Saya berasa norak sekali ketika mendengar musik tipikal seperti ini, apalagi mendapati bahwa You, Fish! milik band lokal, Lefty Fish. Sejujurnya saya jarang sekali bersentuhan dengan tipkal musik yang mana memiliki part tak beraturan, spontan, juga noisy dalam satu kemasan. Tapi setidaknya karena Lefty Fish saya kembali membuka folder komputer dan memutar ulang Naked City, Electric Masada, juga Shinsekai nya Midori, yang sebelumnya hanya tersimpan begitu saja.
Berisikan lima buah lagu pada debut album milik kuartet asal Yogyakarta ini, disajikan dengan komposisi yang gila, spontanitas tinggi, cepat, noise, dan berantakan. Dipandu dengan female vocal yang terkadang meledak-ledak dan kadang mendadak misterius, seperti mengidap alter-ego. Mereka benar-benar memainkan emosional pendengar, bahkan mengacak-acaknya. Jangan harap bisa santai ketika mendengarkan Lefty Fish ataupun berharap energi terbakar, karena semuanya akan didapatkan dalam satu track yang disajikan secara tak terduga.
Bagi saya Lefty Fish adalah wujud dari kebebasan berekspresi yang liar juga menarik. Sayangnya, debut album ini hanya berisi lima lagu dengan durasi yang pendek. Seperti ada yang mengganjal. Saya berharap dapat menikmati kegilaan mereka dalam durasi yang lebih lama lagi. (AL)
Selasa, 12 Januari 2016
#review | Heaven In "Norns", Tape Cassette (Kick It Records, 2015)
Pertama kali mendengar mereka lewat demo ep berbentuk cd, yang diberikan oleh siapa saya sedikit lupa, sekitar satu setengah tahun yang lalu kalau tidak salah ep itu dirilis. Agak mentah karena tipe vokal beatdown beradu dengan nuansa mathcore ternyata nggak pas di kuping saya maaf. Tapi setelah itu terdengar kabar kalau mereka mengganti vokalis, lalu gaspol rekaman album, gosip-gosipnya.
Ya apalagi setelah Grave Behold (Bogor) memutuskan untuk bubar, makin gaspol lah Heaven In merangsak di berbagai gig di kota hujan. Karena si gitaris Heaven In ini adalah gitaris Grave Behold juga. Norns dipilih menjadi judul album mereka, saya membayangkan isi album ini berisi lirik bertemakan mitos-mitos urban legend atau kolosal gitu, yang dipadu padankan dengan gelapnya musik ala Eropa Utara misalnya, kan namanya fantasi tanpa ekspektasi, lumrah lah ya hihi.
Tujuh lagu mereka sajikan, dengan konsep full album, yeaah! Quartet noise/mathcore asal Bogor ini merilis albumnya dalam format kaset yang dirilis oleh Kick It Records. Merupakan rilisan pertama Kick It Records juga. Disambut riuh oleh track pertama yang langsung menjadi favorit berjudul "Ternyata Rencana Invasimu Lebih Meleset dari Konsepsi", riff gitar yang mudah dihapal membuat saya bergumam sendiri sesekali setelah dengernya. Langsung lanjut ke "Hidup Dalam Stigma" dan "Teori Kontra Logika", membahas tentang Nostradamus dengan ramalannya, ngebut terus ke track selanjutnya masih dengan noise noise meneror telinga. Sesal Mendesak, lalu track favorit saya yang kedua "Hening Senyap dan Abadi", pertama saya baca liriknya dulu baru dengerin, memang sudah suka liriknya sih hihi. Track selanjutnya adalah re-issue dari demo ep mereka nih, "Siklus Seorang Hamba", lebih matang dari sebelumnya, jauh lebih matang sih, percayalah. Ditutup oleh "Mereka Semua Berkata Akan Pergi ke Elysium".
Semua lagu dibuat gitaris mereka Robby “Oben” dan semua lirik ditulis oleh sang vokalis Aditya “Ucok”. Oh ya, dua personil lainnya, yang mengisi drum adalah Dyka dan gitar satu lagi adalah Derul. Juga mereka baru menyelesaikan tur nya sebelum tahun baru kemarin, ke empat kota: Bekasi, Tegal , Bandung, dan Cipanas. Semoga masuk surga yeaah! Bagi kalian yang suka band–band dark hardcore/noise/mathcore ala-ala Birds In Row, Code Orange Kids, Converge , sampai ke dalam negeri nya seperti Alice. (Fauzan)
Ya apalagi setelah Grave Behold (Bogor) memutuskan untuk bubar, makin gaspol lah Heaven In merangsak di berbagai gig di kota hujan. Karena si gitaris Heaven In ini adalah gitaris Grave Behold juga. Norns dipilih menjadi judul album mereka, saya membayangkan isi album ini berisi lirik bertemakan mitos-mitos urban legend atau kolosal gitu, yang dipadu padankan dengan gelapnya musik ala Eropa Utara misalnya, kan namanya fantasi tanpa ekspektasi, lumrah lah ya hihi.
Tujuh lagu mereka sajikan, dengan konsep full album, yeaah! Quartet noise/mathcore asal Bogor ini merilis albumnya dalam format kaset yang dirilis oleh Kick It Records. Merupakan rilisan pertama Kick It Records juga. Disambut riuh oleh track pertama yang langsung menjadi favorit berjudul "Ternyata Rencana Invasimu Lebih Meleset dari Konsepsi", riff gitar yang mudah dihapal membuat saya bergumam sendiri sesekali setelah dengernya. Langsung lanjut ke "Hidup Dalam Stigma" dan "Teori Kontra Logika", membahas tentang Nostradamus dengan ramalannya, ngebut terus ke track selanjutnya masih dengan noise noise meneror telinga. Sesal Mendesak, lalu track favorit saya yang kedua "Hening Senyap dan Abadi", pertama saya baca liriknya dulu baru dengerin, memang sudah suka liriknya sih hihi. Track selanjutnya adalah re-issue dari demo ep mereka nih, "Siklus Seorang Hamba", lebih matang dari sebelumnya, jauh lebih matang sih, percayalah. Ditutup oleh "Mereka Semua Berkata Akan Pergi ke Elysium".
