbaginya itu yang mengasyikan. Masalah isinya berbobot atau tidak sebenarnya sangat relatif sekali.

Kemudian merangsang gua untuk membuat zine cetak kembali, sayangnya untuk saat ini gua tidak punya energi dan keuangan yang cukup. Membuat zine cetak itu benar-benar butuh perjuangan, dari proses pengumpulan data, produksi, hingga pasca produksinya. Pun juga harus ditunjang dengan finansial yang oke, sebab ada biaya produksi seperti print atau fotocopy di prosesnya tersebut.

Setelah menjalankan Lemarikota sekian tahun, gua semakin menyadari ada sisi yang hilang yakni personalnya itu sendiri. Maka dari itu untuk kembali menghadirkan sisi personal dari menjalankan sebuah zine (meskipun kini formatnya webzine). Gua membuat satu konten bernama Noizetalgia, di mana isinya adalah tulisan personal tentang segala bentuk kenangan yang pernah terjadi dalam hidup kita. Entah kenangan akan sebuah momen ataupun terhadap benda. Selain untuk mengobati kerinduan gua terhadap format zine cetak, gua ingin kembali menumbuhkan kebiasaan saling berbagi cerita dalam skena ini. Karena gua yakin setiap orang punya cerita yang menarik untuk dibagi. Persetan itu penting atau tidak bagi orang lain, karena seperti gua bilang diatas, hal tersebut relatif sekali. Namun terlepas dari bagaimana cerita tersebut, biasanya akan ada satu hal yang bisa kita petik.


Di Noizetalgia, lo bisa menceritakan ketika datang ke sebuah gigs, membeli sebuah rilisan, mendengarkan band, terjun ke dalam scene untuk pertama kalinya, ribut di gigs, puasa 30 hari untuk nabung beli kaos band luar, datang ke gigs tanpa beli tiket atau jebolan, pertama kali manggung/tour, ataupun hal lain yang masih ada sangkut pautnya dengan musik dan hardcore/punk pada khususnya. Lo gak perlu pintar menulis atau sampai ikut kursus tulis menulis, untuk bisa berbagi cerita di sini. Cukup luapkan apa yang ingin dibagi dan tulis semampu yang lo bisa lalu kirim ke email redaksi di lemarikota_redaksi@yahoo.co.id, subjectnya noizetalgia. Gua tunggu cerita dari lo. (AL)

**Foto diambil dari Bob Gruen[1] dan Jim F.[2]

#noizetalgia | Sebab Kenapa Akhirnya Membeli Kaset DS-13

Sekitar tahun 2007 di Depok, khususnya di SMP gua, sedang demamnya trend punk rock atau sering disebut melodic punk kala itu. Beberapa teman hampir setiap akhir pekan selalu mendatangi gigs yang pada saat itu marak diadakan di Balai Rakayat Depok 2 ataupun Parkit Dejavu. Imbasnya, beberapa teman gua ini akhirnya ada yang membentuk band melodic punk dengan kiblat ke Blink 182, Rocket Rockers, Speak Up, ataupun band-band yang ada di kompilasian Berpacu Dalam Melodik.

Menjadi anak melodic adalah suatu hal yang membanggakan. Apalagi kalau lo seorang cowok, sering ikut basis ribut, dan ditambah selera musik lo melodic punk. Tak bisa dipungkiri hal ini menambah sekian persen aura keren dalam diri setiap orang yang menganutnya ketika itu.

Ketika trend melodic punk ini menjamur di sekolah, gua terbilang yang telat tau. Ketika itu masih asyik dengan debut albumnya Peterpan dan Sheila on 7. Seperti anak remaja ketika itu pada umumnya, gua pun ingin terlihat keren, terutama di mata lawan jenis. Mulailah mendengarkan beberapa band seperti Green Day, Nofx, Mxpx, Not Available, dan untuk lokalnya seorang teman sebangku merekomendasikan gua band-band seperti Stupidity, Konflik, Endank Soekamtie, Kuro, juga Rocket Rockers. Dari teman gua itu pula, akhirnya gua diperkenalkan oleh jenis punk rock dengan muatan lirik yang lebih bernuansa sosial politik seperti Sosial Sosial, Marjinal, Bunga Hitam, dan Silly Riot. Gua pun mulai sering ikut-ikutan datang ke gigs, berharap dapat stiker band yang manggung dan stempel tanda masuk acara yang kemudian hari Seninnya bisa gua pamerkan di kelas.

