Kamis, 18 Agustus 2016

Xeroxed: Original Copy, Pesta Para Penerbit Independen Jogya

Meskipun banyak pihak yang mengatakan bahwa minat membaca di era digitalisasi seperti ini kian menurun, dan berdampak pada minimnya literatur (khususnya) yang terbit kemudian. Nampaknya hal tersebut tidak bisa langsung diamini begitu saja, sebab di luar sana denyut membaca dan penerbitan literatur masih berdetak. Konkretnya pada tanggal 20 Agustus nanti, akan diselenggarakan Xeroxed: Original Copy. Sebuah pesta rilis buku yang diinisiasi oleh tiga kolektif penerbitan independen Jogya yakni Barasub, Amazing Frontier, dan RAR Editions.

Ketiga kolektif tersebut nantinya akan sama-sama merilis terbitannya, diantara lain Graos dari Barasub, Amazing Frontier Issue 01 dari Amazing Frontier dan dua judul dari RAR Editions yaitu zine dari Isnain Bahar berjudul Noun:Home dan sebuah antologi puisi Alfin Rizal berjudul Lisan Tulisan.

Sementara itu Xeroxed: Original Copy dimaknai lebih dari sekedar ajang peluncuran buku, melainkan sebagai sebuah perayaan atas kehadiran mesin xerox yang biasa mereka gunakan sebagai alat produksi. Selain itu melalui rilis pers yang kami terima, judul acara ini dipilih untuk merepresentasikan ketiga kolektif sebagai penggerak jalur alternatif penerbitan buku. "Dimana yang dilakukan adala menduplikasi sebuah ide pikiran ke dalam bentuk bacaan yang dapat disebarluaskan dan dikonsumsi publik," ungkap Titah AW -mewakili ketiga kolektif melalui rilis pers.

Selain acara inti perilisan buku tersebut, rangkaian acara akan terdiri dari ‘Xerox Party’, yaitu sebuah pameran karya perfomatif bermedia mesin fotokopi oleh tiga kolektif inisiator, lokakarya “zine making & print experiment”, acara musik yang akan menghadirkan line up DJ Brengoos, DJ Shnds, dan DJ Stanizters, dan bazaar seni. Karya dari ‘Xerox Party’ dan lokakarya zine yang diproduksi pada hari H acara juga akan dirilis bersamaan. Xeroxed: Original Copy berusaha membuat atmosfir aktivitas duplikasi masif, dan mencoba menyebarkan semangat kreatif untuk memproduksi dan menyebarkan sendiri buku-buku secara independen. Dalam konteks yang lebih luas, Xeroxed: Original Copy mencoba untuk ikut membangkitkan kembali budaya literasi di anak muda lewat karya-karya sendiri.

Untuk menikmati semua rangkaian acara Xeroxed: Original Copy, tidak dipungut biaya sedikitpun. Kalian cukup hadir langsung ke Sangkring Art Space. (AL)

Rabu, 25 Mei 2016

Belasan Band Grindcore Siap Serbu Solo

Tampaknya kota Solo harus segera mempersiapkan diri dari belasan band grindcore yang akan menginvasi wilayah tersebut. Pasalnya pada Minggu nanti (29/5) akan diselenggarakan mega-event Solo Grind Fest di Kampus ISI Solo.

Acara yang diorganisir oleh label rekaman Winsome Incorporated tersebut, menampilkan band grindcore dari Jakarta, Bandung, Semarang, Yogyakarta, Kediri, Malang, Bali, dan tentunya Solo sendiri.

Penonton hanya akan dipungut biaya Rp. 15,000,- untuk tike presale dan Rp. 20,000,- untuk tiket on the spot. Jika ingin menyaksikan band-band cadas seperti Terapi Urine, Terror of Dynamite Attack, Deadly Weapon, Corrupshit, Disfare, dll, beraksi membakar panggung dengan distorsi.

