Kamis, 14 November 2013

Cerita Tabling Food Not Bombs Chapter Ponorogo

Photo by Rifky doc.
Aktivisme non-music seperti Food Not Bombs (FNB)  ini memang cukup familiar di kalangan penggiat skena hardcore/punk tanah air. Gerakan seperti ini sudah masuk ranah lokal sejak awal 2000-an dan dilakukan hampir dibeberapa kota secara terpisah dan tak tersentralisasi. Siapa saja berhak mengorganisir kampanye FNBnya sendiri. Tidak perlu komando. Tidak perlu persetujuan siapa-siapa.

Seorang teman dari Ponorogo, Rifky namanya, bersama teman-temannya menggelar tabling FNB. Tabling tersebut sudah berjalan sebanyak empat kali. Dan terakhir mereka melakukannya pada bulan Oktober kemarin. (AL)

Mungkin sedikit sejarah tentang FNB chapter Ponorogo ?
Mengenai sejarah tentang FNB Chapter Ponorogo sendiri saya hanya mengingat bahwa awal mulai terbentuk sekitar pertengahan 2012. Kami memulai tabling pertama di bulan Juni 2012. Tak bisa dipungkiri bahwa budaya ikut-ikutan merupakan awal kami memulai itu semua. Namun kami tidak hanya meniru saja, rasa penasaran membuat kami ingin mengorek lebih jauh tentang apa itu makna dari FNB lebih jauh lagi. Sejauh ini sudah 4 kali tabling yang kita buat dan yang paling anyar 13 Oktober 2013 kemarin kembali kami gelar.

Oh yah bisa ceritakan tentang jalannya tabling Food Not Bombs kemarin ?
Untuk jalannya tabling kemarin (13/10) saya rasa berjalan cukup lancar dan mulus, walau banyak dan beranggapan bahwa ini acara amal seperti yang digelar oleh para tim sukses parpol atau lembaga amal lainnya. Yah banyak memang yang menganggap demikian, namun kami coba menjelaskan kepada mereka yang masih bingung dengan apa itu FNB sembari menyebarkan literatur fotokopian tentang makna dan sejarah tentang FNB secara global.

Menu apa saja yang kalian sajikan ? Bisa ceritakan proses produksi dari menu-menu tersebut ?
Untuk menu tabling terakhir kemarin kami menyajikan menu nasi pecel dengan kering tempe serta lauk tempe goreng dan kerupuk bawang. nyam nyam…. Sederhana namun mengena dan kami tidak mau ribet. Untuk menu sendiri kami pilih lebih sederhana dari tabling yang sebelumnya karena mengingat agenda yang akan kami akan lakukan di tabling kali ini cukup banyak (spt: sablon benefit, pembuatan kolase, stensil, serta bersih-bersih lingkungan).

Untuk proses pembuatan makanan untuk tabling kami mulai dengan sweeping di pasar tradisional dengan mengerahkan beberapa teman yang kami pecah menjadi beberapa kelompok di mana di kelompok itu terdiri dari 2-3 orang. Masing-masing kelompok diberikan daftar buruan sayur yang akan kami gunakan sebagai bahan dasar untuk masak memasak di keesokan harinya. Kami masih menggunakan trik swasembada dimana bahan yang akan digunakan didapat dari donatur yang ada dipasar dan itu pun kalo mereka mau, kalau toh tidak mau kami pun sebisa mungkin menutup kekurangan bahan dengan biaya kolektif dari teman-teman sendiri. Semisal untuk minyak,tempe, kayu bakar, dan gas elpiji untuk memasak kami gunakan biaya patungan. Dan kebetulan kami masih mempunyai dana kas untuk pengadaan tabling ini sendiri. Untuk beras sebagai bahan dasar pembuatan nasi kami biasanya di kondisikan membawa sendiri beras dari rumah. Selanjutnya kami masak semua sebagai pelengkap sayur yang didapat. Tak lupa bahan bumbu dapur pun kami rampok dari rumah sendiri agar citarasa kenikmatan masakan lebih nendang tentunya. Setelah semua bahan memasak siap untuk di olah kami pun memulai prosesnya secara bersama-sama.

Untuk tempat memasak sendiri kami menggunakan rumah salah satu teman yang rela untuk dijadikan dapur umum semalam suntuk, biasanya kami memasak dari tengah malam hingga fajar menjelang karena seperti kebanyakan tabling yang kami gelar dilakukan pada pagi hari sampai siang.

Photo by Rifky doc.
Kalian mengadakan tabling tepat di Taman Kota Ponorogo. Bagaimana proses birokasi di sana ? Apakah menghambat atau justru sebaliknya ?
Tabling kali ini sebenarnya berpindah tempat dari rencana awal yang kami gelar di Taman Kota dipindah di depan gedung Badminton Ponorogo. Tempatnya sendiri tidak jauh kok dari venue awal. Hal ini kami lakukan karena di Taman Kota sendiri secara tiba-tiba direnovasi dan terpaksa kami harus mengalah dan pindah lokasi untuk mencari spot yang paling pas sebagai acara tabling ini. Untuk birokrasi tempat tabling sendiri selama ini tidak mengalami kendala apapun. Kami tidak pernah memakai ijin tempat dan layaknya segerombolan yang ilegal, kami secara spontanitas menggelar dan membereskan semua item perlengkapannya.

Bagaimana respon orang-orang sekitar lokasi kalian menggelar tabling ?
Respon masyarakat sekitar tentu saja masih awam mengingat acara ini belum sepopuler dan dikenal banyak kalangan seperti di kota besar di Indonesia. Memang inilah yang harus kami lakukan untuk mengenalkan dan berbagi dengan semua orang, namun dalam konteks ini berbagi bukan lah hanya memberikan sesuatu tanpa ada maksud tetapi juga sembari belajar dan bersenang-senang.

Gerakan FNB ini berawal dari sikap anti-perang dan nuklir di USA sana. Lantas adakah relevansi nya terhadap gejolak sos-pol lokal ? Apakah ada issue yang menyebabkan tabling kemarin terealisasi ?
Jika menarik garis besar definisi sejarah FNB sendiri tentu ada. Atas dasar kemuakan kami tentang tetek bengek acara amal dan partai politik yang akhir-akhir ini marak dilakukan di berbagai tempat. Kali ini FNB yang kami gelar bisa dibilang merupakan sebuah aliansi dimana pergerakan semacam ini adalah langkah awal dalam melawan birokrasi sosial politik lokal.

Saya pernah mengadakan tabling FNB untuk chapter Depok. Namun dari tabling tersebut tak sedikit yang masih menganggap bahwa FNB ini tak bedanya seperti gerakan amal. Menurut mu apa yang membuat FNB ini berbeda dari gerakan amal (karna jika dilihat secara awam, konteksnya sama yakni berbagi) ?
Memang sekilas gelaran tabling FNB hampir mirip dengan acara amal yang sering digelar oleh para sukarelawan. Saat sweeping di pasar pun ketika kami mencari bahan mentah seringkali pedagang juga mengira bahwa ini pasti acara amal. Memang susah untuk menjelaskan, tetapi point yang bisa digaris bawahi adalah ini bukan seperti acara amal yang mengharapkan pahala setelah memberi. Tetapi ini adalah sebuah agenda yang mengasyikkan dimana tidak ada paksaan ataupun birokrasi dari organisasi politik yang membuat kita merasa terkekang. Tabling FNB sendiri juga biasanya di barengi dengan agenda yang berbeda dengan acara amal (semisal workshop sablon/gigs/lapak gratis dll).

Photo by Rifky doc.
Adakah goal yang kalian harapkan dengan adanya tabling FNB ini ?
Tentu ada, untuk pencapaian akhir bagi kami sekarang mungkin interaksi dengan masyarakat menjadi hal yang sudah cukup berarti. Hal ini sudah menjadi trend positif dan kedepan kami berharap bisa mengajak lebih banyak orang lagi untuk bergabung dalam gelaran tabling karena pada dasarnya semua orang bisa bergabung dan tidak hanya terfokus pada lingkup terbatas.

Menurut mu seberapa perlukah tabling FNB itu sendiri ?
Untuk perlu atau tidaknya diadakan tabling FNB sendiri itu adalah pendapat dari masing-masing saja. Kalo dari teman-teman disini acara tabling ini sangat positif sebagai kegiatan yang harus dilakukan walaupun tidak harus rutin. Ini adalah suatu wacana atau tempat dimana kami bisa saling berinteraksi langsung dengan masyarakat luas dan pembelajaran ini bisa membuat kami lebih akrab dengan teman satu dan lainnya. Untuk kedepannya tabling FNB di Ponorogo sendiri akan kami gelar ketika saat itu adalah benar-benar waktu yang tepat untuk kami.