Semua lagu dibuat gitaris mereka Robby “Oben” dan semua lirik ditulis oleh sang vokalis Aditya “Ucok”. Oh ya, dua personil lainnya, yang mengisi drum adalah Dyka dan gitar satu lagi adalah Derul. Juga mereka baru menyelesaikan tur nya sebelum tahun baru kemarin, ke empat kota: Bekasi, Tegal , Bandung, dan Cipanas. Semoga masuk surga yeaah! Bagi kalian yang suka band–band dark hardcore/noise/mathcore ala-ala Birds In Row, Code Orange Kids, Converge , sampai ke dalam negeri nya seperti Alice. (Fauzan)
Senin, 11 Januari 2016
#review | Efek Rumah Kaca "Sinestesia", CD (Self Released, 2015)
Saya tidak terlalu peduli ketika mereka merilis single "Biru", entah mengapa single tersebut tidak mencuri perhatian saya sama sekali. Sebab saya mulai pasrah dengan nasib trio pop minimalis Jakarta satu ini, setelah mereka bertransformasi menjadi Pandai Besi. Saya pikir ketika itu, "apa yang bisa mereka lakukan lagi ? Lihat mereka mengubah lagu lama sedemikian rupanya. Tetap saja mereka hanya sedang membunuh bosannya." Lalu saya mulai meremehkan ERK dalam wujud album ketiga nya sebagai sesuatu yang mandul inovasi.
Selang itu, single "Putih" dikeluarkan. Berlanjut hingga Sinestesia dikabarkan telah rampung dan siap rilis. Ketika itu saya tarik semua ucapan sebelumnya. Ternyata apa yang saya takutkan tidak terjadi, mereka tidak mandul inovasi, justru sebaliknya. ERK diluar ekspektasi saya. Mulai dari konsep fragmentasi pada masing-masing lagu berjudul besar (Merah, Biru, Jingga, Hijau, Putih, dan Kuning), komposisi musiknya yang variatif dengan part yang harmonis antara satu sama lain, musiknya yang mampu menghidupi liriknya menjadi sedemikian hidupnya, album ini mengajak saya berpetualang untuk merasakan pengalaman yang ERK ingin bagikan melalui musiknya.
Dengan durasi yang panjang perlagunya, saya sempat bosan. Khususnya pada intro lagu "Merah" saya mulai merasa tak kerasan di telinga, namun ERK benar-benar memberi kejutan, sehingga saya menjadi penasaran dibuatnya. Saya melupakan bosannya mendengarkan lagu berdurasi panjang, karena saya tau bahwa pasti ada sesuatu yang berbeda juga mengagetkan yang akan mereka berikan.
Selamat Cholil, Adrian, dan Akbar. Album ini menyenangkan. (AL)
Selang itu, single "Putih" dikeluarkan. Berlanjut hingga Sinestesia dikabarkan telah rampung dan siap rilis. Ketika itu saya tarik semua ucapan sebelumnya. Ternyata apa yang saya takutkan tidak terjadi, mereka tidak mandul inovasi, justru sebaliknya. ERK diluar ekspektasi saya. Mulai dari konsep fragmentasi pada masing-masing lagu berjudul besar (Merah, Biru, Jingga, Hijau, Putih, dan Kuning), komposisi musiknya yang variatif dengan part yang harmonis antara satu sama lain, musiknya yang mampu menghidupi liriknya menjadi sedemikian hidupnya, album ini mengajak saya berpetualang untuk merasakan pengalaman yang ERK ingin bagikan melalui musiknya.
Dengan durasi yang panjang perlagunya, saya sempat bosan. Khususnya pada intro lagu "Merah" saya mulai merasa tak kerasan di telinga, namun ERK benar-benar memberi kejutan, sehingga saya menjadi penasaran dibuatnya. Saya melupakan bosannya mendengarkan lagu berdurasi panjang, karena saya tau bahwa pasti ada sesuatu yang berbeda juga mengagetkan yang akan mereka berikan.
Selamat Cholil, Adrian, dan Akbar. Album ini menyenangkan. (AL)
Much Bercerita Cinta Dalam Single Terbaru
Duo indie-rock asal Malang, Much, merilis single terbaru bertajuk "Break Heart, Break Apart" melalui soundcloud resmi mereka. Singe terbaru tersebut adalah sebuah awal dari album kedua yang sedang mereka persiapkan rilis pertengahan tahun ini.
Duo Aulia Anggia (vokal) dan Dandy Gilang (gitar) pada kesempatan kali ini turut melibatkan Risang (gitar), Vino (bass), dan Pandu (drum) sebagai pemain pembantu.
Lagu "Break Heart, Break Apart" sendiri mengkisahkan sepasang sejoli yang menuangkan semua perasaannya dalam sebuah lagu. "Lagu ini memperlihatkan bagaimana seseorang mencintai pasangannya yang cukup menyebalkan dansuch a mess baginya, namun sejatinya ia juga menyadari bahwa dirinya juga menyebalkan. Menurutnya tidak selamanya ketidak sempurnaan itu buruk, terkadang ketidak sempurnaan itu yang bisa melengkapi kesempurnaan kita," tutur mereka.
Much sebelumnya sudah merilis debut album bertajuk Closest Things I Can Relate To dalam format cakram padat pada pagelaran Record Store Day 2015 lalu, di bawah bendera label Haum Entertainment. Yang mana album tersebut kemudian dirilis kembali dalam bentuk kaset pita lengkap dengan kode unduh mp3 sera berisi kumpulan lirik dan chord gitar.