Untuk informasi lebih lengkap, kalian bisa berkunjung ke fanpage facebook atau instagram Winsome Incorporated, atau bisa juga menghubungi narahubung mereka di 081946614388 (Wildhan) atau 08164272181 (Paton). Grind on! (AL)

Selasa, 05 April 2016

Tiga Band Celtic Punk Indonesia Ikut Serta Dalam Kompilasi Internasional

Tepat dihari perayaan St.Patrick’s Day yang jatuh pada 17 Maret, sebuah proyek kompilasi internasional bertajuk “Tribute To The Pogues” resmi dirilis. Berisikan 27 lagu dari The Pogues, yang di aransemen ulang oleh 27 band dari berbagi negara, menjadikan kompilasi ini sebuah proyek yang menghubungkan antara musisi, penggiat, dan juga penggemar Celtic Punk dari berbagai penjuru dunia. Tak bisa dipungkiri, bahwa apa yang telah dimulai oleh The Pogues, band yang pertama kali mengkombinasikan musik tradisional Irlandia dengan Punk Rock dan vokalisnya yang melegenda, Shane MacGowan, telah menjadi tonggak awal Irish Folk Punk/Celtic Punk, yang pada saat ini telah menyebar ke berbagai negara, bahkan ke negara-negara yang notabene bukan menjadi tujuan emigrasi orang-orang Irlandia pada masa lalu, termasuk Indonesia.

Proyek yang digagas oleh Vladimir Andreevich, seoarang artworker dan penggiat Celtic Punk dari Novosibirsk, Russia, ini merupakan sebuah tribute pertama untuk The Pogues, lagu-lagu yang terdapat didalam kompilasi ini benar-benar materi yang masih fresh, belum pernah dipublikasikan sebelumnya. Tiap materi lagu, secara khusus direkam untuk kompilasi ini. Walaupun pada versi aseli lagu-lagu The Pogues seluruhnya berbahasa Inggris, tetapi ada sebagian kecil band yang terlibat dalam proyek ini menerjemahkan lirik lagu yang mereka aransemen ulang, kedalam bahasa negara mereka. Salah satu hal yang istimewa dari kompilasi ini adalah digunakannya beberapa bahasa seperti bahasa Inggris, Polandia, Rusia, Ukraina, dan Belarusia. Perlu disimak pula bahwa sebagian besar band-band yang berpartisipasi dalam kompilasi ini berasal dari negara-negara Ex-USSR, yang dikenal baik oleh sang penggagas proyek ini.
Kompilasi internasional Tribute To The Pogues ini juga melibatkan 3 Band Celtic Punk yang berasal dari Indonesia dan mereka sudah cukup familiar ditelinga para penikmat Celtic Punk, baik di skena Indonesia maupun skena internasional, 3 band tersebut adalah Forgotten Generation (Bandung) yang meng-cover lagu berjudul “Rain Street”, The Working Class Symphony (Surakarta) yang meng-cover lagu berjudul “Fiesta”, serta The Cloves And The Tobacco (Yogyakarta) yang berkolaborasi dengan seorang penyanyi dan penulis lagu dari Belanda, Cathy Shannon dalam “Curse Of Love”. Keterlibatan band-band lokal ini patut diapresiasi, sebab hali ini menunjukan bahwa skena Celtic Punk di Indonesia kini telah berkembang dengan pesat dan mempunyai jalinan relasi yang positif dengan skena-skena Celtic Punk global.

Berikut adalah daftar lengkap dari 27 band yang terlibat beserta lagu yang di cover:
1. The Cloves and The Tobacco (Indonesia) feat. Cathy Shannon (Belanda) – Curse of Love
2. ShamRocks (Ukraina) – Wild Unicorns of Kilkenny (Wild Cats of Kilkenny)
3. Dzieciuki (Belarusia) – Не Саскочу! (Streams Of Whiskey)
4. Craicheads (England) – Sally MacLennane
5. Craic Haus (USA) – A Pair of Brown Eyes
6. Happy Ol’ McWeasel (Slovenia) – Sunny Side of the Street
7. Middle Class Bastards (Rusia) – Big City
8. O’Hamsters (Ukraina) – Лiжко Кухулiна (The Sick Bed of Cuchulain)
9. Greenland Whalefishers (Norwegia) – Birmingham Six
10. Kelush and the Bastards feat. Chris Dutchak (Ukraina) – Fairytale of New York
11. Harley McQuinn (Rusia) – London Girl
12. Benjaming’s Clan (Rep.Ceko) – The House of Gods
13. Dirty Artichokes (Italia) – The Rake at the Gates of Hell
14. Real Blackbeards (Rusia) – Пират и Колдун (Sea Shanty)
15. CRAIC (USA) – Sayonora
16. Troty (Polandia) – Butelka Smoke (Bottle of Smoke)
17. Forgotten Generation (Indonesia) – Rain Street
18. Amach (Krimea) – Transmetropolitan
19. The Working Class Symphony (Indonesia) – Fiesta
20. Братство Непьющих Девственников (Rusia)– Boys From County Hell
21. The Humble Hooligans (USA) – Turkish Song of the Damned
22. Red Box (Rusia) – If I Should Fall from Grace with God
23. Rum Rebellion (USA) – Boat Train
24. Всё_CRAZY (Belarusia)– Ты Ушла (My Baby’s Gone)
25. Drunken Fairy Tales (Rusia)– Плот “Медузы” (The Wake of the Medusa)
26. Crow Dog Clan (Belarusia) – Oretown
27. Kozlobar (Rusia) – The Battle of Brisbane