Untuk ke depannya. Apakah tabling ini akan di buat berkala ?
Tentu saja tidak berkala karena ini bukan awal tujuan kami menggelar tabling, bisa saja kami menggelar tabling ini besok atau hari ini. Jadi intinya selama kami bisa meluangkan waktu untuk menggelar tabling maka bisa saja kami gelar kapan saja. Kami hanya perantara saja yang dimana semua bisa bergabung dan membuat tabling ini sendiri.

Terakhir, ceritakan sedikit tentang Ponorogo (khususnya skena punk/hardcore nya).
Kota Ponorogo sendiri merupakan kota yang dimana semua masih diselimuti keterbatasan. Terletak di daerah pelosok di sekitar jawa timur, kecil memang tapi semangat yang ada tetaplah menggelora dan ini tak kan padam hingga entah kapan. hahah (ga jelas)... Skena hardcore/punk disini cukup nelongso. Perkembangan disini sebenarnya tiap waktu mengalami peningkatan namun peningkatan disini masih dalam step yang minim. Hal ini mungkin terjadi karena kurangnya minat dari regenerasi yang ada. Entahlah susah untuk dijelaskan skena di kota saya. hahaha...

Photo by Rifky doc.
Untuk sekarang memang banyak sekali bermunculan band baru, namun band baru itu hanya diisi oleh beberapa orang yang sudah mempunyai band tetap dan bisa dibilang itu itu saja. Walau cuma diisi oleh sedikit orang dan segelintir saja yang bertahan namun jangan pernah anggap remeh kota ini. Kami masih aktif sampai sejauh ini dan saya rasa perubahan dari waktu yang lalu menyongsong kesini sudah terlihat lebih baik. Ini terbukti dengan banyaknya tour band dari interlokal maupun lokal yang sudi mampir kesini (mungkin CBA ada rencana mau mampir ke desa kami, boleh kok).

Ada juga pergerakan lain dari yang dulunya cuma nongkrong, bengong, mabuk, dan lainnya kini mau untuk mempelajari dan bertanya tentang ini itu dan pastinya perubahan ini sangatlah baik walaupun pelan namun pasti. So far so good lah. Kalo kamu maen ke Jawa Timur, kamu kudu mampir kesini nih.

Last words Rifky!
Tetap sehat. Tetap bugar dengan makanan sehat, tapi ingat makanan sehat ga selalu mahal lo yaahh. Jangan lupa ngopi dan nikmatilah hidupmu.

No One Cares: Wild, Stupid, Cool, And Based On Reality

Photo by NOC doc.
This Is Curse adalah album paling berkesan untuk saya pribadi, setidaknya pada tahun 2011 lalu. Sampai sekarangpun demikian. No One Cares merefleksikan karakteristik orang Sumatera yang tangguh, melalui musik yang mereka sajikan dalam album tersebut. Mereka itu liar, nakal, kira-kira begitulah premisnya. Alih-alih menakutkan, band yang terbentuk sejak 2009 ini justru menyenangkan.

Dan pada kesempatan kali ini Lemari Kota berhasil mewawancarai mereka, diwakili oleh sang vokalis Ito. Dengar-dengar mereka lagi mempersiapkan album terbaru nih. Penasaran jadinya. Seperti apa yah ??? (AL)

Apa yang kalian lakukan di luar band ?
Di luar band kami tidak banyak smelakukan apa apa terpaksa menjadi normal di jam jam tertentu dan terkadang living a dream sport, shopping, cliff jump, weed, religious semua yang terlintas di otak.

Apa kalian tergabung di band lain ?
Oh iya Ito ada di banyak band salah satunya Martyr. Aji juga di Martyr dan band jazz Karmapoci.

Sepertinya skena hardcore di Medan begitu semarak untuk sekarang ini. Bagaimana sebenarnya kondisi di sana ?
Whats the real happening is war. Everyone hate war but every people like a movie like Black Hawk Down, Saving Private Ryan and more because its cool honoured and brotherhood kayak gitu lah gambarannya.kami merasa musik skill dan equipment atau hal hal yg membuat mu merasa jadi pro hardcore tidak lah penting attitude character dan nongkrong lebih diutamakan 061act.

Lagu A.K.A.F. adalah pemicu saya mendengarkan This Is Curse. Kepanjangan dari apakah akronim tersebut ?
Artinya all kids are fucked up sepanjang pernongkrongan banyak ketemu anak anak yang punya cerita yang menarik, kadang memang pilihan membawa kemana tapi sepertinya kita gak sendiri.

Karakter musik yang kalian sajikan terdengar tough namun tidak terkesan menakutkan. Cenderung nakal. Siapa saja yang menjadi influence kalian ?
Satu element yang pas sexy kami membuat hal menjadi sexy dan ganteng.

Kalian marah-marah pada lagu Rutinitas Monoton. Sebenernya rutinitas seperti apa yang membuat kalian sebegitu bosannya ? Dan bagaimana dengan saat ini, apa masih membosankan ?
Marah marah, mungkin karena kurang bersyukur tapi itu gak marah marah, sekarang masih bosan dan seterusnya life is mistake and death its only escape dulu si mikir gitu. Tapi ya sekarang memang harus deal aja sama rutinitas. Kalau ada kesempatan ganti rutin di ganti apa aja yang buat kamu makin bahagia.

Dan mendadak gelisah pada Suasana Malam. Apa yang sebenarnya terjadi dan melatar belakangi lagu tersebut ?
Suasana malam lagu spontan yang kami buat karena lagu si Apok belum siap. latar belakang hanya mengenai kehilangan apa saja misalnya stnk, ijazah, handphone, motor atau kesempatan dan seseorang.

Bagaimana kalian mendefinisikan album This Is Curse ini sendiri ?
Wild, stupid, cool, and based on reality.

Apa yang saat ini sedang kalian lakukan ?
Iya kami udah selesai rekaman bahkan kami udah upload beberapa lagu via youtube Sleep Tight Medan dan Cold Skin. Dan masih mencoba menulis lagu baru dan mengatur rencana tur mungkin tau depan.

Apa yang kalian ketahui tentang Lemari Kota Webzine ?
Saya sering baca LK dulu saya di rekomendasikan oleh Dodski United Blood. Dan berguna untuk skena dan penting.

last word!
Thx lemari kota buat interview. Buat kalian yang udah dengar This Is Curse thx. Album baru Serpent Soul segera hadir.

New Random: A Good Time To Die

Satu lagi pendatang baru dari skena hardcore/punk Kota Hujan (baca: Bogor), New Random. Mereka adalah AF pada vokal, AS gitar, IG gitar, FLS bass, dan MJ drum (mereka sengaja mengakronimkan namanya). Yang memainkan crossover/thrash metal/hardcore yang macho namun tidak terkesan "sok jagoan" melainkan terdengar binal. Mengingatkan pada Void dan mungkin pada beberapa titik kepada Municipal Waste, Suicidal Tendencies, hingga D.R.I.

Mereka telah merilis sebuah mini album secara mandiri, yang diproduksi hanya 50pcs saja. Disebarkan secara gratis ataupun melalui metode trade (barter). (AL)

https://newrandom.bandcamp.com/

Selasa, 12 November 2013

Video Teaser Split El Gringo x Moiss

El Gringo
Greater Heights adalah tajuk split dua band lintas kota dan lintas genre. El Gringo, band asal Jakarta yang memainkan style garage rock dengan sentuhan psikedelia. Sementara Moiss, trio shoegaze asal Semarang.

Proyek split ini sendiri akan dirilis oleh Dermaga Records dalam bentuk kaset. Dan hanya dicetak terbatas yakni 50 buah saja. Ditargetkan proyek split ini akan rampung pada pertengah Desember mendatang. (AL)
Moiss


Presentasi Publik Tentang Indonesian Netaudio Union & Festival


Sebagai rangkaian dari kelanjutan acara Indonesian Netlabel Festival (INF) yang akan terselenggara di Bandung pada tahun 2014 mendatang. Kawan-kawan dari Indonesian Netaudio Union menggelar acara presentasi publik agar masyarakat luas lebih paham tentang apa itu netlabel dan aspek-aspek teknis yang mendukungnya.

Sebelumnya INF pertama kali diadakan pada tahun lalu di Jogyakarta.

Minggu, 03 November 2013

Video of Today: Depok Halloween Party 2013


Sebuah video dokumenter perihal betapa serunya perayaan Halloween Party di Depok. Dimeriahkan oleh berbagai band dengan style yang berbeda-beda mulai dari hardcore, punk rock, grindcore, hingga power violence.

