Rabu, 27 Januari 2016

Talamariam: Bukan Band Hanya Kolektif Pendongeng Luka

Gaung Talamariam mungkin jauh dari hingar bingar pembicaraan, namun jejak mereka ada di mana-mana. Mulai dari cafe, bar, hingga ruang-ruang solidaritas. Mereka hadir sebagai representasi dari kerumunan orang yang volume suaranya diperkecil dan merasakan kegelisahan terhadap ketimpangan yang dihadapi dalam keseharian.

Melalui musik ala spoken word mereka mencoba meruntuhkan tembok para perugi. Suara mereka lantang terdengar di tengah aktivis, mahasiswa, hingga korban kejahatan agraris seperti di Rembang. Meski begitu mereka enggan disebut sebagai sebuah band. "Talamariam hanyalah pendongeng keliling, bukan grup band seperti yang kalian bayangkan. Kami hanya tukang cerita, penutur dongeng luka," ungkap kolektif asal Yogyakarta ini.

Berikut ini wawancara dengan mereka selepas rilisnya lagu terbaru bertajuk "Nafas" pada 22 Januari kemarin. (AL)


Apa yang sedang membuat kalian gundah dan gembira ketika menjawab interview ini ?
Hallo Lemarikota semoga semangat kalian masih terbakar di sana! Jujur kita gundah karna jarak dan kesibukan antar anggota kolektif musik ini, akhirnya membuat kita sempat tidur panjang. Dan gembira karna kebun rumah kami mulai diguyur air hujan!


Selain aktif dalam Talamariam, apa saja kesibukan kalian ?
Kita bukan orang sibuk sih sebenernya. Saking santainya kita malah masih eksplorasi lingkaran kolektif yang lebih luas.

Mengenai single yang baru kalian unggah di soundcloud, “Nafas”, begitu kontemplatif menurut saya. Hanya berisi instrumen, sirene, juga deru nafas. Ada cerita apa di balik lagu tersebut ?
Sebenernya itu lagu lama sih, semacam lagu pembuka disetiap penampilan kami. Jadi "Nafas" kami buat waktu itu untuk acara Jogja Zine Fest di Ace House, lupa tahunnya. Nah ada seorang kawan yang screening pemutaran video konflik Karawang, yang warga dipukul mundur dengan watercanon. Kami nggak terlibat langsung di sana, tapi kami membayangkan deru nafas orang-orang yang disemprot air. Panik kah mereka? Gentarkah? Bagi kami nafas adalah ruang jeda antara sunyi dan konflik.

Membaca hasil wawancara kalian yang mengatakan bahwa Talamariam tidak memiliki personil tetap, siapa saja bisa bergabung. Terdengar begitu kolektif. Apakah Talamariam memang sengaja hadir untuk mengakomodir kegelisahan orang lain ?
Betul. Personil kita nggak pernah tetap. Dulu emang konsepnya dua orang (Bodi dan Ayu), terus kami ngajak Iam (sekarang di Denpasar) untuk menajamkan musikalisasinya. Berjalan setahun , kemudian ada dua orang yang masuk (Dedi dan Ari). Dan akhirnya kita memutuskan siapapun bisa bergabung. Tak ada personil tetap. Beberapa waktu yang lalu kita main berdua, bertiga, atau bahkan ber tujuh! Biar rame, soalnya kalian nggak akan bisa sing along di lagu kami.

Saya tidak mendapati daftar nama personik Talamariam di setiap sosial media kalian. Apakah kalian sengaja merahasiakannya ? Atau hal ini ada hubungannya dengan statement bahwa ‘tidak ada personil tetap’ di Talamariam ?
Haha nggak serahasia itu sih, soalnya nggak begitu penting juga. Dan kebanyakan gigs yang kami mainkan dibuat temen-temen yang kita sudah kenal lingkarannya.

Sejauh mana kalian meyakini bahwa setiap individu berhak atas dirinya dan terbebas dari pemimpin ?
Sejauh kita sadar bahwa sebenarnya hidup mandiri bukan satu hal yang mustahil. Tapi kita percaya bahwa hubungan antar manusia, misalnya gotong royong itu sebuah niscaya.