Senin, 14 Maret 2016

Free Streaming: Elegi - Bulan Di Margonda (Demo)

Di tengah hiruk pikuk distorsi hardcore punk yang memang sudah menancap di tanah kota Depok sejak belasan tahun lalu dan semakin kuat dalam beberapa tahun belakangan ini. Hadir Elegi, yang menawarkan sesuatu yang hangat dan teduh dengan lantunan gitar akustik dan lirik kontemplatif seraya kembali menyulut semangat folk ke tengah kota Belimbing. Juga, membuat geliat musik independen Depok kian variatif.

Sayangnya Elegi belum memiliki album. Namun kalian bisa menikmati karya-karyanya yang diunggah via soundcloud. (AL)

Sabtu, 05 Maret 2016

Free Streaming: The Kuda - Hantu Laut (Official Music Video)

Pada 27 Februari kemarin, The Kuda baru saja melangsungkan hajatan kedua untuk debut album Satu Aku Sejuta Kalian yang berlangsung di Bogor. Acara tersebut adalah perayaan kedua mereka, setelah sebelumnya terselenggara di Jakarta.

Saat ini mereka telah merilis video music untuk lagu "Hantu Laut" yang menjadi bagian dalam debut album yang dirilis oleh Majemuk Records itu pada 2015 kemarin. Lagu ini adalah hasil kolaborasi mereka dengan Cholil Mahmud dari Efek Rumah Kaca yang menyumbangkan ide gilanya untuk menulis lirik.

Video ini sendiri adalah hasil dari beberapa kepala yang tergabung dan diedit oleh vokalis Adipati sendiri. (Roy)

United Hardcore Vol.4: Pesta Rilis Album Split Total Jerks dan taRRkam

Dua band yang sedang onfire di scene hardcore/punk lokal, yang datang dari dua kota berbeda, Total Jerks dari Depok dan taRRkam dari Jakarta. Melakukan sebuah kerjasama dalam proyek album split yang dirilis oleh Necros Records dalam format pita kaset. Setelah beberapa waktu lalu mereka berhasil merayakan rilisnya album split tersebut di Jakarta, kini atas inisiasi sang label, mereka akan melakukannya kembali di Depok.

Keduanya akan bermain dalam serial gigs United Hardcore yang memang sudah menjadi rutinitas dari Necros Records sendiri. Beberapa band pendukung seperti Cumload, CBA, Brainwashed, Rotting Rex, dan BURIED, turut serta meramaikan acara yang akan diselenggarakan pada Rabu mendatang (9/3). Acara ini bertempat di Room Terror yang berada di bilangan Depok II. Untuk kalian yang hadir bisa menghubungi band yang main atau bisa kontak Lemarikota untuk mendapatkan lokasi secara utuh. Dan juga karena acara ini gratis dan tidak menggunakan sponsorship, diharapkan kalian menyisikan sedikit uang untuk donasi demi keberlangsungan pihak penyelenggra dalam mengadakan gigs selanjutnya. (AL)

Kamis, 03 Maret 2016

The Cloves and The Tobacco: Kretek, Celtic Punk, dan Persahabatan

Piztt (fiddler) terkagum ketika pertama kali melihat video yang kawannya berikan. Rasa penasaran dan antusiasme yang tinggi terhadap apa yang baru didengar dan lihat menyertainya. Sayangnya Piztt tidak tau band apa gerangan karena tiadanya keterangan nama pada video tersebut. Akhirnya ia pun mencari informasi guna memenuhi hasrat keingintahuannya tersebut. "Baik melalui obrolan dengan kawan-kawan di skena lain ataupun via internet, yang saat itu kecepatannya belum seperti sekarang," tuturnya. Piztt pun menemukan jawabannya, ternyata band yang ia saksikan bernama Flogging Molly -sebuah band Celtic Punk asal Amerika Serikat.