Jumat, 01 November 2013

Secret Weapon: Bangga Membawa Nama Pontianak

Sepertinya sudah tidak perlu introduksi panjang lebar hanya sekedar untuk memperkenalkan siapa yang saat ini berhasil kami wawancarai.

Karna tentu bagi kalian yang gemar dengan musik hardcore "berat" ala Judge, Agnostic Front, Sick Of It All, dan sejenisnya. Pasti sudah familiar dengan Secret Weapon.

Yah, kuintet asal Pontianak ini sudah sering melakukan touring ke beberapa daerah di luar Kalimantan. Yang semakin mengkukuhkan nama mereka dalam skena hardcore lokal. Terlebih pada beberapa bulan yang lalu mereka telah menyelesaikan promo tour untuk album terbaru yang bertajuk Next Time I Kill You. (AL)

Sebelumnya selamat atas rilisnya Next Time I Kill You.
Terima kasih ucapannya buat Lemari kota Webzine yang udah menyempatkan waktu untuk mengulas
Tentang album Next Time I Kill You.

Bagaimana proses terbentuknya Secret Weapon ?
Mungkin buat teman-teman Lemari Kota Webzine bisa langsung melihat di Website kami di WWW.SECRETWEAPONOFFICIAL.COM dan Sosial media kami untuk ulasan sejarah biografi SECRET WEAPON.

Apa kabar terbaru dari kalian ?
Alhamdulillah kami semua sangat baik dan Fresh Gresss.

Ceritain sedikit mengenai album kalian Next Time I Kill You ? Pesan apa yang ingin kalian sampaikan melalui album tersebut ?
Pesan dari Album Next Time I Kill You, ini self improvement dari kami, pembuktian atas kemampuan diri sendiri untuk tetap bertahan, dan berkarya. Mudah-mudahan semua teman-teman di luar sana yang sejalur dengan kami bisa terus tetap berkarya, dan tidak mudah menyerah.

Ada cerita menarik apa dari proses produksi album tersebut ?
Proses produksi, kebetulan kami di kontrak sama Gr8Day Records dari Malang, jadi semua proses produksi, packaging diurus oleh pihak Gr8Day Records. Kontrak kami dengan Gr8day Records telah berakhir pada pertengah bulan September kemarin.

Sejauh ini bagaimana penjualan album tersebut ?
Alhmdulillah dari awal album Next Time I Kill You resmi rilis di tanggal 13.03.2013 album ini sudah menyebar di pulau Jawa, Bali, Lombok, Kalimantan, Jabotabek, Sumatra, Belanda, Jerman, Brazil, dan Malaysia. Alhamdulillah respon dari teman-respon semua sangat respect atas Beredarnya album Next Time I Kill You.

Sepengamatan saya kalian cukup intens merilis merch. Seberapa pentingnya kah merch bagi sebuah band menurut kalian ?
Hehe.. Itu sangat penting sekali teman. Menurut kami merchandise itu salah satu media promo yang sangat ampuh dan paling bermanfaat untuk mempertahankan sebuah band agar tetap mandiri.

Belum lama ini kalian merilis sepatu. Apa yang melatar belakangi hal tersebut ?
Sepatu memang impian kami dari awal terbentuknya band dan alhamdulillah di tahun ini bisa merilis dan memperlengkap merchandise kami.

Kalian memainkan musik hardcore dengan style new school/beatdown yang sering dicap sebagai musik “petarung”. Bagaimana pendapat kalian mengenai hal tersebut ?
Secret Weapon itu Hardcore, sisa nya tinggal pendengar aja yg interpretasi sendiri, biar lebih gampang. Kalo menurut anda kami mempunyai ritme yang enak buat beatdown, silahkan. Itu interpretasi anda.

Apa pendapat kalian mengenai violence dance ?
Menurut kami soal violance dance, gak ada masalah sama sekali kayaknya, sah sah aja bagi siapa pun yang ada di gigs. Yang penting, stay safe, terima resiko masing masing, dan jangan sampai gak sportif yang ending nya bisa menyebabkan keributan, apalagi kalo sampai mengganggu kelancaran suatu gigs. Kasian band yang udah nunggu buat maen.

Bagi kalian seperti apa pertunjukan yang ideal itu ?
Pertunjukan yang ideal? Good people, good crowd, good hospitality.

Kalian sudah cukup sering menjelajahi kota-kota di Indonesia. So far, kota mana yang paling memberikan kesan yang sulit dilupakan ?
Menurut kami semua kota sangat berharga dan berkesan. Cuma masing-masing kota tersebut punya keunikan keunikan masing-masing. Semua kota punya kesan yang berbeda buat kami juga. Namanya juga di kota orang, pasti ada beberapa hal yang nggak kami temuin di kota kami.

Jika diberi kesempatan untuk melakukan tour. Ke kota mana saja dan apa yang menjadi pertimbangan untuk hal itu ?
Banyak banget yang belum. Pengen tur Jabodetabek, Jawa – Bali (LAGI), Tur Sumatra. Sulawesi. Asia. bahkan Eropa dan Amerika. kami Let’s GO.

Tolong ceritakan mengenai scene disana (Pontianak). Bagaimana keadaannya dan apa yang sedang happening ?
Alhamdulillah scene Pontianak sampai saat ini sangat berkembang pesat dari tahun-tahun sebelumnya sudah banyak band-band pulau jawa bahkan tetangga negara seperti Malaysia sudah pernah meramaikan gigs disini.

Hardcore band identik dengan teritorial. Menurut kalian seberapa pentingnya menyantumkan wilayah untuk sebuah band hardcore itu ? (Ex: Depok City Hardcore, Malang City Hardcore, etc)
Ohh.. Penting banget itu, itu PRIDE. Kami bangga bawa nama Pontianak, Kalimantan Barat yang kebetulan bisa maen kesana kemari di Pulau Jawa. Nama kota yang kita bawa itu adalah identitas menurut kami dan itu sangat penting.

Apa rencana jangka pendek kalian ?
Sekarang kami lagi mempersiapkan materi pembuatan video klip perdana kami. Mudah-mudahan tidak ada halangan dan berjalan dengan lancar. Tolong support dan doa nya.

Last words!
Hardcore not a system which insisting you to win, it’s about our family, but somehow becomes enemy. Keep the head up high and trying to be real, you it’s you, not the others and still listening SECRET fuckin’ WEAPON.

Makhluk Suhu Rendah Milik Piston Gentayangan

Menyambut perayakan Halloween pada tanggal 31 Oktober 2013, Piston merilis sebuah single terbaru berjudul "Makhluk Suhu Rendah".

Single ini bernuansa horror punk yang memang sengaja mereka persiapkan sebelumnya untuk dirilis pada momen Halloween. Direkam secara semi-track dengan aroma raw dan mentah juga dipilih untuk mendukung suasana horor yang coba dibangun.

"Makhluk Suhu Rendah" sendiri sudah mulai tersebar gratis sejak kemarin.

Website: www.derupiston.org
Twitter: www.twitter.com/derupiston
Soundcloud: www.soundcloud.com/derupiston/makhluk-suhu-rendah

Selasa, 22 Oktober 2013

Video of Today: Total Sumuk Costume Party


Kalau awal bulan kemarin (7/10) kalian menyimak sedikit ulasan serta photoset mengenai gig Total Sumuk ini. Sekarang kamu dapat menyaksikan video nya.

Aldiman: "Semangat Kemandirian Sebuah Bentuk Perlawanan"

(ki-ka) Teman1, Teman2, Aldiman, Teman3.
Photo by Aldiman doc.
Bicara soal punk memang tidak melulu mengenai soal musik. Kamu bisa main gitar, teman mu bisa main drum, dan ada yang bersedia jadi vokal terus langsung bikin band dengan genre punk (entah apa variannya yang kamu pilih). Sesimple itukah punk ? Sederhananya iya.

Namun ternyata banyak hal yang dapat kita lakukan, bahkan tidak melulu mengenai dunia per-band-an. Seperti apa yang seorang teman lakukan. Aldiman Sinaga namanya, pria asal Pontianak Kalimantan Barat yang saya kenal melalui sebuah newsletter bernama Revival sekitar tiga atau empat tahun lalu (jika tidak salah). Yang kini aktif bersama proyek zine terbarunya, Bagi-Bagi Zine. Tidak hanya itu ia juga aktif disebuah band melodic punk Monterado dan mengelola distro PTK Distribution. Yang semuanya ia lakukan atas dasar semangat kemandirian.

Dan berikut ini kami sajikan sebuah obrolan yang di mulai dengan pertanyaan singkat namun justru menimbulkan jawaban panjang yang menarik dan tentunya patut untuk disimak bersama Aldiman. (AL)

Hallo Aldiman. Tolong perkenalkan diri dulu dong.
Halo aku aldiman, laki – laki, umur 24 tahun , sangat bahagia masih dikasi Tuhan napas setiap pagi dan masih bisa meluk Mama hampir setiap saat, ayo kenalan :D.