Apakah kalian setuju bahwa sebuah seni hanya untuk dinikmati ? Lantas bagaimana cara kalian memperlakukan seni itu sendiri ?
Sebenarnya kami lebih suka sesuatu ada untuk alasan yang efisien. Seni bisa saja sah diciptakan untuk seni itu sendiri, namun jika itu bisa jadi sebuah kritik dalam sekali ‘lempar’, kenapa tidak? Kami nggak pernah meyakini suatu paduan seni yang baik dan benar. Sebab jika seni dengan kepentingan apapun dipaksakan kehadirannya, bisakah ia benar-benar ‘benar’? lalu yang ada hanya bingung jika kemudian pertanyaanya adalah: mana seni benar dan seni salah?bukankah kebenaran adalah hasil konsensus, suara orang banyak? Dan bisakah suara-suara itu benar-benar lepas dari dusta dan kuasa? Nah loh, malah nglantur.

Apa pendapat kalian soal band yang membawa semangat perjuang seperti Efek Rumah Kaca, Homicide, Marjinal, atau mungkin Superman is Dead ?
Nah ini repot hahaha. Homicide, kita pernah ada dalam satu lingkar diskusi di Bandung belum lama ini, orang-orangnya serius sih. ERK, kami suka musiknya-suka liriknya. Marjinal dan Superman is Dead ? Duh, sebenernya kita nggak pernah tau dari kesemua band itu niatnya apa, konon niat adanya dihati yang paling dalam. Nah kita paling ogah tuh menyelam dalam-dalam ke hati orang, nggak kuat nahan nafasnya. hahaha. Yang jelas persamaan mereka adalah kaosnya ada dimana-mana, dari Pantura sampai Jogja. Mungkin inilah indikator band ‘berhasil’.

Sejauh pengamatan saya hingga saat ini. Masyarakat sudah mulai peduli terhadap lingkungan sosial. Banyak band/musisi dengan semangat kritisisme-nya, perupa pun demikian, LSM gencar di setiap kasus agraria dan HAM, para aktivis mahasiswa sering turun ke jalan. Apakah ini tandanya suatu kemajuan ke arah yang semakin baik ?
Nggak juga sih hehehe sebenarnya kita berjalan di sirkuit yang sama. Putaran yang sama. Para pemain yang sama. Mungkin rasanya aja yang beda sejak salam dua jari Jokowi dipercaya bagian dari revolusi hahaha. Sebab banyak yang masih luput. Jika hidup adalah putaran, kami malah khawatir kita kembali ke masa lampau, dimana orang kembali bengis, dan manipulasi yang dilakukan seakan datang dari lorong waktu nun jauh di tahun-tahun lalu. Kini orang-orang semakin percaya diri tikam sana-sini, dan dunia yang sedang menyambut era kebenaran virtualnya ini, logika jadi terbalik.

Jakarta baru heboh dengan kasus peledakan bom Sarinah. Saya yakin kalian punya pandangan yang unik akan hal itu. Bagaimana kalian melihatnya ?
Yang unik dalam kasus itu adalah polisi ganteng dengan barang bermerek dan kita latah membicarakan itu. yang unik adalah disatu hari suasana mencekan, ada bom, ada penembakan-orang berduka ramai-ramai, sementara di papua suasana mencekam tiap saat, berapa banyak penembakan terjadi? Berepa banya muka yang digampar sepatu boot? Berapa banyak orang-orang dilecehkan?dan orang-orang diam saja.

Hal apa yang paling kalian benci dari kehidupan ini ? Jika berada dalam satu kesempatan, apa yang akan kalian lakukan terhadap hal tersebut ?
Sifat rakus. Sebab konon terinstal dengan baik disetiap jiwa-jiwa manusia. Diajak mancing kali ya, biar ngerti arti sabar hahaha

Apa yang akan kalian lakukan dalam waktu dekat ini ?
Diwaktu-waktu luang setelah kerja kami mempersiapkan karya baru dengan format baru. pokoknya tetap jaga keseimbangan hahaha.







Artikel Lain:

Tidak ada komentar:

Posting Komentar