Setelah semakin candu dengan dua album: Swagger dan Drunken Lullabies, milik idolanya itu. Piztt akhirnya tertarik untuk memulai membentuk band dengan genre serupa. Ia pun mengajak beberapa teman nongkrongnya di Jl. Cornelist Simandjuntak, untuk mulai mendirikan band. "Selain karena rasa ketertarikan, juga bertujuan untuk semakin mempererat rasa persahabatan dalam skena kami. Mengingat juga beberapa person di skena tersebut tidak mempunyai atau tidak sedang tergabung dalam sebuah band manapun," ujarnya.

Dengan alat yang sederhana, seperti Gitar Akustik pinjaman, Pianika, Recorder -seruling yang biasa dipakai dalam pelajaran seni musik di SD danSMP, Harmonika, dan tentunya dengan tambahan drum, bass, gitar elekrik milik rental studio, Piztt mulai berlatih bersama beberapa teman yang berhasil dikumpulkannya. Sebuah cikal bakal yang pada akhirnya menelurkan band celtic punk asal Yogyakatya, The Cloves and The Tobacco. Yang kini sudah memiliki dua album dan sempat mengisi soundtrack untuk film garapan sineas asal Amerika Serikat. (AL)

Sounds of Bitch Vol.03 by Robby of Bored/Rat Pack

Kemarin malam saat sedang bermalasan, masuklah sebuah pesan, ternyata dari kawan lama Lemarikota. Tak disangka sebuah tawaran membagi playlist musik favorit untuk konten mereka yang segar, dibalik hilangnya budaya tukeran mixtape. Sounds of Bitch, sangat lacur.

Sebenernya saya bukanlah seorang yang suka membagi playlist musiknya, terlebih pada orang yang tak dikenal. Akan tetapi tersadar bahwa suatu kebutuhan pula untuk membagi apa yang disuka kepada orang lain. Apalagi musik itu bagian dari hidup yang mencuri kebutuhan, kebiasaan, dan waktumu yang panjang. Ugh, tidak cukup rasanya membagi musik favorit hanya ke dalam 10 paylist. (Robby)

Rabu, 02 Maret 2016

Persahabatan Endah N Rhesa dan Dialog Dini Hari Melebur Dalam Bentuk DDHEAR

Ada hal yang menarik datang dari dua grup folk Endah N Rhesa dan Dialog Dini Hari, mereka sepakat berkolaborasi dengan nama DDHEAR. Hal tersebut berawal dari penampilan keduanya di Sanur Village Festival 2015, yang kemudian berlanjut dengan membuat lagu bersama di Bali. Pun hal tersebut dinilai sebagai bentuk mengikrarkan persahabatan yang terjalin diantara mereka, sehingga perlu didokumentasikan.

Akar musik folk yang sama namun dengan sentuhan masing-masing yang berbeda, yang menjadikan ragam musik DDHEAR menjadi sesuatu yang menarik. Sejauh ini mereka mengatakan, telah memiliki empat buah lagu yang akan dikemas dalam bentuk mini album dan akan dirilis menjelang penampilan keduanya di Java Jazz Festival 2016 yang berlangsung pada 4-6 Maret mendatang.

"Musik menembus batas perbedaan, jarak, dan waktu. DDHEAR adalah sebuah kolaborasi yang berjalan atas dasar kebahagiaan dan kenyamanan hingga rasa damai dan kesejahteraan tercipta bersama," tandas mereka. (AL)

**Foto oleh Reiproject Management

Mocca: "Bagaimana Jadinya Vokalis Burgerkill Bernyanyi Clean ?"

Kuartet musik asal Bandung, Mocca, akan merilis single terbaru berjudul "When We Were Young" dalam pagelaran Java Festival 2016 pada Sabtu (5/3) mendatang. Tidak seperti biasanya, kali ini mereka menyajikan sesuatu yang berbeda dalam single tersebut. Sebuah kolaborasi dengan Viki Mono -vokalis band metal asal kota yang sama, Burgerkill.