Saya tau kamu ketika menerbitkan Revival Newsletter dulu. Bisa ceritakan sedikit tentang itu ?
Iya, itu awal – awalnya aku mulai tertarik dengan media – media independen ato kaya yang sekarang aku lebih kenal dengan kata zine. Jadi ceritanya, dulu waktu kelas 3 SMA, di Pontianak ada sebuah “magazine” yang punya fokus pada skate, youth culture, scene musik, namanya Nevermind Magazine. Kurang lebih kaya Ripple gitu lah. Setiap edisinya, hampir setiap bulan, mereka pakai cara distribusi menitipkan di beberapa kantin SMA disini. Jadi mereka bikin box sendiri, trus mereka pasang di dinding kantin. Nah, pas aku dapat Nevermind Magazine itu, aku mulai ada “klik” dengan media independen kaya gitu. “Klik” lainnya muncul waktu itu, pas istirahat sekolah, dalam perjalanan menuju kantin aku ngelewatin Mading. Eh, di mading ada tempelan yang gak biasanya, sebuah kertas ukuran A4, berjudul BULLETS IN MY HEAD Newsletter. Waktu itu disitu cuma ada sebuah artikel, yaitu membahas film dokumenter Punks are Alright(kalo gak salah judul film nya itu), yang tidak lain repost dari koran KOMPAS + sedikit ulasan/opini dari yang bikin newsletter nya. Ternyata yang bikin newsletter itu mantan kakak kelas ku(waktu itu dia udah lulus SMA). Selain itu waktu itu juga ada sebuah majalah metal bikinan kolektif metal Pontianak(Deep forest scum) berjudul Overhate Magazine.

Akhirnya Desember 2006 gitu kira – kira, aku mulai punya niat “wah asik nih kalo aku bikin newsletter/majalah sendiri kaya gitu”. Waktu itu udah sampai ke mikirin nama nya, aku ingat waktu itu aku pingin namanya REFLEKSI DIRI. Hahahahahaha.... Sok banget yah anak SMA!!

Eh, ternyata awal 2007 seorang temanku malah ngajak bikin majalah bareng. Temenku ini juga salah satu anggota tim yang bikin Nevermind Magazine. Waktu itu majalahnya udah gak ada terbit dan kayaknya udah gak jalan lagi. Mungkin hasrat dia untuk membuat media masih tinggi, jadi dia ngajak aku. Maka jadilah REVIVAL Newsletter. Edisi pertama pun terbit bulan Februari 2007, selembar kertas Folio, di print warna pada satu sisi saja. REVIVAL pun terbit hampir setiap bulan, karena memang kita pingin nya jadi media yang terbit bulanan. Dan terus terang, referensi ku mengenai media independen lainnya waktu itu masih sangat kurang. Aku cuma kenal majalah – majalah “indie” yah kaya Ripple, Happen, Fallen Angels, ataupun katalog profile band yang suka beredar di distro – distro. Trus pada REVIVAL edisi ke-2, kita setiap edisinya juga ngasih bonus CD sampler yang kita kasih judul STEP BY STEP. Isinya 2 / 3 lagu dari band – band lokal Pontianak(dan luar Pontianak). Oh iya, sebenarnya ini bukan bonus sih. Tapi semacam kuis, tapi agak lucu. Jadi gini, setiap edisi, kita siapin 10 CD Step by Step ini. Kita bakal kasi CD ini gratis bagi mereka yang mengirimkan SMS berisi nama lengkap dan umur ke kita. Trus buat mereka 10 orang pertama yang nge-SMS bisa ngambil CD nya di salah satu distro yang kita tunjuk, hehehehehehe.

REVIVAL waktu itu kita produksi sendiri, dan di print warna!!!! Kita semua waktu itu statusnya masih mahasiswa dan cuma ngandalin uang jajan dari orang tua. Aku ingat, kita sukses bikin rusak 3 printer Canon yang dibeli pake uang dari orang tua. Kurang ajar banget gak? Kita juga pake sistem sponsor gitu sih dengan distro – distro lokal, tapi tetep banyakan modal yang keluar yah dari kita.

REVIVAL aktif terbit sampe edisi 10, itu tahun 2008. Lalu si Lin tadi, lulus kuliah dan harus kerja ke salah satu Kabupaten di timur Kalbar. Sepeninggalan dia, sebenarnya tim kita masih ada 4 orang lagi. Tapi gak tau kenapa, aku akhirnya stuck dengan REVIVAL. Stuck dengan ide, stuck dengan semangat, stuck dengan arah tujuan. Aku bingung musti nulis tentang musik scene, youth culture, kegiatan komunitas, bla bla bla..... Bertepatan juga dengan jadwal ku yang harus nyusun Tugas Akhir kuliah D3. Sempat aku usahain terbit lagi 2 edisi di 2009, tapi setelah itu aku benar – benar gak niat lagi dengan REVIVAL. Hingga akhirnya aku ketemu SPLIT 9 ZINE INDONESIA DI TAHUN 2009 dan PUSSY WAGON, yang mana menjadi titik balik aku secara pribadi dalam aktivitas di dunia zine, hingga aku bikin BAGI – BAGI, hingga aku bikin PTK Distribution, hingga sekarang aku ngobrol dengan kamu fi...Hahahahahahahaha

Dan bagaimana proses transisi nya hingga menjadi Bagi-Bagi Zine ?
Ya itu tadi. Berawal dari aku stuck dengan REVIVAL, seperti yang aku jelaskan di nomor 2 diatas. Trus aku ketemu dengan dua zine super yang meng-inspirasi itu. Sebelum ketemu dua zine super itu, aku entah gimana bisa nemu blog nya Ringgo(Jalur Bebas zine), www.isubject.blogspot.com. Dari situ, aku dapat beberapa link donlod zine – zine lokal. Zine – zine lokal yang gak pernah aku temui sebelumnya, yang jauh beda banget dari Ripple, Happen, dan teman – teman. Bukan maksud membedakan atau apa, bagi aku semua media independen mau itu Xerox printed ataupun Glossy printed, punya semangat yang sama. Tapi waktu ketemu zine – zine dari blog nya Ringgo itu, aku benar – benar ketemu sesuatu yang baru, sesuatu yang ngebantu aku keluar dari kebuntuan, sesuatu yang ngasi aku buannyaaakk banget pengetahuan baru.

Lalu ketika aku nge baca Split 9 Zine dan Pussy Wagon, aku baru tahu, kalo mau nulis di media independen itu, gak musti tentang scene/komunitas musik, event – event hura – hura anak muda, ataupun interview band yang mentok disitu – situ aja. Aku benar – benar gak nyangka Ringgo bisa cerita perjalanan dia make kereta ekonomi selama berjam – jam dengan cara yang sangat keren di Jalur Bebas. Aku benar – benar gak nyangka cara layout zine nya Mila di Pussy Wagon, dengan gunting tempel dan coretan – coretan spidol itu super duper keren. Aku akhirnya paham, kalo fotokopian itu bukan sekedar karna keterbatasan biaya, tapi itu spirit!!! Hingga akhirnya suatu siang, waktu aku lagi beresin kamar, aku nemu banyak majalah Bobo edisi lama. Beberapa artikel yang bagus aku gunting trus rencananya mau aku bikin kliping. Trus sambil ngelamun, aku dapat ide “kenapa gak dijadiin majalah lagi aja yah??”. Mulailah aku pilih beberapa artikel dari majalah Bobo itu, aku tambahin opini – opini ku sendiri sebagai tanggapan atas artikel tersebut, ada juga tulisan yang aku rombak ulang, ibaratnya kalo di lagu, aku Remix, hahahaha. Aku juga mulai bikin tulisan sendiri lagi, bikin review zine juga. Waktu itu selain dapat fotokopian split 9 zine dan Pussy wagon, aku juga dapet zine hasil barter dengan Agung(For Tomorrow) kalo gak salah. Dan setelah melalui proses lem, gunting, kertas, dan pulpen/spidol, taraaaaaaa jadilah BAGI BAGI #1 seperti yang kamu udah pernah baca fi, hehehehehe.