"Semoga Much dapat menjadi kitab suci bagi dedek-dedek indies Nusantara untuk menerjemahkan cinta kasih di usia peralihan," pungkas mereka. (Sar)
Duo Aulia Anggia (vokal) dan Dandy Gilang (gitar) pada kesempatan kali ini turut melibatkan Risang (gitar), Vino (bass), dan Pandu (drum) sebagai pemain pembantu.
Lagu "Break Heart, Break Apart" sendiri mengkisahkan sepasang sejoli yang menuangkan semua perasaannya dalam sebuah lagu. "Lagu ini memperlihatkan bagaimana seseorang mencintai pasangannya yang cukup menyebalkan dansuch a mess baginya, namun sejatinya ia juga menyadari bahwa dirinya juga menyebalkan. Menurutnya tidak selamanya ketidak sempurnaan itu buruk, terkadang ketidak sempurnaan itu yang bisa melengkapi kesempurnaan kita," tutur mereka.
Much sebelumnya sudah merilis debut album bertajuk Closest Things I Can Relate To dalam format cakram padat pada pagelaran Record Store Day 2015 lalu, di bawah bendera label Haum Entertainment. Yang mana album tersebut kemudian dirilis kembali dalam bentuk kaset pita lengkap dengan kode unduh mp3 sera berisi kumpulan lirik dan chord gitar.
"Semoga Much dapat menjadi kitab suci bagi dedek-dedek indies Nusantara untuk menerjemahkan cinta kasih di usia peralihan," pungkas mereka. (Sar)
Beeswax Kritisi Pembangunan The Rayja Resort Melalui 'Wellspring'
BEESWAX adalah nama baru skena indie Malang yang sedang ramai dibicarakan. Mereka menawarkan musik tipikal mid-west sound layaknya American Football, Capz N Jazz, Texas is the Reason, dan sejenisnya. Belum lama ini mereka merilis sebuah single bertajuk "Wellspring", sebuah lagu yang berangkat dari fenomena pembangunan hotel di Kota Batu.
"Wellspring adalah refleksi tentang format kepedulian tentang sebuah masalah. Apakah kami terlalu sibuk dengan masalah sendiri sehingga tidak peduli dengan masalah lingkungan atau kami peduli tapi dengan effort minim," ungkap mereka.
Mereka mengkritisi dampak yang terjadi dari pembangunan hotel The Rayja yang terletak di Kota Batu, lalu menyebabkan Mata Air Gemulo yang hanya berjarak 100M dari lokasi hotel tidak dapat berfungsi lagi. Padahal, menurut penuturan mereka, sebelum adanya pembangunan hotel saja, kondisi Mata Air Gemulo sudah mulai mengkhawatirkan karena tingkat debutnya menurun.
Polemik pembangunan hotel The Rayja yang dimodali oleh PT. Panggon Sarkasa Sukses Mandiri (PT PSSM), sudah bergulir sejak 2013 lalu. Ketika itu warga sekitar dibantu oleh Forum Masyarakat Peduli Mata Air (FMPMA) Kota Batu, mencoba mengajukan gugatan secara perdata ke Pengadilan Negeri Malang. Mereka menuntut ganti rugi Rp 318 miliar karena pembangunan hotel tiga lantai dengan 88 kamar itu mengancam kelestarian sumber air Gemulo yang berfungsi untuk pertanian dan air minum.
Pada 2014, warga menang melalui putusan Pengadilan Negeri Kota Malang. Namun awal Januari 2016 ini, kasasi hotel The Rayja diterima dan pembangunan kembali berjalan.
"Warga sempat demo, beberapa kali sampai saat ini, tapi nampaknya perjuangan belum usai. BEESWAX sebagai musisi punya hak untuk ikut andil dalam protes dalam bentuk lagu. Prospek lagu sebagai media protes bisa membantu lewat berbagai media," tandas mereka. (AL)
"Wellspring adalah refleksi tentang format kepedulian tentang sebuah masalah. Apakah kami terlalu sibuk dengan masalah sendiri sehingga tidak peduli dengan masalah lingkungan atau kami peduli tapi dengan effort minim," ungkap mereka.
Mereka mengkritisi dampak yang terjadi dari pembangunan hotel The Rayja yang terletak di Kota Batu, lalu menyebabkan Mata Air Gemulo yang hanya berjarak 100M dari lokasi hotel tidak dapat berfungsi lagi. Padahal, menurut penuturan mereka, sebelum adanya pembangunan hotel saja, kondisi Mata Air Gemulo sudah mulai mengkhawatirkan karena tingkat debutnya menurun.
Polemik pembangunan hotel The Rayja yang dimodali oleh PT. Panggon Sarkasa Sukses Mandiri (PT PSSM), sudah bergulir sejak 2013 lalu. Ketika itu warga sekitar dibantu oleh Forum Masyarakat Peduli Mata Air (FMPMA) Kota Batu, mencoba mengajukan gugatan secara perdata ke Pengadilan Negeri Malang. Mereka menuntut ganti rugi Rp 318 miliar karena pembangunan hotel tiga lantai dengan 88 kamar itu mengancam kelestarian sumber air Gemulo yang berfungsi untuk pertanian dan air minum.
Pada 2014, warga menang melalui putusan Pengadilan Negeri Kota Malang. Namun awal Januari 2016 ini, kasasi hotel The Rayja diterima dan pembangunan kembali berjalan.