Berangkat dari keinginan untuk berkolaborasi dengan orang-orang yang beradan di luar lingkarang Mocca secara musikalitas, pilihan akhirnya jatuh pada Viki. Selain itu gitaris Riko Prayitno mengungkapkan rasa penasarannya terhadap Viki yang memiliki background musik berbeda dengan bandnya tersebut. “Sebenarnya kita penasaran sama suara vokalis band metal, kalau nyanyi clean seperti apa ? Nah, ternyata dijawab dengan baik oleh Viki. Sekaligus mengeksplor juga Viki yang frontman Burgerkill kalau di bawah bendera Mocca akan jadi seperti apa."

Viki sendiri merasa senang dapat menjadi bagian dalam sejarah perjalanan musik Mocca. Ia pun merasa tertantang untuk mengolah range vokal yang tepat dan menyelami swing feeling dalam lantunan musik yang berbeda dari yang biasa ia mainkan. “Menyanyikan genre musik yang teman-teman Mocca mainkan itu seperti sederhana tetapi sulit untuk menyelaminya karena banyak sekali teknik-teknik baru yang gue tidak tahu tapi itu sangat menarik sekali, ini juga alasan utama mengapa gue mau diajak kerjasama teman-teman Mocca karena gue yakin banyak hal-hal baru yang bakal didapat,” ujarnya.

Tambahnya, kolaborasi ini dianggap sebagai salah satu bukti bahwa musik itu luas. Ia tidak merasa bermasalah untuk berkolaborasi dengan band bergenre lain dengan bandnnya, sebab menurutnya, selama masih dalam garis movement yang serumpun dan visi misi
bermusik yang sama, kolaborasi bukan pilihan yang keliru. "Musik bagi gue merupakan dunia yang lapang tanpa harus terkotak-kotak oleh pembagian genre,” pungkasnya. (AL)

**Foto oleh Mocca Official

Free Streaming: Primata - Pada (New Single)

Free Streaming kali ini datang dari trio instrumental-rock asal Jakarta, Primata, dengan single terbaru bertajuk "Pada". Pada single kali ini mereka berformasi trio dengan personil lama Rama Wirawan (gitar) dan ditambah dua personil baru yakni Adhitomo Kusumo (bass) yang tercatat juga bergabung di Raksasa serta Sofyan Refliyandi (drum) yang juga bermain untuk Kelab Baca Trio Angkasa.

Sebelumnya band ini berformat kuartet dan sempat merilis single "Kupu-Kupu" pada 2014 silam, yang bisa kalian dengarkan juga dia akun soundcloud mereka. (Roy)




Minggu, 28 Februari 2016

Ed's Words: Kita Memang Senang Bermain Dalam Kegelapan

Belum sudah rasa sedih saya sirna pasca meletusnya dikotomi atas isu LGBT yang hangat dalam beberapa bulan terakhir. Sebuah fenomena yang menjadi bukti bahwa betapa intolerannya bangsa ini, mirisnya negara hukum yang membuat semua orang seolah layak menghakimi, sekaligus membuktikan sebagai bangsa yang tidak tenang dalam menghadapi sesuatu dan cenderung paranoid.

Hari ini saya kembali terperangah oleh berita mengenai pembubaran yang dilakukan sejumlah kelompok terhadap sebuah acara bertajuk Belok Kiri yang terselenggara di Taman Ismail marzuki Jakarta. Belok Kiri Festival adalah sebuah acara sekaligus ajang belajar mengenai sejarah bangsa ini yang dikemas dalam bentuk seni dan kebudayaan. Miris saya mendengar bahwa kegiatan bernas syarat ilmu ini justru mendapatkan kecaman dari berbagai pihak yang mengaku sebagai anak bangsa.

Lebih malu lagi, mereka yang menolak diselenggarakan acara tersebut datang dari berbagai kaum intelektual. Dikutip dari Viva News, kelompok yang mengecam terdiri dari: Pemuda Cinta Tanah Air (PECAT), Gerakan Pemuda Islam Indonesia (PW GPII Jakarta Raya), Kordinator Pusat Brigade Pelajar Islam Indonesia (Korpus Brigade PII), Korps Mahasiswa Gerakan Pemuda Islam Indonesia Lembaga Bantuan Hukum (LBH) DUTA, (KOPMA), Front Aktivis Jakarta (FROAJA), Himpunan Mahasiswa Lombok (HIMALO).