Dari kacamata mu. Bagaimana ketertarikan seseorang terhadap zine khususnya dalam lingkup scene punk/hc di sana (lingkungan mu) ?
Kebetulan aku pake kacamata yah, hahahahahahaha. Kalo dalam lingkup lingkunganku, berarti mungkin dalam lingkup teman – teman dekatku, yang sering ngobrol, ngumpul, dan jadi teman buat saling bantu bikin gig, acara kumpul zine. Kalo dari situ sih, yah lumayan lah. Beberapa dari temenku itu rajin nanyain koleksi – koleksi zine baru yang aku punya, terus mereka pinjem fotokopi, atau beli dari aku. Walaupun ga semua dari mereka yang selalu begitu, tapi dari teman – teman terdekat ku itu, aku lihat ketertarikan mereka terhadap zine memang cukup besar. Ya mereka akan berusaha untuk mendapatkan sebuah zine, jika memang zine itu menarik minat mereka. Akan mereka baca, dan pas ngumpul sedikit – sedikit jadi bahan obrolan kita.

Kalo lingkungan ku yang dimaksud adalah scene punk/hc di kota Pontianak. Sejauh ini yang aku lihat sih gak terlalu besar yah. Ukuran nya sampe aku bisa bilang ga terlalu besar, mungkin beberapa poin di bawah ini :
  • Beberapa kali aku dan teman – teman bikin acara kumpul zine. Yah gak segede zine fest, tapi yang pasti kita nyediain booth baca zine, kita siapin sesi ngobrol – ngobrol tentang zine, kita siapin sesi bikin zine bareng. Dan antusiasme dari teman – teman di scene aku lihat sih biasa aja. Kita memang gak gembar – gembor publikasi, tapi kita yakin, publikasi yang kita lakukan itu nyampe ke mereka. Tapi ketika hari acara nya, yang datang yah kalo gak kita – kita yang bikin acara, paling beberapa orang diluar kita.
  • Beberapa atau banyak dari mereka aku yakin tahu kalau aku bikin PTK Distribution dan di dalamnya juga ada distribusi zine. Tapi sejauh ini, gak terlalu banyak mereka yang nanyain zine – zine baru, atau mencari sebuah zine yang mereka minati untuk kemudian mereka beli dariku(kalo stok nya ada) atau pinjam copy/nitip copy. Aku yakin mereka tahu, karena beberapa kali aku ngelapak zine di gig musik dan di situs jejaring sosial juga aku informasikan.
  • Kalo aku nerbitin zine, baik itu Revival, Bagi – bagi, ataupun newsletter2 dadakan lainnya. Biasanya aku bagi – bagiin ke beberapa orang di scene punk/hc disini secara random. Dan sejauh ini aku gak ada dapat feedback, misalnya kaya “eh man, aku udah baca zine mu, wah kamu ada nulis tentang ini, kalo menurutku isu itu tuh gini, bla bla bla bla....” atau “eh man aku juga ada nemu zine yang membahas isu seperti yang kamu tulis, bla bla bla” atau mungkin “man, aku udah baca zine mu, dasar goblok kamu, apa – apaan nulis kaya gitu, dasar sok tahu”. Seingat aku dan mudah – mudahan aku gak ada penyakit lupa ingatan, yah gak ada yang ngerespon zine ku secara sungguh – sungguh. Palingan kalo ada yah yang nge bilang “bagus man!”. #hufff
  • Banyak dari teman – temanku itu, aku yakin mereka tahu kalau ada sesuatu yang bernama zine. Atau minimal, aku yakin, dalam pengalaman hidup mereka di scene – scene-an ada loh yang namanya media terbitan sendiri yang dikelola secara mandiri. Dan aku tahu kok, beberapa dari mereka sebenarnya kepingin bikin zine. Tapi tetap aja sepengetahuanku, gak ada zine yang baru muncul dari scene punk/hc disini. Aku tahu beberapa dari mereka tuh mau bikin zine sendiri, salah satunya dari pengalaman yang ini nih. Waktu itu di sebuah acara aku ngelapak, trus temenku itu datang ke lapak baca zine ku. Dia menyemangatiku untuk tetep bikin zine, dan bilang mau mendukung dana dari sedikit keuntungan usaha mandiri nya. Tapi zine ku harus dibikin dengan sedikit “serius”. Atau dilain kesempatan dia bilang kalo dia lagi mau bikin sebuah gig musik, dan dia minta tolong untuk aku bikinkan zine untuk gig musiknya. #lagilagihuffft, sejak kapan bikin zine jadi sebuah “kerjaan”.

Itu kalo untuk yang kamu bilang scene punk/hc nya yah. Kalo diluar itu, aku masih kurang tahu pasti. Karena ruang lingkup ku selama ini emang gak terlalu luas. Kalo waktu kuliah, teman – teman di kampus tau aku bikin REVIVAL, tapi selebaran itu gak terlalu menarik minat mereka, karena pernah aku bawa di kelas, tapi mereka biasa aja. Teman – teman SMA ku, beberapa juga tahu aku masih bikin “majalah sendiri” sampai sekarang, ada yang pernah cukup tertarik dengan beberapa edisi Bagi-bagi, tapi ketertarikan yang lebih, sepertinya aku gak ngelihat. Mungkin kalo diluar ruang lingkup ku yang gak seberapa luas ini, mungkin aja ada yang punya ketertarikan dengan zine.

Pendapat mu terhadap eksistensi zine lokal hingga saat ini ?
Zine di Indonesia saat ini? Kalo yang ditanya eksistensi, yah menurut pengamatanku dan pendapatku pribadi yah masih eksis. Jika eksis itu maknanya sebuah keberadaan, yah emang masih ada kok zine lokal. Aku kenal zine sekitar tahun 2009, dan semenjak saat itu sampai hari ini, kayaknya tiap tahun selalu ada aja zine yang terbit. Terlebih lagi beberapa tahun terakhir ini, semenjak mulai diadakannya beberapa acara zine secara rutin di beberapa kota (Zine picnic di SBY, Jogja zine attakk di Jogjakarta, dan yang BDG Zine fest di Bandung sebagai contoh). Di setiap acara itu, selalu ada zine baru yang terbit. Dan beberapa tahun terakhir semakin nambah aja nih, teman jarak jauh ku yang kenalannya melalui facebook, yang kita bisa kenalan karena punya ketertarikan yang sama terhadap zine. Yah zine lokal masih ada, dan aku yakin masih bakal ada.

Nah, kalo mengenai sesuatu yang jauh lebih lagi dari sekedar eksistensi, itu aku kurang tahu yah, hehehehe. Karena ini pasti berbeda – beda tanggapannya di masing – masing pelaku zine(aku memaknai zine itu bukan sekedar kata benda, tapi kata kerja, karena menurutku didalamnya ada aktivitas membuat, menerbitkan, mendistribusi, mengoleksi, membaca,dll). Tapi kalo menurut aku pribadi, sekedar eksis saja, itu sudah sangat cukup. Karena dengan eksistensi tersebut, masih akan tetap bisa memenuhi keinginanku untuk tetap ber-zine ria. Aku masih bisa terus ketemu zine – zine baru yang berpotensi keren ataupun penasaran dengan terbitan terbaru dari zine – zine yang sudah pernah ada. Dan aku juga masih bisa terus terpacu untuk bikin hal yang serupa. Buatku, zine itu sangat personal.

Malaysia sudah punya Shock & Awe yang konon katanya disebut-sebut Maximum Rock ‘n Roll nya Asia Tenggara. Menurut mu mungkinkah kita punya media serupa ?
Hahahahaha, Maximum Rock n Roll nya Asia Tenggara. Kayaknya dimana – mana banyak yang ngasi label kaya gini yah, hehehehe. Yah aku juga cukup setuju kok. Shock & Awe, kemunculannya bisa menjadi penyeimbang scene hc punk Asia Tenggara yang lagi super aktif dengan seabrek aktivitas seperti melayani touring band, membuat rilisan, dll. Dan disaat semua zine melaksanakan kegiatannya dengan “sangat – sangat personal”(ini sepertinya hampir diseluruh Asia Tenggara), mereka hadir dan mereka cukup serius. Sebelum ada Shock&Awe, yang aku tahu mau itu zine personal ataupun zine musik, semuanya sama aja, yah personal. Semau editornya aja, bikin yah bikin, nggak yah udah, bikin dengan gak terkonsep lantas dengan enteng bilang “kalo kamu gak suka, bikin aja zine mu sendiri”. Palingan ada zine yang kira – kira seperti Shock&Awe ini, tapi bukan zine musik ataupun personal, tapi dari teman – teman Anarkis ataupun kolektif Anti – otoritarian. Coba lihat Jurnal Amorfati, Jurnal Kontinum, ataupun Koran SERUM.

Dan kebetulan aku juga kenal dengan salah satu editor Shock&Awe ini, dia pernah bilang kalau ketika dia mau bikin Shock&Awe, di Malaysia ada banyaaakkk banget zine personal. Dan dia cuma mau bikin yang sedikit serius, dalam artian lebih terfokus, ada sesuatu yang memang jadi tema nya. Dan hasilnya, SEGAAARRRRR. Ini salah satu hal yang aku suka dari menaruh ketertarikan pada zine loh fi, akan selalu ada kejutan – kejutan baru yang seru dan segar.