"Warga sempat demo, beberapa kali sampai saat ini, tapi nampaknya perjuangan belum usai. BEESWAX sebagai musisi punya hak untuk ikut andil dalam protes dalam bentuk lagu. Prospek lagu sebagai media protes bisa membantu lewat berbagai media," tandas mereka. (AL)
Arc Yellow Rekam 'Blow Project' Dalam Garasi
Ketika itu trio Arc Yellow baru saja menyelesaikan setnya untuk pagelaran Senandung Semesta: Pre-event Pasar Seni ITB 2014. Alih-alih langsung balik ke Depok, mereka mampir dulu ke rumah seorang teman di Kiara Condong, Bandung. Kunjungan kali itu dijadikan momentum untuk berkarya, dengan memanfaatkan studio garasi, akhirnya secara spontan merekam tiga lagu secara live yang kemudian mereka beri tajuk Blow Project.
"Proses rekamannya sendiri terbilang nekat, one kill one shoot, karena memang awalnya kami hanya iseng nge-jam dan ingin merasakan equipment studio yang terbilang antik dan sangat berdebu. Karena memang selain studio band, garasi tersebut juga dijadikan gudang," tutur mereka.
Mereka menambahkan, bahwa hanya butuh waktu 30 menit untuk merekam tiga lagu tersebut: "Alfa Male", "The Pink Stripes", dan "Not Right" dari The Stooges. Hal tersebut dikarenakan waktu yang mepet sementara mereka harus kembali pulang ke Depok. Sementara itu untuk urusan mixing dan mastering pun berjalan dengan singkat. Mereka hanya membutuhkan waktu sehari semalam tanpa adanya revisi sama sekali.
"Karena kami tidak ingin terlalu banyak mengubah sound gitar, bass, drum, dan vokal. Kami ingin semua terdengar mentah dan apa adanya," ungkap mereka.
Dalam Blow Project ini, mereka dibantu oleh Yopi Rizkia untuk mixing dan mastering dan Eggy Surachman untuk artwork. Blow Project bisa dinikmati secara gratis melalui akun soundcloud Arc Yellow terhitung tanggal 9 Januari kemarin. (AL)
"Proses rekamannya sendiri terbilang nekat, one kill one shoot, karena memang awalnya kami hanya iseng nge-jam dan ingin merasakan equipment studio yang terbilang antik dan sangat berdebu. Karena memang selain studio band, garasi tersebut juga dijadikan gudang," tutur mereka.
Mereka menambahkan, bahwa hanya butuh waktu 30 menit untuk merekam tiga lagu tersebut: "Alfa Male", "The Pink Stripes", dan "Not Right" dari The Stooges. Hal tersebut dikarenakan waktu yang mepet sementara mereka harus kembali pulang ke Depok. Sementara itu untuk urusan mixing dan mastering pun berjalan dengan singkat. Mereka hanya membutuhkan waktu sehari semalam tanpa adanya revisi sama sekali.
"Karena kami tidak ingin terlalu banyak mengubah sound gitar, bass, drum, dan vokal. Kami ingin semua terdengar mentah dan apa adanya," ungkap mereka.
Dalam Blow Project ini, mereka dibantu oleh Yopi Rizkia untuk mixing dan mastering dan Eggy Surachman untuk artwork. Blow Project bisa dinikmati secara gratis melalui akun soundcloud Arc Yellow terhitung tanggal 9 Januari kemarin. (AL)
Jumat, 08 Januari 2016
Warmouth Bergabung Dengan Samstorng Records Untuk Debut Album
Trio Made Dharma (gitar-vokal), Rahmat Gunawan (drum), dan Kurniawan Laksono (bass) yang tergabung dalam Warmouth, mengabarkan telah tekan kontrak dengan Samstrong Records. Sebagai langkah pertama, dua pegiat skena asal Yogyakarta tersebut akan bekerja sama untuk merilis debut album Warmouth dengan judul yang masih dirahasiakan. "Setelah 2 tahun sejak pertama kita terbentuk di akhir 2013, kita sangat senang untuk bisa bekerjasama dengan Aditya Ageng dari Samstrong Records untuk album perdana kita. Kita telah mengenal dia sejak sebelum proyek band ini terbentuk. Dia adalah salah satu orang yang sangat berdedikasi di scene hardcore/bawah tanah," ujar Made Dharma.
Made menambahkan, proses yang panjang dan cobaan yang banyak dalam Warmouth selama ini, membuat bandnya mencoba melihat kembali pada apa yang sebelumnya dilakukan dan menaruh mereka pada perspektif yang berbeda sekarang.
Warmouth terbentuk pada akhir tahun 2013 oleh Made Dharma, setelah keluar dari Deadly Weapon, dengan mengajak Rahmat Gunawan (Energy Nuclear, LKTDOV, Maur) untuk mengisi drum dan kawannya, Kurniawan Laksono pada bass. Trio ini telah memiliki demo pertama, yang dirilis hanya beberapa minggu sejak terbentuk. Juga album split dengan Cloudburst yang dilanjutkan dengan melakukan tur Jawa bersama. Sementara ini, untuk kebutuhan debut album nanti, Warmouth masih dalam tahap rekaman 11 lagu yang dimulai per-Januari tahun 2016. Rencananya album tersebut sudah bisa rilis pada April nanti. (AL)
Made menambahkan, proses yang panjang dan cobaan yang banyak dalam Warmouth selama ini, membuat bandnya mencoba melihat kembali pada apa yang sebelumnya dilakukan dan menaruh mereka pada perspektif yang berbeda sekarang.