Lihatlah daftar kelompok tersebut, mereka datang dari gerakan pemuda dan akademisi. Mereka seharusnya bisa menjadi fasilitator dari minimnya pengetahuan sejarah bangsa ini yang menjangkiti tak sedikit masyarakat negeri ini. Kita semua berhak tau seluruh sejarah bangsa ini, bukannya membatasi dan justru mendapatinya secara setengah-setengah. Juga saya pikir mereka seharusnya adalah kelompok yang lebih terbuka dalam segala bentuk ilmu. Bukan sempit dan bisa dibilang cenderung paranoid. Belajar kok takut ? Hilang akal saya.

Sampai kapan kita membutakan mata terhadap sejarah sendiri ? Film Jagal dan Senyap yang mengangkat background sejarah Indonesia era 1965, digarap oleh orang Amerika Serikat. Bukannya saya tidak senang, tapi seharusnya hal tersebut bisa digarap oleh kita. Tapi apa yang terjadi, kita lebih kandung kagum oleh sejarah bangsa lain, hitung berapa banyak orang yang bangga dan takjub mengetahui bahwa Presiden Amerika Serikat Barack Obama pernah tinggal di Menteng dan lebih sialnya anak bangsa ini lebih tertarik menjadikannya film layar lebar, jumlah mereka tidak sedikit. Memalukan.

Saya senang mendengar cerita para nabi dan sufi dari guru ngaji, saya juga senang membaca perdebatan Bakunin dan Marx di Den Haag, saya kagum dengan cerita nasionalismenya Hatta, Soekarno bahkan Tan Malaka, Saya juga membaca tentang Washington dan sejarah Amerika Serikat. Bukan karena ingin menjadi sesuatu, saya hanya ingin mempelajarinya. Dari sana saya menjadi paham, apa yang perlu dan tidak perlu untuk diri saya sendiri, jika memungkinkan dan pantas maka untuk orang lain. Untuk melalui gua yang gelap, saya perlu berbagai cara untuk menciptakan obor yang bisa menerangi dan menuntun jalan. Saya tidak membela marxisme, komunisme, nasionalisme, atau apapun itu di sini. Saya hanya ingin menuntut hak belajar untuk semuanya. Agar bangsa ini mampu membuat obornya sendiri dan jalan perlahan mencapai ujung gua yang terang.

Sayangnya ternyata bangsa ini keburu antipati terhadap keberagaman ilmu, terlalu congkak dan merasa mampu berjalan keluar gua tanpa penerangan yang memadai. Alhasil, kadang kita saling bertabrakan dan tak jarang keserimpet kaki sendiri. Atau memang kita lebih senang hidup dalam gua yang gelap ini ?

Ketika hasrat belajar dikekang. Panjang umur kebodohan! (AL)

Sabtu, 27 Februari 2016

Kembali Dari Istirahat, Let's Go Rilis Music Video

Pasukan hardcore enerjik asal Rain City Hardcore, Let's Go akhirnya kembali produktif lagi. Sebelumnya setelah merilis debut mini album pada 2013 dan dilanjutkan mini album kedua pada 2014, mereka memutuskan untuk beristirahat sebentar sebab pekerjaan yang semakin padat. "Akhirnya, tahun 2016 ini kami mencoba untuk meluangkan waktu untuk aktivitas ini lagi karena gairah dan semangat kami belum memudar karna hal tersebut," ujar band yang terdiri dari xIjeyx (gitar), Novan (vokal), dan Mengkies (drum).

Gairah dan semangat mereka terimplementasikan dalam sebuah bentuk single terbaru berjudul "Keep It Up". Tidak tanggung-tanggung, single tersebut bahkan dirilis dalam format music video yang pekerjaannya mereka garap sendiri. Vokalis Novan bertindak sebagai director dan drumer Mengkies sebagai cameraman cum editor nya. "Alasan kami menggunakan video sebagai media ialah karena kesenangan kami di bidang videografi dan musik yang memang sangat cocok untuk digabungkan," ujar mereka.

Mereka juga menyiapkan satu materi baru lagi yang akan dirilis dalam jangka waktu berbeda. Semuanya adalah jembatan untuk album ketiga yang kali ini digarap tanpa kehadiran bassis Indra yang memutuskan untuk keluar. "Lagu ke dua masih dalam masa penggarapan vidio, jadi akan kita share via bandcamp dulu ya https://letsxgo.bandcamp.com/," tandas mereka. (AL)

Tulus Libatkan 50 Musisi Dan Rekaman Di Praha Untuk Single Terbaru

Melejit dengan album Self Titled (2011) dan ditambah dengan rilisnya album kedua Gajah (2014), membuat pria kelahiran Bukittinggi, Sumatera Barat, 20 Agustus 1987 satu ini langsung meroket dalam industri hiburan tanah air. Tidak hanya di dalam negri, Tulus melakukan ekspansi dengan single "Sepatu" yang hadir dalam bahasa Jepang dan rilis via iTunes negera setempat.