Oiyah, menurutku mungkinkah kita(maksudnya di Indonesia) punya media serupa? Aku yakin mungkin – mungkin aja sih. Scene hcpunk Indonesia dan Malaysia kalo aku lihat kayaknya kurang lebih sama aja, iya gak? Orang – orang yang punya ketertarikan dengan literasi di scene hcpunk Indonesia juga banyak kok. Jumlah rilisan yang siap di review hasil produksi band – band lokal sini banyak. Isu – isu menarik baik di dalam dan diluar scene nya yang bisa dibahas juga banyak. Mulai dari urusan rip-off, organizer/booking tour agent yang gak beres, sampe urusan silang – menyilang percintaan antar pelaku scene juga kelihatannya seru – seru aja buat dibahas. Trus peminat(yang bakalan beli) zine kaya gitu disini juga kelihatannya banyak. Soalnya ada distro disini yang ngedistribusiin Shock&Awe dan kayaknya ludes tuh barangnya. Tinggal pada mau atau nggak bikin yang semacam itu. Nah, mau atau nggak ini, mungkin bisa dimulai dengan pertanyaan perlu atau nggak bikin yang semacam itu disini. Aku sih nggak ah ngejawab pertanyaan – pertanyaan itu. Karna kalo aku pribadi, gak terlalu pengen bikin yang kaya gitu, ataupun turut teribat dalam tim produksi yang kaya gitu, hehehehehehe.

Oiyah, kemarin sempat ada sih aku dapat sms, katanya beberapa teman ada yang mau berinisiatif bikin yang semacam itu. Aku dimintain bikin tulisan tentang scene di Ptk gitu, tapi aku juga gak bikin – bikin sampe sekarang. Sama kaya kabar berita dari niat teman – teman itu juga gak ada kelanjutannya sampe sekarang, hehehehehe. Dan, Shock & Awe itu juga sebenarnya gak fokus sebagai zine hcpunk Malaysia sih kalo aku lihat. Mereka lebih ke Asia Tenggara kok. Memang kemarin ada satu edisi yang khusus ngebahas scene Malaysia, lebih khusus lagi scene Kuala Lumpur. Tapi edisi – edisi lainnya isinya lebih mengarah ke scene Asia Tenggara. Nah, cumannn, kontributor mereka itu masih mentok di sekitaran Malaysia dan Singapura sepertinya. Coba kalau ada yang mau ikutan kontribusi dari Myanmar, Kamboja, Filipina, atau mungkin Timor Leste, pasti seru.

Man selain aktif di zine. Kamu juga aktif di band dan distro kan ? Ceritain dong tentang dua hal tersebut.
Mungkin gak usah pake kata aktif lah fi. Aku gak ngelakuin ini cukup rutin kok. Semuanya sambil jalan aja, berbarengan dengan hal – hal lain di hidup aku. Dan gak kepengen juga ngasi porsi yang lebih atau semakin besar ke hal – hal ini. Aku main band, malah bisa dibilang band ku banyak. Tapi gak ada yang benar – benar aku jalanin secara aktif. Dalam artian, ada waktu untuk ketemu personil band, ngomongin band, bikin lagu baru, manggung di gig, dll. Buat aku pribadi, main band itu, main band dengan teman – teman yang bisa membuat kita main band dan bahagia main band, trus kita bikin lagu – lagu sendiri, trus kalo bisa bikin rilisan fisiknya. Itu aja udah sangat cukup buat aku. Manggung? Ah, biar band lain aja. Palingan aku manggung kalo sekarang – sekarang ini di studio gig, itu juga aku sendiri yang bikin, dan isinya juga teman – teman dekat aja.

Distro? Kalo untuk distribusi rilisan, saat ini aku memang masih terbuka, buat siapapun yang mau nitip rilisan sama PTK Distribution. Tapi kalo untuk nge-whole sale rilisan teman – teman dari label lain, kayaknya aku udah gak ah, atau jarang. Karena di Pontianak, gak banyak juga yang suka beli rilisan. Palingan kalo ada rilisan yang aku doyan, aku tanyain beberapa temanku disini, mau beli bareng gak, jadi bisa patungan ongkir, atau dibeli dengan harga wholesale. Yah paling kalo aku barter rilisan, aku barter 2 copy. Satu untuk koleksi pribadi, satu aku taro di distro. Jadi kebanyakan yang aku distroin yah rilisanku sendiri. Oiyah, aku juga gak ada niat untuk ngedistroin merch/kaos band. Karna aku gak pernah beres setiap berurusan dengan merch, mungkin ini karna aku nya sendiri gak terlalu suka beli merch/kaos band.

Terus gimana dengan produksi di PTK Distribution. Ini masih akan tetap aku lakukan. Yah sampe aku malas nantilah. Oiyah buat yang baca interview ini, PTK Distribution itu gak tertutup cuma buat produksi rilisan musik yah, aku juga sangat senang kalau ada yang mau kerja sama produksi zine, buku, atau mungkin DVD. Taaapppiii, semenjak awal aku ngejadiin PTK Distribution sebagai sebuah label produksi, aku emang udah netapin secara gak resmi, kalo yang aku produksi itu karya temen Pontianak, atau sejauh – jauhnya karya temen Kalimantan(Kalbar, Kalteng, Kalsel, Kaltim, termasuk Sarawak, Sabah, Brunei). Palingan kalau ada nyangkut band dari luar Kalimantan, yah itu karena barang yang diproduksi itu kompilasi atau split yang di dalamnya masih ada karya teman Kalimantan nya. Sori, aku gak ada maksud “daerah oriented” ato milih – milih. Tapi aku tahu, belum ada yang melakukan kaya ini, jadi kenapa nggak PTK Distribution aja.

Apa yang membuat mu tertarik untuk melakukan semua ini ? Dan bagaimana tuh cara menjalankan semua nya ?
Yang membuat aku tertarik adalah semangat kemandiriannya fi. Semangat kemandirian, buat aku itu udah sebuah perjuangan ataupun perlawanan. Ngeliat teman – teman yang punya semangat kita jadi semangat juga. Ketika kita punya semangat, kita pasti kepengen juga untuk menularkan semangat itu. Maka hal – hal ini masih aku lakukan. Kalo menurutku sih sesimpel itu. Aku ngelakukannya karna aku masih mau dan aku emang suka. Karna masih ada teman – teman dekatku yang juga melakukan hal – hal ini. Gak tau deh urusan scene ataupun komunitas. Aku gak pernah lagi mikirin hal – hal yang terlalu besar, yang nantinya malah bikin pusing, bikin susah, atau malah jadinya aku gak ngelakuin apa – apa. Milikilah keinginan yang sederhana, lalu laksanakan dan tercapai. Aku masih bersyukur punya teman – teman dekat yang punya semangat dan ketertarikan yang sama. Padahal kami beda – beda selera, selera berpakaian, selera musik, dan lain – lain.

Cara ngejalanin semua nya? Yah jalanin aja, hehehehe. Yang pasti jangan sampe bikin kamu sendiri jadi susah apalagi nyakitin kamu sendiri, hehehehe. Atur – atur aja waktu, biaya, dan segala sumber daya lainnya. Ngetik jawaban interview dari kamu sampe tengah malam gini, padahal besok pagi musti kerja, gak masalah selama aku senang bisa kontribusi di Lemari Kota Webzine. Musti nombokin banyak proyek non-profit pake duit pribadi, gak masalah asal kebutuhan sandang, pangan, papan masih bisa aman. Lakukan aja karena emang kamu suka, kamu mau, dan paling penting kamu mampu. Kalau salah satu aja dari ketiga itu gak ada, kayaknya lebih baik gak usah deh.

Apa yang sedang kamu rencanakan dalam waktu terdekat ini ?
Banyak sih, hehehehehe, tapi yang simpel – simpel aja, hahahahaha. Tanggal 9 Nov mau bikin gig di studio bareng teman – teman. Desember, bikin gig buat Milisi Kecoa. Kepengen jalan – jalan ke Belitong. Kepengen bisa ke Thailand, Korea Selatan, dan Jepang. Kayaknya udah mulai gak simpel yah? Hahahahahahahahaha....

Berikan sedikit saran/kritik untuk Lemari Kota Webzine.
Kalo dilihat dari namanya, maka saran aku yang pertama, jadilah Kota Lemari, hahahahahaha. Maksudnya tetaplah menjadi atau jadilah tempat yang bisa ngasi berbagai macam informasi dan inspirasi. Sejauh ini aku lihat Lemari Kota gak terlalu segmented. Itu bagus aja sih. Banyak orang dengan berbagai macam ketertarikan dan latar belakang bisa datang ke Lemari Kota. Tapi kalau bisa porsi beritanya banyakin yang lokal aja. Yang luar juga boleh sih. Yah kalau gak karna kalian aku gak tahu New Found Glory bakal ngerilis album yang keren, hehehehehe. Tapi mungkin informasi luar nya itu di sekedar share link di FB aja mungkin.