Warmouth terbentuk pada akhir tahun 2013 oleh Made Dharma, setelah keluar dari Deadly Weapon, dengan mengajak Rahmat Gunawan (Energy Nuclear, LKTDOV, Maur) untuk mengisi drum dan kawannya, Kurniawan Laksono pada bass. Trio ini telah memiliki demo pertama, yang dirilis hanya beberapa minggu sejak terbentuk. Juga album split dengan Cloudburst yang dilanjutkan dengan melakukan tur Jawa bersama. Sementara ini, untuk kebutuhan debut album nanti, Warmouth masih dalam tahap rekaman 11 lagu yang dimulai per-Januari tahun 2016. Rencananya album tersebut sudah bisa rilis pada April nanti. (AL)
Kamis, 07 Januari 2016
Take Kontrol Rilis "The Time" Sebagai Pemanasan
Kuartet oldschool hardcore asal Sukoharjo, Take Kontrol, belum lama ini merilis single bertajuk "The Time". Single bebas unduh tersebut, sengaja mereka keluarkan sebagai pemanasan sebelum rilisnya mini album. Rencananya label kota yang sama, Hit And Burn Records yang akan bertugas merilis mini album milik Anggit (vokal), Fareza (gitar), Iwan (bass), dan Bintoro (drum) satu ini.
Direkomendasikan untuk para pendengar Pointing Finger, Youth of Today, Floorpunch, etc.
Download single mereka, di sini. (Babai)
Direkomendasikan untuk para pendengar Pointing Finger, Youth of Today, Floorpunch, etc.
Download single mereka, di sini. (Babai)
Rimauman Music Rilis Kompilasi Album Band Palembang
| CD Artmoshpit Compilation Album. Photo by Rimauman |
Penggarapan Artmoshpit Compilation Album dilatar belakangi oleh perkembangan masif yang terjadi pada scene musik Palembang dalam beberapa tahun terakhir. Indikator perkembangan tersebut dapat lihat dari maraknya band-band Palembang mempublikasikan karya kreatif, merilis album, hingga melakukan tur. Dinamika tersebut terjadi di tengah kurangnya hingar-bingar scene Palembang jika dibandingkan dengan kota-kota utama seperti Jakarta dan Bandung. "Sebuah awal dari proses panjang yang bahan bakarnya adalah semua yang terlibat di depan dan belakang layar sebagai sebuah usaha untuk tidak mengekor tapi mencoba realistis dengan mengambil sikap proaktif terhadap kekurangan yang ada," tutur Rimauman Music.
Mereka menambahkan, kompilasi ini adalah bentuk usaha untuk membakar batas lokalitas bahwa apa yang dilakukan di level lokal pun bisa mendapat apresiasi secara nasional, sebuah usaha kecil yang semoga memiliki dampak yang besar.
CD kompilasi tersebut bisa didapatkan dengan harga Rp. 40.000,- dan tersebar dibeberapa titik distribusi seperti Ammunition (Medan), Flush Store (Pekanbaru), Rimbun Coffee (Padang), Rimbun Coffee (Bukit Tinggi), JCG Store (Jambi), Raw Rock Art Wear (Palembang), Obscure Division (Palembang), BringHopeToday Store (Batam), Lawless (Jakarta), Warung Musik (Jakarta), Omuniuum (Bandung), Thief Shop (Yogyakarta), Vitus Record Store (Semarang), Alpha Omega (Solo), Toko Houtenhand (Malang), C2O Library (Surabaya), dan Musick Bus (Makassar). Atau bisa kontak langsung ke rimaumanmusic@gmail.com. (AL)
Berikut daftar band yang ikut andil dalam Artmoshpit Compilation Album:
Rabu, 06 Januari 2016
[LK020] Brainwashed - EP 2015
Band: Braindwashed
Album: EP 2015
Year: 2015
Tracks:
01. Brainwashed
02. For the Kids
03. Passion
04. Stand and Fight
05. Together We Stand
Note:
Pendatang baru skena hardcore Depok. Mereka menawarkan musik energic ala band-band oldschool hardcore semacam Youth of Today, Gorilla Biscuits, CIV, etc. Namun dikemas dengan gaya yang modern.
Dengarkan lagu:
Download (Klik kanan+save as)
Album: EP 2015
Year: 2015
Tracks:
01. Brainwashed
02. For the Kids
03. Passion
04. Stand and Fight
05. Together We Stand
Note:
Pendatang baru skena hardcore Depok. Mereka menawarkan musik energic ala band-band oldschool hardcore semacam Youth of Today, Gorilla Biscuits, CIV, etc. Namun dikemas dengan gaya yang modern.
Dengarkan lagu:
Download (Klik kanan+save as)
Selasa, 05 Januari 2016
Video Live Session Homegrown YK vol. 2 Telah Rilis
Video live session HOMEGROWN YK VOL.2 secara resmi telah beredar di kanal youtube HOMEGROWN YK pada hari Minggu kemarin (3/1). Video tersebut menampilkan dua band dari Bandung yakni Diocreatura dan Poylester Embassy, juga dua band dari Yogyakarta yakni KAVVAH dan NERVOUS. Hal ini menyusul rilisnya video aftermovie HOMEGROWN YK VOL.2 di kanal yang sama sebelumnya.
Rencananya setelah video aftermovie dan live session dirilis, nantinya akan diikuti oleh peluncuran album kompilasi HOMEGROWN YK VOL.2 yang akan dirilis oleh K30Netlabel dalam format digital bebas unduh.
Pagelaran HOMEGROWN YK VOL. 2 sendiri berlangsung di Rooftop Galeria Mall, Yogyakarta pada 2 Oktober 2015 yang lalu. (Bobby)
Click here for watch
Rencananya setelah video aftermovie dan live session dirilis, nantinya akan diikuti oleh peluncuran album kompilasi HOMEGROWN YK VOL.2 yang akan dirilis oleh K30Netlabel dalam format digital bebas unduh.
Pagelaran HOMEGROWN YK VOL. 2 sendiri berlangsung di Rooftop Galeria Mall, Yogyakarta pada 2 Oktober 2015 yang lalu. (Bobby)
Click here for watch
Selasa, 29 Desember 2015
Berjuang Melawan Kanker, Lemmy Kilmister Meninggal Dunia
![]() |
| Lemmy Kilmister. Photo by google |
Pria kelahiran Inggris 1945 ini, sebelumnya dikabarkan juga mengalami masalah pada kesehatannya, musim panas lalu ia terjangkit infeksi paru-paru yang harus membuatnya membatalkan sejumlah jadwal pertunjukan. Lemmy juga pernah menderita hematoma dan mengharuskannya menggunakan defibrillator untuk jantungnya.