#youshouldknow | My Secret Identity: Penyegar Scene Indie Pop Kota Hujan

Pernah ada suatu masa dimana scene musik independen Bogor sangat berwarna dan variatif. Masa yang sangat indah bagi saya kala itu yang masih berseragam SMA. Gelaran demi gelaran lokal Bogor disambangi untuk memuaskan dahaga saya akan musik. Saya masih ingat bagaimana dibuat tercengang oleh band-band seperti Douet Mauet’s, The Safari, Her Spring Holiday, Daylight, The Nova, Elora, dan tak terkecuali My Secret Identity. Kehadiran mereka pada pertengahan 2000-an merupakan sebuah anomali di tengah kukungan scene musik Bogor yang hingar bingar oleh musik Metal dan Punk. Saya merasa sangat beruntung bisa menikmati era kejayaan Indie Pop/Indie Rock/Alternatif Bogor saat itu.

Kembali ke masa sekarang, apa yang anda pegang saat ini adalah buah karya dari salah satu eksponen Indie Pop/Indie Rock/Alternatif Bogor era 2000-an, My Secret Identity. Terbentuk pada tahun 2004, My Secret Identity memang bukan band pertama yang memainkan musik Indie Pop di Bogor, mereka tidak pernah wara-wiri secara masif di setiap pagelaran musik, tetapi mereka adalah salah satu penanda keberadaan musik Indie Pop di Bogor, salah satu yang bertahan hingga saat ini walaupun bongkar pasang personil harus dilakukan dan hanya menyisakan Ricky Hendriansyah sang vokalis sebagai satu-satunya member orisinil. Mereka adalah salah satu yang paling siginikan dan tepat untuk menggambarkan bagaimana seharusnya musik Indie Pop dimainkan; muram, hangat, bersahaja, dan naif, hal ini dapat anda dengar pada “Bittersweet and Those In Between”.

Sebagai sebuah album penuh, “Bittersweet and Those In Between” adalah penyegar di tengah ‘kekeringan’ yang melanda scene Indie Pop/Indie Rock/Alternatif Bogor. Corak sound Indie Pop yang mereka suguhkan menyiratkan perasaan lega, bagai sebuah pelukan di tengah rutinitas yang dingin dan mencekik. Dilain waktu, lirik gelap mereka hadirkan tanpa harus terkesan ‘sakit’ dan menjadi ‘pesakitan’, nuansa yang mereka bangun begitu elegan dan tidak murahan. Ada suatu sisi yang tanpa sadar mengingatkan kita akan era 90-an yang romantis dan naïf secara bersamaan, juga bauran akustik teduh dengan vokal lembut sedikit berbisik. Ada banyak perwujudan dalam vokal Ricky yang sedikit muram, terkadang ia bisa dingin juga hangat dalam satu waktu dalam menyampaikan kegelisahannya, pun diperkuat oleh pola aransemen yang sangat mendukung terciptanya hal tersebut. Perasaan sentimentil yang muncul setelah mendengarkan album ini merupakan bonus spesial yang manis untuk dinikmati, istilah “lemesin aja jangan dilawan” mungkin cocok untuk mendeskripsikan perasaan ini. Berisikan 7 lagu baru, 2 lagu lama, dan 1 lagu cover version dari grup chiptune/bitpop Bogor Turbo Blip, “Bittersweet and Those In Between” bagai seorang kawan lama yang datang kembali dan menjadi bijak setelah 11 tahun ditempa pengalaman. Album ini adalah awal baru bagi My Secret Identity untuk terus bertahan dan tak tergerus zaman, untuk sekali lagi menjadi anomali di tengah kukungan rasa bosan.