Terus kamu fi, kan sering nge twit atau masang status “ayo kirimkan demo, scene report, bla bla bla”. Kalo emang dengan cara kaya gitu susah. Udah sistem jemput bola aja. Kaya kamu interview aku ini sekarang. Langsung aja kamu minta atau tanya ke teman – teman di kota – kota lain. Oiyah, eksplor lah kota – kota lain diluar Pulau Jawa. Siapa tahu bakal ada banyak kejutan disana. Siapa tahu kan, hehehehehe.
Apa lagi yah,emmmm, ya udah berusahalah untuk selalu bersyukur, hehehehehe. God Bless You :-)

Kunjungi: http://ptkdistribution.blogspot.com/

Black Rebellion Records: Refleksi Kecintaan Terhadap Hardcore Punk Dalam Wujud Label

Ringkasan ini tidak tersedia. Harap klik di sini untuk melihat postingan.

Jumat, 18 Oktober 2013

Hellogoodbye Rilis Video Terbaru

Melalui Fanpage resmi mereka, Hellogoodbye menyiarkan telah merilis sebuah video clip terbaru untuk lagu "(Everything Is) Debatable". Lagu tersebut akan menjadi bagian dari album terbaru mereka dengan judul yang sama. Dimana album baru tersebut akan siap diedarkan pada 29 Oktober mendatang. Namun proses pre-order sudah dapat dilakukan dari sekarang. (AL)

Senin, 14 Oktober 2013

Video of Today: Masked Hero - Hingga Akhir Waktu (Official)


Setelah vakum hampir satu tahun lamanya. Kini Masked Hero kembali aktif dan merilis sebuah video clip yang di sutradarai sendiri oleh vokalis mereka, Lingga.

Album Terbaru New Found Glory Rilis

New Found Glory merilis album live pertama mereka, Kill It Live, yang berisikan 20 lagu. Album tersebut telah dirilis dalam waktu dekat ini melalu label Bridge9 Records. (AL)

Kill It Live Track Listing:
1. Intro
2. Understatement
3. Don't Let Her Pull You Down
4. All Downhill From Here
5. Anthem For the Unwanted
6. At Least I'm Known For Something
7. Sonny
8. Something I Call Personality
9. Boy Crazy
10. Tip of the Iceberg
11. Coming Home
12. Forget My Name
13. Sincerely Me
14. Hit or Miss
15. Truth Of My Youth
16. The Story So Far
17. My Friends Over You
18. I Want to Believe
19. Connect the Dots
20. First Bite

HTS Fest #2: Terlalu Manis Untuk Dilupakan

Raincoat
Ini adalah kali kedua sebuah distro Here To Stay mengadakan gig. Bertempat di Rossi Music Fatmawati, Jakarta Selatan, perhelatan kedua kali terbilang cukup sepi berbeda dari tahun lalu. Namun atmosfer serta semangat yang dibawa oleh penonton yang hadir tidak berbeda sama sekali.

Di luar venue keadaan tidak terlalu padat meski diisi oleh berbagai lapak yang menjual beraneka ragam merch, rilisan, hingga zine. Namun di dalam semua keadaan 180 derajat berbalik. Semua yang hadir tumpah ruah. Dinginnya malam udara Jakarta tidak terasa di sana.

Saya datang telat dan melewatkan beberapa penampil seperti Walk Fearless, No Front, dan Looking Back yang bermain dari sore hingga senja. Baru ketika Grave Behold mengoyak-ngoyak stage saya masuk melihat mereka. Beberapa nomor dari album terbaru mereka A Sacred of the Future sukses membuat crowd menggila. Terlebih penampilan vokalis Gustmar yang enerjik tak kuasa menghipnotis penonton yang tak henti-hentinya melakukan pointing finger dan sing along.

Kegilaan semakin menjadi dan hawa panas kian menyengat. Tidak berkeringat adalah sesuatu yang mustahil terjadi. Terlebih ketika kuarter youth crew Raincoat mendapat jatah giliran tampil. Ada sesuatu yang baru dari lineup mereka malam itu. Posisi drum tidak lagi di tempati oleh Widi yang kini disi oleh Fadil dari Veins. Beberapa tembang dari EP Can't Close My Head didaulat menjadi amunisi yang siap menaklukan crowd tanpa henti. Penampilan kuartet ini cukup enerjik, yah tipikal band sejenisnya namun tetap tidak jenuh menyaksikannya. Berulang kali vokalis Jan harus rela berebutan mic dengan penonton yang tak kuasa menahan diri untuk menyumbangkan suaranya. Penampilan apik tersebut di tutup oleh sebuah cover song milik Outlast "Positive Hardcore, Positive Youth" yang dinyanyikan oleh vokalis tamu Jimbul (Quest For Justice).

Seharusnya Rooster Fight yang tampil setelah Raincoat. Namun hal tersebut urung terjadi, karna terdengar kabar sang vokalis sedang terbaring sakit. Kesempatan tersebut diambil oleh satu-satunya band pop punk, Starlit, yang tampil cukup anggun. Meskipun mereka bermain dalam satu gig yang dominan diisi oleh band-band hardcore. crowd cukup menikmati penampilan mereka. Beberapa penonton memanfaatkan situasi ini untuk beristirahat dan tidak banyak melakukan moshing.

Karna satu dan lain urusan, saya kembali harus merelakan melewati penampilan dari Common Goals. Suasana di luar venue masih tidak berubah. Bahkan kali ini cenderung lebih sepi dari awal kehadiran saya. Sepertinya semua terlimpahkan ke dalam venue. Yang keadaannya semakin panas.

HTS Fest kali ini tidak hanya menampilkan aksi-aksi dari band lokal saja. Namun juga menghadirkan satu band hardcore dari Malaysia, Kids On The Move, yang sedang dalam rangkaian Directions Indonesian Tour. Ini adalah kali kedua kuintet Straight Edge asal Klang Valley tersebut tampil. Setelah pada beberapa tahun silam mereka sukses bersama Channel X (Malaysia) menggila di De Javu Cafe Jakarta Pusat.

Meskipun ini adalah penampilan kedua mereka. Namun sepertinya penonton yang hadir sudah tidak asing dengan tembang-tembang yang mereka bawakan. Beberapa hits yang ada dalam ep terbaru mereka yang bertajuk Directions sukses membuai penonton untuk ber-singalong ria. Overall. mereka begitu all out malam itu.

Malam yang semakin dingin (namun di dalam venue justru sebaliknya) semakin dibuat menggila oleh penampilan dari Quest For Justice yang tampil tanpa drumer Ojie karna berhalangan dan digantikan oleh drumer dari No Compromise. Beberapa tembang seperti Rebel Till The End, Welcome To The Show, Eternal Flame, dan beberapa lainnya tidak mampuh menahan crowd untuk tidak bergerak. Alhasil, crowd surfing hingga head walk terjadi berkali-kali.

Setelah itu kondisi crowd sedikit mehangat saat Stand Clear memulai set dan melempar berbagai amunisi yang sarat dengan nuansa youth crew hardcore-nya. Tembang-tembang dari debut Demo 2012 yang dirilis oleh Commitment Records Asia mereka persembahkan dengan begitu liar dan apik.

Kondisi seketika kembali memanas saat Straight Answer menjadi penutup acara. Seperti biasa ulah bassis Rian yang jenaka membuat set mereka lebih dari sekedar hiburan musik semata. Ada satu hal yang membuat saya cukup terheran dengan band yang satu ini, saya tidak pernah melihat penampilan mereka yang tidak bagus. Meski dalam beberapa kali kesempatan, saya menyaksikan mereka dengan kondisi sound yang kadang terdengar kurang nyaman di telinga dan bermain cenderung sesukanya. Mereka adalah band hardcore ternyeleneh yang pernah ada di Indonesia. Malam itu mereka tampil dengan tembang lawas "Hantam Prasangka Buruk" dan "Menolak Duduk" (celetukan Rian. Aselinya berjudul Menolak Tunduk). Dan beberapa tembang dari album terbaru Until We Win. Serta sebuah cover song milik Slank "Terlalu Manis" dan Oasis "Don't Look Back In Anger". Satu hal, rasanya mustahil menyaksikan penampilan mereka tanpa crowd yang membeludak, aksi berebut mic tanpa henti, dan sing along sampai akhir.