Bersama Motorhead, Lemmy telah menghasilkan 22 album studio yang dirilis dalam rentang waktu 1977 hingga 2015 dan beberapa proyek kolaborasi bersama beberapa figur musik ternama dunia seperti The Damned, Wendy O. Williams, Ramones, Sex Pistols, dsb. Bahkan disela-sela proses penyembuhannya, Lemmy berhasil merilis album Bad Magic pada Agustus kemarin. "Ternyata, saya masih tidak bisa dihancurkan," candanya ketika itu.
Kepergian Lemmy menjadi pukulan yang sangat berat, khususnya untuk Motorhead sendiri. Mereka mengatakan bahwa tidak ada yang bisa mengungkapkan perasaan kaget dan kesedihan ini bahkan kata-kata sekalipun. "Kami akan mengatakannya beberapa hari mendatang. Tapi untuk saat ini, silakan putar kencang Motorhead, Hawkwind, atau musik-musik Lemmy dengan keras," tandas mereka. (AL)
Senin, 21 Desember 2015
Stars and Rabbit Rilis Single Kedua
Setelah merilis album penuh perdana Constellation pada bulan Mei 2015 lalu, kini Stars and Rabbit merilis single “Like It Here”. Ini merupakan single kedua mereka, menyusul “The House” yang lebih dahulu dirilis. “Lagu ini merupakan lagu pertama yang aku ciptakan untuk Stars and Rabbit,” kata Elda. Lagu ini bercerita tentang situasi yang semakin memburuk dalam sebuah hubungan, dan berusaha untuk tetap bertahan dengan harapan keadaan akan membaik dengan sendirinya seiring berjalannya waktu. “Namun pada titik tertentu kita harus membuat keputusan terhadap hal yang tidak layak untuk dipertahankan,” ungkap Elda.
Belum lama ini sebuah kabar gembira datang dari seorang sutradara Indonesia, Joko Anwar, yang meminta lagu "Like It Here" untuk digunakan dalam trailer film terbarunya, A Copy of My Mind. Melalui film tersebut, ia pun dianugerahi penghargaan sebagai Sutradara Terbaik dalam Festival Film Indonesia (FFI) 2015. Film ini telah ditayangkan di beberapa festival film internasional di Toronto, Venezia, Korea Selatan, dan dijadwalkan tayang di bioskop Indonesia pada bulan Februari 2016.
Belum lama ini sebuah kabar gembira datang dari seorang sutradara Indonesia, Joko Anwar, yang meminta lagu "Like It Here" untuk digunakan dalam trailer film terbarunya, A Copy of My Mind. Melalui film tersebut, ia pun dianugerahi penghargaan sebagai Sutradara Terbaik dalam Festival Film Indonesia (FFI) 2015. Film ini telah ditayangkan di beberapa festival film internasional di Toronto, Venezia, Korea Selatan, dan dijadwalkan tayang di bioskop Indonesia pada bulan Februari 2016.
Minggu, 20 Desember 2015
Grunge Kicks: Masih Ada Grunge Yang Potensial
![]() |
| Click pic for enlarge |
Sehingga hal tersebut yang melatarbelakangi Grunge Kicks untuk mengadakan sebuah gigs dengan menampilkan beberapa band grunge berpotensial, serta mencoba menggandeng media baik yang berada di dalam maupun di luar skena grunge untuk berpartisipadi di dalamnya. "Sehingga besar kemungkinan akan membantu kita untuk mempublikasi kan gigs ini hingga tercipta maksud dan tujuan, yaitu mengenalkan ke khalayak luar, pecinta musik indie khususnya. Bahwa masih banyak band potensial dan sangat produktif dari skena grunge," tutur mereka.
Gigs tersebut bertajuk Endless Movement yang akan berlangsung pada 26 Desember mendatang di Rossi Music Fatmawati Lt.4. Menampilkan enam band yang menurut mereka berpotensi dan layak dilihat juga didengar, yakni Arc Yellow, Syndrome Noise, Sugar Kane, Shine Valley, SAD 94, dan Emdisi. Yang mana masing-masing band akan mendapatkan jatah durasi tampil yang cukup lama sehingga materi yang dibawakan akan tersaji secara maksimal. "Semoga kami dan semua orang yang melakukan pergerakan untuk memajukan skena grunge tidak kenal lelah, banyak membuat ide gila yang inovatif dan yang pasti nya tanpa akhir," tandas mereka. (AL)
Menuai Pro Kontra, The Sabotage Tetap Rilis Video Klip
![]() |
| The Sabotage. Photo by TS doc. |
Hal itu pula yang membuat timbulnya banyak pertimbangan dalam penggarapan video klip The Sabotage untuk lagu berjudul "No Peace Today Life Tomorrow" yang dirilis pada 12 Desember kemarin. "Awalnya kita ragu soal klip ini, ternyata banyak juga dari teman – teman yang support," terang vokalis," Fuckguy.
Penggarapannya sendiri dibantu oleh duo Geral Dwitama dan Denny Yosua dari Kecebur Di Tipi serta melibatkan beberapa teman dari Anti Noda69 Production, DPR Sablon, Fukker Record, Bombshell Rock Prod, Movement Record & Distribution dan Hitam Putih Musik.