“Mencoba meng-eksplor sound-sound gitar diluar tradisi sound gitar ciri khas mySecretidentity yang kental dengan ambient, menjadi tantangan tersendiri. Hasilnya cukup menyegarkan, semoga” ujar Ade Pujarama gitaris.

“Karakter yang berusaha dibangun tidak lagi dibalut dengan nuansa yang melulu gloomy, lebih dinamis, utuh. Inginnya penikmat album kami masing-masing punya satu lagu favorit yang berbeda” imbuh Adi Adriadi gitaris.

“Sebagai personil baru otomatis ada pengaruh baru yang saya bawa. Meski demikian, lagu-lagu band ini sangat familiar ditelinga, sehingga dalam waktu yang singkat bisa saya terjemahkan dan nikmati” sedikit menambahkan Billy Irian penabuh drums.

“Lebih dari 3 tahun bukan waktu yang sebentar. Selama proses produksi semangat kami memang naik turun, apalagi masing-masing personil lumayan sibuk, kami sempat pesimis. Sekarang produksi telah selesai dan hasil materi-materi pilihan yang kami masukkan kedalam album menjadikan semuanya sepadan” ujar Indra bassist.

“Selama Ricky masih menjadi vokalis band ini, saya rasa suara apapun yang menjadi musik dalam lagunya, band ini tak akan kehilangan akar. Sangat bersemangat untuk menggarap album-album kami berikutnya. Beberapa lagu baru sudah kita siapkan” ujar Resky, Synthesizer/Keys.

“Album ini ialah manifestasi sebuah perjalanan yang dirintis bersama kawan-kawan terdekat sejak tahun 2004. Sebuah album perdana yang sangat personal nilainya bagi saya. Terlepas dari segala kekurangannya, ada perasaan lega yang menyelimuti. Seperti menemukan kembali mainan kesayangan yang hilang” ujarnya sambil tersenyum Ricky, Vokal/Gitar.

My Secret Identity merupakan band Indie pop asal Bogor yang berdiri pada tahun 2004. Album yang diberi judul “Bittersweet and Those in Between” ini merupakan rangkuman dan rekam jejak dari karya-karya mereka setelah 12 tahun malang melintang di scene musik lokal. Proses perekaman album ini berjalan cukup lama dan memakan waktu 3 tahun lamanya dikarenakan kesibukan masing-masing personelnya, formasi teranyar dari grup ini antara lain: Ade Pujarama (Gitar), Adi Adriadi (Bass), Billy Irian (Drums/Percussions), Indra (Gitar/Bass Gitar), Resky Machyuzar (Synthesizer/Keys), Ricky Herdiansyah (Vokal/Gitar). “Bittersweet And Those In Between” dirilis dalam format kaset pita dan cakram padat oleh Tromagnon Records.(tahu88)

Unit Punk Eksentrik The Kuda Rayakan Album Baru Di Kota Sendiri

Setelah sukses menggelar pesta peluncuran album Satu Aku Sejuta Kalian di Eco Bar Kemang Jakarta pada September 2015 lalu. The Kuda akan melangsungkan pesta rilis album untuk kedua kalinya dengan tajuk Kandang Kandung Kuda di kota mereka sendiri, Bogor. Didukung oleh sebuah kolektif baru dari kota hujan, Kick It! Collective, acara tersebut akan diadakan pada 27 Februari mendatang di RRI Bogor.

Showcase Kandang Kandung Kuda, menurut Kick It! Collective, adalah bentuk sambutan positif atas rilisnya album eksentrik milik The Kuda. "Meski umur album tersebut sudah tidak lagi muda, showcase ini berupaya menjadi pesta penghangat presensi album tersebut," ungkap Indra mewakili Kick It! Collective.