Tidak sampai disitu, Tulus kembali melakukan gebrakan. Kali ini pria asal Bandung tersebut, merilis single terbaru bertajuk "Pamit" yang mana melibatkan 50 musisi dalam proses rekamannya. Menurut TULUS Co. -label rekaman yang menanaungi Tulus, prosesi rekaman terjadi di Indonesia dan juga di salah satu studio terbesar di Praha, Republik Ceko.

Single "Pamit" rilis pada 25 Februari dalam format video lirik. Lagu yang ditulis oleh Tulus sendiri ini adalah sinyal untuk album ketiga yang sedang dalam proses penggarapan. Lagu terbaru ini juga nantinya akan hadir dalam format music video yang berkolaborasi dengan Davy Linggar -seniman lukis, foto dan video. "Berlatar suhu dingin di sebuah kota industri tua, video musik ini akan menjadi tampilan visual dari karya terbaru Tulus," ujar pihak TULUS Co. Rencananya music video ini akan rilis pada 28 Februari mendatang. (AL)

Kamis, 25 Februari 2016

Free Streaming: Ugly Bastard Live In Jakarta (Full-Set Video)

Ugly Bastard baru saja menyelesaikan rangkaian Berbagi Cerita Tentang Bali Tour di sejumlah kota di Jawa Barat. Terhitung sejak 28 Januari sampai 2 Februari 2016 kemarin, band punk asal Bali tersebut melancarkan invasinya ke sejumlah kota seperti Cibinong Jakarta Pusat, Jakarta Timur, Bekasi, Bandung, dan Cipanas.

Rangkaian tour kali ini bisa dibilang sekaligus ajang bertemu rindu dengan drumer Ihsan yang sudah beberapa tahun terakhir menetap di Jakarta. Ihsan sendiri kini terlibat dalam beberapa proyek band seperti LOA dan Afraid, dua band yang berbasis di Depok.

Berikut ini adalah full penampilan Ugly Bastard di Jakarta. (AL)

Rabu, 24 Februari 2016

Free Streaming: The Pruxx - [It's Not Real] Looking at The Camera on a TV Show (New Single)

The Pruxx datang dari Paris Van Java dan menawarkan single terbaru berjudul "(It's Not Real) Looking at The Camera on a TV Show". Riff yang liar, ketukan drum yang enerjik, dan sound mereka yang noisy, membuat kita ingin sesuatu yang liar. Berasa lagi di Ghetto Street dalam keadaan yang depresi karena problematika hidup dan tiba-tiba ketemu preman yang asshole, lalu terlibat perkelahian dengan mereka.

Kabar baiknya, mereka berencana merilis album. Belum tau kapan. Tapi kalau lo suka seattle sound, tidak ada salahnya menunggu mereka.

The Pruxx bakal menghajar muka lo semua! (AL)

Selasa, 23 Februari 2016

Ternyata Tempat Seperti Ini Bisa Juga Dipakai Untuk Gigs (Part. 2)

Melanjutkan artikel sebelumnya dengan tema yang sama. Dan demi menebus hasrat mengorganisir gigs yang mulai dibatasi oleh minimnya tempat dan mahalnya harga sewa. Juga atas nama ide ide liar yang tak terbatas. Gua akan melanjutkan mereview tempat-tempat gaib yang bisa kita pakai untuk mengorganisir gigs.

Tapi sebagai catatan kecil, menemukan tempat tempat baru untuk mengorganisir sebuah gigs tentu juga harus dibarengi dengan menjaganya. Memperkosa tempat baru untuk satu malam hanya akan membuang energi. Jaga dan rawatlah tempat yang sudah kita perjuangkan agar kelak tempat-tempat seperti ini tidak benar-benar menghilang tak bersisa.

Ayo mas bro langsung lookit aja. (Dittus)

Senin, 22 Februari 2016

Umea Hardcore DS-13 Tidak Akan Tour ke Indonesia

Grup hardcore punk asal Umea, Swedia yakni DS-13 mengabarkan akan melakukan tur ke Amerika Serikat dan Kanada pada 2016 ini. Hal tersebut mereka sampaikan melalui fanpage facebook DS-13 pada Minggu kemarin (19/02). "DS-13 US/Canada tour 2016. Spread the message far," tulis mereka.