Pemilihan "No Peace Today Life Tomorrow" sebagai lagu yang digarap dalam bentuk audio-visual, dikarenakan lagu tersebut cukup mewakilkan dan menyuarakan pemikiran dari The Sabotage. Lagu tersebut adalah bagian dari mini album Give Us A Freedom yang dirilis oleh Movement Records. (AL)
Jumat, 18 Desember 2015
TO DIE: Dari Floppy Disk Hingga Piringan Hitam, Kandang Burung Hingga Lunch Box
![]() |
| Indra Menus. Photo by IM doc. |
Tidak hanya itu, band yang dinahkodahi oleh Indra Menus ini pun terbilang inovatif, jika bisa dikatakan ekstrim. Cara To Die merilis albumnya terkadang diluar kebiasaan band pada umumnya. Mereka seakan menjadi band yang tak pernah puas dengan format rilisan yang begitu-begitu saja: kaset pita, CD, vinyl, dan digital. Bahkan cara pengemasan albumnya pun, terbilang gila. Dalam arti, (lagi-lagi) mereka seakan tidak puas dengan rilisan yang hanya di packaging ala kadarnya. Tak jarang mereka mengemas albumnya tersebut dengan hal-hal yang membuat kita terheran-heran sekaligus takjub.
Mau tau betapa inovatifnya To Die ? Simak hasil pantauan Lemarikota soal rilisan dengan format dan pengemasan tergila yang pernah mereka lakukan. Siapa tau pembaca ada yang tertarik mengikuti jejak mereka atau bahkan ada yang ingin lebih ekstrim lagi. (AL)
Efek Rumah Kaca Akhirnya Rilis Album Ketiga
![]() |
| (ki-ka) Cholil, Adrian, dan Akbar. Photo by ERK doc |
Trio Adrian, Cholil, dan Akbar mencoba merangkum dinamika perjalanan karir bermusik mereka dalam album ini dan berusaha mengajak penggemarnya untuk turut serta di dalamnya. "Album Sinestesia mengajak penggemar Efek Rumah Kaca bersama-sama menikmati perjalanan musikalitas Efek Rumah Kaca dari album pertama, kedua, hingga perubahan gaya bermusiknya di album ketiga ini," tulis mereka dalam press release yang LK terima.
Lebih lanjut, mereka menuturkan bahwa, album ini begitu sinematis, karena akan mengajak pendengarnya mengembara menuju alam khayal masing-masing.
Album Sinestesia ini bisa didapatkan melalui platform music iTunes. Klik di sini untuk mendapatkan album terbaru mereka. (AL)
Rabu, 16 Desember 2015
#youshouldknow | Kelakar: Merasakan Musik Humor Kompleks
![]() |
| Kelakar (ki-ka: Didi, Bistok, 'r, dan Wisnu) Photo by Kelakar doc. |
Hal tersebut yang menjadi titik awal kumpulnya Didi sebagai vokal dan gitaris, Wisnu pada synthesizer dan back up vokal, Bistok pada drum dan back up vokal, dan 'r sendiri pada piano dan back up vokal. Yang kemudian pula menjadi cikal bakal Kelakar sebagai sebuah band.
Momentum bagus tersebut langsung direspon dengan cekatan oleh para personil Kelakar untuk mulai memikirkan sebuah album. "Kita mulai mengonsepkan pembuatan album agar pada saat performance, album sudah dapat diedarkan dengan quota kecil," terang mereka.
Bagi mereka yang masih asing dengan konsep musik yang Kelakar mainkan tentu akan mengernyitkan dahi. Pasalnya Kelakar tidak berada pada ranah aman, dalam maksud bermain dengan satu genre. Mereka menabrak semua batasan genre lalu memadukannya menjadi komposisi yang eksperimental. Mereka sendiri menyebutnya dengan istilah, An Indonesian band that present experimental crossover. A music that travels beyond boundaries of categorizations. "Banyak beberapa pendapat bagi mereka yang mengetahui musik jenis ini mengatakan bahwa kita seperti representasi dari beberapa proyek musik dari John Zorn & Mike Patton," tambah mereka.
Ketukan drum yang intensif dengan distorsi gitar berpadu denting grand piano dan synthesizer. Serta komposisi musik dengan improvisasi spontan, motif musik dan riff yang tak terduga, gila, menantang, dan kompleks, yang pada akhirnya mengilhami Didi mencetuskan nama Kelakar untuk band ini. "Makna penamaan dibalik Kelakar adalah memberikan sense of humor yang merupakan esensi dari kekompleksitasan karya yang kita hasilkan ini," ungkap mereka.
Di tengah kesibukan 'r sebagai pengajar piano dan pembuat music score film, Didi sebagai pengajar musik, Wisnu sebagai pengajar piano klasik, dan Bistok pengajar drums. Kelakar masih sempat untuk melangsungkan pertunjukan, terhitung selama terbentuk band Jakarta ini sudah tujuh kali manggung dan menelurkan satu buah album bertajuk Mari Kita Mulai yang dirilis CD via Apa Lo! Records, pita kaset via Alaium Records, dan re-issue CD via Indonesian Progressive Society Records.
Rencananya pada tahun 2016 mendatang mereka akan segera masuk studio rekaman demi kebutuhan album ke dua. Sembari itu, mereka sedang mencari beberapa label rekaman luar yang tertarik untuk merilis album Kelakar untuk pasaran internasional. (AL)
Jumat, 11 Desember 2015
Mengenang Panggung Pertama, Rajasinga Rilis Video Animasi
Ada yang tak biasa pada 10 Desember kemarin, khususnya untuk trio grindcore liar, Rajasinga. Pasalnya pada hari tersebut adalah titik awal perjalanan karir band yang digawangi oleh Biman pada gitar, Morrg bass, dan Revan drum. "10 Desember sebelas tahun silam, panggung pertama Rajasinga digelar. Dari situlah semua dimulai dan inilah Rajasinga, sebelas tahun kemudian. Hingga dihari ini, detik ini, kita masih tetap disini. Karena bermain musik dan berdiri di depan kalian semua, adalah sebuah kehormatan besar didalam hidup kami," ujar mereka.