Acara ini tidak dipungut biaya, sebagai gantinya akan dirilis merhandise The Kuda yang sangat khusus dan tentu saja dengan jumlah yang sangat terbatas untuk menambah biaya operasional acara. Acara yang juga akan menampilkan Wreck, Fakk, Bequiet, taRRkam, dan The Draguars ini, nantinya akan disiarkan secara langsung melalaui radio 106.8 Pro 2 FM, Radio Republik Indonesia Bogor.

Band yang beranggotakan Adipati (vokal), Andi ‘Idam’ Fauzi (gitar), Aditya ‘Jamur’ Sutiadi (bass), dan Dhany ‘Ahong’ Rhamdhani (drum) merilis album Satu Aku Sejuta Kalian dengan melibatkan seorang Jimi Multhazam (Bequiet/The Upstairs/Morfem) sebagai produsernya. Pada awal 2016 lalu album tersebut didapuk sebagai salah satu album terbaik 2015 versi majalah Rolling Stone Indonesia. (AL)

**Foto oleh irockumentary.com


Bundlepack The Kuda (T-Shirt, sticker, button)
IDR: 120k

Mekanisme pemesanan:
0822-1373-6704 (sms atau whatsapp)

Open pre-order dimulai dari tanggal 1-20 Februari 2016.

Produksi dimulai tanggal 21-25 Feb 2016
Pengiriman paket dimulai tanggal 26 februari atau dapat diambil di gig Kandang Kandung Kuda.

Pembayaran 100% dari total IDR: 120K
Material kaos Gildan softstyle.

Format pemesanan :
Nama - alamat - jumlah pesanan - ukuran t-shirt (sertakan tanda bukti transfer)
No rek: BCA. AN/ Junaedi 7380494137

Sabtu, 13 Februari 2016

Tragedi Salim Kancil Diangkat Dalam Sebuah Film

Sebuah film dokumenter tentang Salim Kancil pada tanggal 12 Fabruari 2016 tayang pertama kali melalui kanal youtube. Film tersebut menceritakan tentang kejadian pembunuhan dan penganiayaan aktivis anti-tambang pasir, Salim Kancil dan juga Tosan pada September 2015 lalu.

Tragedi Salim Kancil terjadi pada 26 September 2015. Penolakan terhadap praktek tambang pasir liar di desanya, Selok Awar-awar, berujung pada pengeroyokan terhadap Salim dan Tosan oleh orang tak dikenal.

Salim tewas di jalan dekat makam desa setelah dianiaya di Balai Desa. Sedangkan Tosan mengalami luka serius serta sempat dirawat dan menjalani operasi di Rumah Sakit Umum Daerah Saiful Anwar, Kota Malang.

Menurut Kepala Kejaksaan Negeri Surabaya Didik Farkhan, terdapat 36 orang yang sudah ditetapkan menjadi tersangkan atas kasus tersebut. Semua tersangka itu rencananya akan disidangkan di Pengadilan Negeri Surabaya. Jaksa dari Surabaya dilibatkan dalam penyusunan dakwaan menyusul adanya Keputusan Mahkamah Agung, yang menunjuk Pengadilan Negeri Surabaya untuk memeriksa dan memutus kasus tersebut. (Qori)

A-Tseng Fikrey & The Ladies: "Junjung Tinggi Kode Etik Playboy, Segel Rusak Barang Kembali"

A-Tseng Fikrey & The Ladies adalah nama baru untuk dikancah rock tanah air, namun kemunculannya langsung mencuri perhatian massa rock dengan nama band yang eksentrik dan terlebih setelah rilisnya debut album Sasa Bagara Malas Malas (jangan coba membacanya dengan mengganti huruf "A" menjadi "U") pada 2015 lalu. Karakteristik musik yang heavy dan darkness, dipadukan lirik yang vulgar dan kadang melahap ranah sci-fi. Menjadi karakteristik tersendiri bagi band asal Yogyakarta satu ini. Bahkan debut album tersebut mendapat predikat album terbaik versi Warning Magazine tahun lalu.