Dan malam itu berakhir dengan penuh suka cita. Semua yang hadir dapat pulang dan tidur nyenyak. Tinggal tunggu esok harinya merasakan pegal-pegal di sekujur tubuh. (AL)

Grave Behold

Mels of Stand Clear

Kids On The Move

Jimbul of Quest For Justice

Stand Clear

Straight Answer

Gustmar of Grave Behold

Jan of Raincoat

Quest For Justice

Kamis, 10 Oktober 2013

Satu Kepalan Sejuta Kenakalan

Beberapa tahun belakangan ini telinga seakan dipaksa bernostalgia pada era dimana musik punk hardcore masih belajar merangkak di Amerika Serikat. Dimulai dari kumpulan veteran hc/punk Duct Tape Surgery (yah meski diakui mereka begitu swedish), aktifnya Ricky bersama kendaraan barunya Total Jerks, lahirnya Free Speech di kota apel, dan sekarang Satu Kepalan dari Medan memaksa untuk ingatan tentang betapa enerjiknya Keith Morris di usia yang tidak muda lagi bersama band terbarunya OFF!.

Riff gitar yang nakal dan line bass yang tak mau kalah nakalnya saling berpadu menjadi sebuah bunyi-bunyian yang beringas yang belum lagi dibalut dalam sound yang raw nan kotor. Mencoba membangkitkan memoar akan Black Flag, Jerry Kids, Circle Jerks, hingga The Secret Prostitutes.

Lima lagu yang menjadi tonggak awal dalam sejarah eksistensi mereka menjadi kian "mahal" bagi saya karna dibawakan dengan Bahasa Indonesia yang lugas dan tak berbelit-belit. Semuanya bisa didapatkan satu paket dalam sebuah link bebas unduh yang baru mereka rilis belum lama ini.

Niscaya, pendengar tidak akan tahan dengan "kenakalan" musik mereka. Dipastikan pendengar tidak akan terdiam ketika mendengarkannya terlebih ketika menyaksikan mereka secara live. Yang selalu menghipnotis untuk bergoyang dan sesekali melakukan circle pit.

Semoga debut demo ini dapat membuat Keith Morris dan Greg Hetson memiliki inisiatif untuk bangkitkan Circle Jerks dari hiatusnya yang entah sudah berapa kali terulang. (AL)

Check this one out: http://satukepalan.bandcamp.com/

Selasa, 08 Oktober 2013

7 Seconds: Slogan on a Shirt

7 Seconds baru saja merilis b-side dalam format 7" vinyl, My Aim is You b/w Slogan on a Shirt yang dirilis oleh Rise Records. Mereka tidak lagi bekerja sama dengan SideOneDummy Records. Album Take It Back, Take It On, Take It Over! yang rilis pada 2005 menjadi album terakhir mereka bersama label asal Los Angeles tersebut.

Senin, 07 Oktober 2013

M.I.L.F.: Si Mesin Moshing

Sebenarnya kami sudah dapat demo ini sudah cukup lama. Gitarisnya sendiri yang memberikannya pada waktu itu. Tapi baru sempat kami review sekarang.

MILF adalah trio fastcore/powerviolence asal Depok-Jakarta yang baru terbentuk pada 2013 ini. Digawangi oleh Arif, Amir, dan Ahmad Riza.

Demo ini berisi enam buah track (sudah termasuk intro) yang cepat, intens, sound raw, dan singkat. Ya, tipikal style yang mereka bawakan.

Pembahasan lirik seputar sosial dan scene. Mereka mencoba menyindir sikap para koruptor yang selalu sehat ketika berbuat dan mendadak sakit ketika ingin diadili yang dibawakan dalam track berjudul "Sehat Pas Ngambil, Sakit Pas Ditangkap". Dan mencoba tegas dalam track "Harus Utamakan Keadilan Untuk Masyarakat". Bercerita sedikit tentang kegembiraan datang dalam sebuah gig dan terlibat pogo pada track "Mosh Machine". Serta mencoba mengatakan bahwa tidak ada yang dapat dihasilkan dari perang kecuali kepedihan dalam track "Untitled". Mereka turut pula menyajikan kutipan puisi Alm.Sondang Hutagulung dalam track "Ketika Aku Tak Punya Rasa".


Direkomendasikan bagi kalian yang gemar mendengarkan Infest, No Comment, Man Is The Bastard, Larm, Siege, dan sejenisnya.(AL)

Total Sumuk: Pesta Kostum Dalam Cuaca Panas

Berawal dari kejenuhan dengan konsep gig yang cenderung monoton. Manusia Tampan Collective bersama dengan A.C.H.C (Atlas City Hardcore) menyelenggarakan sebuah acara musik berlabel Independen yang mereka beri nama TOTAL SUMUK Costume Party di PRECIOUS88, Jl. Supriyadi, Semarang. Acara ini diberi judul Total Sumuk dengan maksud merepresentasikan kota Semarang yang akhir-akhir ini temperatur udaranya sangat tinggi, di angka kisaran 39 derajat setiap harinya, benar-benar sumuk atau gerah dalam Bahasa Indonesia yang berarti panas dan di dukung pula suhu udara di lokasi acara yang juga panas, jadi cocok banget dengan nama acaranya. Tujuan dari konsep Costume Party ini sendiri bertujuan ingin sesekali menanggalkan semua atribut kultur dari cara berpakaian genre musik tersebut, sesekali pakai pakaian yang aneh-aneh, gokil, biar lebih seru dan menarik. (Hanafi)













Minggu, 06 Oktober 2013

El Gringo: Trio Garasi Yang Apik

El Gringo adalah trio rock asal Jakarta yang digawangi oleh Rama Indirawan (vocal, guitar), Raditya Iskandar (bass), dan Nozanda Rangkuti (drum) yang sama-sama menggilai The Carpenters hingga Sex Pistols.

Band yang baru terbentuk pada medio 2012 ini baru saja merilis debut Self Titled EP nya pada tahun ini. Menyajikan empat buah tembang yang sarat akan nuansa lo-fi, psikedelia rock, dan kadang mencoba memadukannya dengan surf rock yang semuanya dikemas dalam paket garage rock yang apik.


http://elgringoband.tumblr.com/
https://twitter.com/elgringojakarta

Kamis, 03 Oktober 2013

[LK014] CBA - Leave The Cage


Leave The Cage adalah pembuktian selama kurang lebih empat tahun mereka mengalami stuck pasca merilis Standing Hard Together. Sekaligus uji coba bagi dua motor penggerak baru yakni Alvin bass dan Oka drum yang masuk pada medio 2011, yang praktis turut membawa perubahan musik CBA.
Pada album kali ini mereka tidak lagi menggunakan nama Comeback Attack sebagaimana pada album-album terdahulu dan menyingkatnya menjadi CBA. Entah apa maksudnya.
Secara musikalitas pada album kali ini CBA menawarkan sesuatu yang baru dan akan terdengar begitu asing di telinga pendengar. Sulit untuk membandingkan CBA dengan band-band lain jika sekedar untuk medeskripsikan bagaimana musik mereka. So, kalian perlu mendengarkannya sendiri, khusyuk, dan silahkan deskripsikan sendiri.

Tanggal rilis: 3 Oktober 2013

Dengarkan lagu:



Download: CBA - Leave The Cage

Rabu, 02 Oktober 2013

Rotting Rex Jarang Manggung Tapi Produktif Rilisan

Rotting Rex. Photo by Rotting Rex doc.
Dua mincecore/grindcore asal Depok, Rotting Rex terbilang band yang jarang merasakan atmosfer pertunjukan. Entah apa yang menyebabkan mereka jarang sekali terlihat menjadi lineup dalam sebuah gig. Namun meski begitu tidak menyurutkan mereka untuk aktif mengeluarkan sebuah rilisan. Belum lama ini, drum/vokal Endhe mengabarkan dua upcoming split yang akan dirilis dalam waktu dekat ini. Satu split akan mereka lakukan bersama Camphora (Rusia) dan selanjutnya akan melakukan split bersama Paucities (Amerika Serikat). Untuk kalian yang gemar dengan musik ala (early) Proletar, Tumor Ganas, Unholy Grave, Rot, Agathocles, dan sejenisnya. Sangat direkomendasikan untuk menantikan kedua rilisan dari Rotting Rex tersebut. (AL)




Selasa, 01 Oktober 2013

Video of Today: Archagathus Live At Nabila Cafe


Yang pada hari Minggu kemarin(29/9) tidak berkesempatan hadir di Nabila Cafe, Ciraca Jakarta Timur untuk menyaksikan aksi kuintet grindcore asal Kanada, Archagathus. Beruntung ada seseorang yang sempat mendokumentasikan aksi mereka. Sedikit terobati kegamangan ini.