Sebagai sebuah bentuk penghormatannya, mereka merilis single terbaru bertajuk "Stoned Magrib" dalam format video animasi. Lagu tersebut ditulis oleh Revan dan Morrg pada suatu magrib di kota Bukittinggi Sumatra Barat, di tengah lembah Ngarai Sianok. "Disela-sela tour, kami suka menyempatkan diri untuk mengunjungi tempat-tempat eksotis, santai sejenak dan menuai inspirasi. Karena magrib itu selalu singkat, berhentilah sebentar, nikmatilah," terang mereka.
Video animasinya sendiri digarap langsung oleh bassis Morrg, dengan tema yang berangkat dari rangkuman perjalanan Rajasinga selama sebelas tahun terakhir. Mulai dari pengalaman mendatangi tempat indah hingga menggerikan, dihadapkannya pada kondisi yang datar hingga penuh konflik, keadaan yang mengharuskan mereka mendaki lalu menurun terjal, semuanya mereka kemas menjadi dalam saga fiksi singkat yang menarik.
Namun jika ditelisik, ada yang unik. Apabila biasanya setiap band selalu merayakan momentum spesial di angka sepuluh, Rajasinga justru merayakannya pada angka sebelas. Hal ini terjadi lantaran ketidak sengajaan para personil. "Kenapa 11 ? Kenapa bukan pas di angka 10 ? Jujur saja, karena kita lupa. Skip. Hehehe," ungkap mereka.
Hal tersebut dipicu juga oleh aktivitas bermusik yang benar-benar menyita perhatian mereka dan ditambah kondisi personil yang sekarang menetap di tiga kota berbeda. Meski begitu mereka mengatakan, jarak dan komunikasi menjadi problema baru yang harus di hadapi. Tapi ya, bermusik harus tetap bisa jalan bagaimanapun caranya.
Single terbaru "Stoned Magrib" diambil sebagai single pertama dari album mendatang, III: RAJASINGA, yang rencananya dikeluarkan resmi pada tahun 2016 nanti. (AL)
Sebagai sebuah bentuk penghormatannya, mereka merilis single terbaru bertajuk "Stoned Magrib" dalam format video animasi. Lagu tersebut ditulis oleh Revan dan Morrg pada suatu magrib di kota Bukittinggi Sumatra Barat, di tengah lembah Ngarai Sianok. "Disela-sela tour, kami suka menyempatkan diri untuk mengunjungi tempat-tempat eksotis, santai sejenak dan menuai inspirasi. Karena magrib itu selalu singkat, berhentilah sebentar, nikmatilah," terang mereka.
Video animasinya sendiri digarap langsung oleh bassis Morrg, dengan tema yang berangkat dari rangkuman perjalanan Rajasinga selama sebelas tahun terakhir. Mulai dari pengalaman mendatangi tempat indah hingga menggerikan, dihadapkannya pada kondisi yang datar hingga penuh konflik, keadaan yang mengharuskan mereka mendaki lalu menurun terjal, semuanya mereka kemas menjadi dalam saga fiksi singkat yang menarik.
Namun jika ditelisik, ada yang unik. Apabila biasanya setiap band selalu merayakan momentum spesial di angka sepuluh, Rajasinga justru merayakannya pada angka sebelas. Hal ini terjadi lantaran ketidak sengajaan para personil. "Kenapa 11 ? Kenapa bukan pas di angka 10 ? Jujur saja, karena kita lupa. Skip. Hehehe," ungkap mereka.
Hal tersebut dipicu juga oleh aktivitas bermusik yang benar-benar menyita perhatian mereka dan ditambah kondisi personil yang sekarang menetap di tiga kota berbeda. Meski begitu mereka mengatakan, jarak dan komunikasi menjadi problema baru yang harus di hadapi. Tapi ya, bermusik harus tetap bisa jalan bagaimanapun caranya.
Single terbaru "Stoned Magrib" diambil sebagai single pertama dari album mendatang, III: RAJASINGA, yang rencananya dikeluarkan resmi pada tahun 2016 nanti. (AL)
Kamis, 10 Desember 2015
Pesta Peluncuran Album The Edge Tanpa Jarak
![]() |
| Bernyanyi bersama di pesta peluncuran album The Edge. Photo by The Edge doc. |
Waktu menunjukan pukul 20.30 WIB menandakan band pertama untuk tampil memanaskan party malamitu. Total ada 12band yang meramaikan party malam itu, satu hal yang menarik perhatian adalah di mana lineup yang akan tampil 80% merupakan band baru yang menjamur diranah skena hc/punk Jakarta, Tanggerang Selatan, Bogor, dan Depok. Diantaranya adalah No Choice, Tsamscore, B.U.R.R.I.E.D, One Step Beyond, Aerlele, Antahberantah, The Silent, Whereless, Perfectshionshit, Nutmeg, Roosterfight, dan Beneath the Whele.
Para band pembuka tampil secara gerilya nyaris tanpa jeda memanaskan ruang sempit 5x5m stage diving dan circlepit pun tak terelakan dengan oksigen yang semakin berkurang, menambah euphoria pada launching album jilid 2 ini. Keintiman dan intensitas pertemanan menambah semarak acara malam itu, di mana tidak ada jarak sama sekali anatara penonton dan penampil.
The Edge yang digawangi oleh Lepoy, Amon, Apong, Hendra, dan Tommy berhasil mengorganisir acara dengan baik plus menghadirkan band-band baru yang berkembang di sekelilingnya secara kasat mata tittle Don’t Foget Your Roots memulai genderangnya dengan baik.
Bagi yang suka mendengarkan 80’shc/punk seperti Bad Brains, Black Flag dan Minor Threat, sila memburu album mereka. (Budi Cole)
Langganan:
Postingan (Atom)


