A-Tseng Fikrey & The Ladies adalah sperma hasil persenggamaan para personil Kultivasi, Rabu, Goorsha, dan MDAE yang dikeluarkan begitu saja tanpa adanya ekspektasi dan tendensi kecuali untuk satu tujuan yakni bersenang-senang. Meski begitu bisa dibilang mereka adalah representasi rock yang flamboyan, apa adanya, dan tipikal band rock lainnya yang nakal. Oh yah, mereka juga punya fantasi yang liar dan mewakili gairah muda mudi yang menggebu.

Berikut adalah hasil obrolan Lemarikota dengan sang vokalis Wednes Mandra. (AL)

Unit Indie Rock Kalimantan Choco Pasta Rilis TAIK

Setelah terhenti sejenak, unit indie rock asal Pontianak, Kalimantan Barat, Choco Pasta kembali berkarya lagi. Meskipun hanya menyisakan dua personil yakni Qnoi (drum) dan Mumu (gitar), setelah sebelumnya ditinggal oleh Alvin (bass) dan Vita (vokal). Namun mereka berhasil kembali masuk studio pada awal 2016 guna menyelesaikan mini album terbaru bertajuk TAIK.

Menurut mereka, kepergian dua personil lainnya menambah tugas lagi, khususnya kekosongan yang terjadi pada bagian vokal. Atas saran dari Qnoi, pada akhirnya Mumu yang dirujuk untuk mengisi kekosongan tersebut.

“Tugasnya nambah lagi. Dari awal, Mumu memang yang nulis semua lagu Choco Pasta dan maen
gitar. Sekarang dia juga yang nyanyi. Karena waktu itu kita memang nggak kepikiran buat nyari vokalis baru,” jelas Qnoi.

TAIK sendiri memiliki kepanjangan The Almost Interesting Kids, yang juga menjadi bagian dari materi album tersebut. Sebuah lagu yang diciptakan oleh Mumu untuk memperolok dirinya yang pernah menerobos lampu merah dan membuang sampah ke sungai.

Mini album TAIK berisi lima buah lagu dengan musik yang ringan dan lirik yang mudah dicerna, yang dirilis dalam format cd oleh PTK Distribution. (Dick Head)

Sabtu, 06 Februari 2016

Febricated: Hajar Batas Skena Sebab Musik Untuk Semua Kalangan

Skat dan ekslusivitas yang terjadi dalam skena telah menjadi rahasia umum, hal tersebut yang lantas ingin dirobohkan oleh sekelompok orang dengan menyajikan satu gigs sebagai mesin penghancurnya. Adalah HOS -sebuah gerakan untuk mengeksplorasi venuw baru bagi para musisi untuk berekspresi, yang berinisiasi menggelar gigs bertajuk Febricated yang berarti bebas membangun sesuatu dengan mengombinasikan berbagai materi.

"Dirasa cocok dengan misi yang diusung HOS," ungkap mereka.

Melalui gigs tersebut, HOS memang ingin menghancurkan batas skena dan ekslusivitas yang selama ini menjadi rahasia umum. Sebab dari itu pada pagelaran Febricated, mereka mengundang para penampil dengan latar belakang musik berbeda. Ada Raincoat yang memainkan hardcore, Marsh Kids dengan Indie rock, Gizpel dengan dream-pop, Avhath dengan blackened-punk, dan beberapa penampil lainnya dengan corak musik yang berbeda.

"HOS sengaja mengundang para penampil yang membawakan berbagai aliran musik. Sehingga event musik dapat kembali kepada kodratnya, yaitu menjadi sebuah perayaan untuk semua kalangan," tambah mereka.

Gigs Febricated akan diselenggarakan pada Sabtu 06 Februari 2015 di Mondo by The Rooftop -sebuah cafe yang terletak dilantai atas Rossi Music Fatmawati. Dengan tiket yang lumayan terjangkau yakni Rp. 35.000,- kalian bisa menyaksikan band-band lintas genre dalam satu waktu. (AL)

p.s. untuk menuju venue, silahkan lewati backdoor dari Rossi Music Fatmawati dan parkirkan kendaraan kalian di parkiran belakang.