Kabar tersebut langsung direspon oleh sejumlah fans mereka di Indonesia, yang tak sedikit berharap bisa menyaksikan DS-13 di Indonesia. Namun Jonas Lyxzen selaku gitaris menuturkan bahwa kemungkinannya terlalu kecil untuk mengadakan pertunjukan di Indonesia. "Tidak tahun ini. Tapi semoga saja secepatnya," ungkapnya kepada Lemarikota saat dihubungi via email.

Adik dari Dennis Lyxzen tersebut menambahkan, "Jika tidak, aku akan melakukannya dengan band yang lain, Bad Nerve ataupun Fanzui Xiangfa." Jika memang benar demikian, itu tandanya adalah kunjungan kedua Jonas bersama Fanzui Xiangfa yang pada 2009 sempat mengadakan SEA Tour.

DS-13 sendiri sebelumnya sempat menyatakan diri bubar pada tahun 2002 setelah eksis sejak 1996. Memutuskan untuk kembali aktif pada 2012 silam. (AL)

Sounds of Bitch Vol.02 by Hafidz Faza of Disdain

Lemarikota Webzine mengirimi pesan dan meminta saya untuk membuat playlist musik di dalam kontenmereka yang dinamakan Sounds Of Bitch. Konten yang menurut saya cukup menarik dan membuat saya tertarik untuk meng’iya’kan tawaran tersebut. Sudah banyak musik yang saya dengar dan saya harus memilih beberapa lagu, cukup aneh rasanya. Tetapi itu yang membuat saya tertarik dengan konten Sounds Of Bitch ini.

Mungkin musik yang dengarkan tidak ‘seberat’apa yang kalian dengarkan. Karena jujur, saya tak selalu mendengarkan musikyang ‘berat-berat’ itu. Saya mendengarkan musik karena saya merasa suka, senang, sesuai dengan mood dan membuat saya tertarik untuk dijadikan referensi. Terlalu naif untuk harus, kudu, wajib mendengarkan musik hanya untuk masuk ke dalam dunia orang lain yang saya sendiri tidakn yaman.
Saya tidak ingin mendeskripsikan kenapa saya memilih playlist lagu–lagu tersebut karena menurut saya, kalian yang lebih cocok untuk mendeskripsikannya. Selamat mendengarkan 10 track favorit saya dan jangan memaksa diri untuk suka. (Hafidz Faza)

Minggu, 21 Februari 2016

Panjang Umur Kalijodo, 7 Lagu Ini Bersama Kalian

Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok kelihatannya sudah yakin sekali untuk menggusur lokasi prostitusi Kalijodo yang terletak di Penjaringan, Jakarta Utara. Menurut isu yang beredar kawasan "wisata lendir" tersebut akan dialokasikan sebagai Ruang Hijau Terbuka. Terlepas dari hal ini memiliki agenda politik atau tidak. Gua rasa meniadakan prostitusi adalah bentuk bahwa masyarakat kita sudah benar-benar bisa melawan hawa nafsu khususnya dalam hal seks. Pertanyaannya adalah, apakah kita semua benar sudah bisa menahan libido ?

Gua merasa peran prostitusi itu penting dalam kehidupan sosial, karena bagaimanapun manusia membutuhkan seks. Sebelum gua menulis panjang lebar, tulisan ini tidak diperuntukan untuk kalian yang tebal iman dan memang sudah bisa menahan diri dari aktivitas seks pra-nikah. Kenapa gua katakan penting. Dengan adanya tempat prostitusi, kita bisa tau di mana libido ini harus disalurkan dengan tepat. Hal ini jauh lebih terpuji dari pada kita mengharapkan hubungan seks dengan cara yang dipaksakan dan terlebih gratisan, misalnya berpura-pura mendekati lawan jenis untuk berkenalan kemudian berharap bisa one night stand dengannya di motel murah atau yang paling hina adalah memperkosa lawan jenis.

Free Streaming: rekah - Untuk Seorang Gadis yang Selalu Memakai Malam (Debut Single)

rekah datang dari Jakarta, mereka memainkan skramz dengan nuansa yang blackened dan dibalut lirik yang puitis. Kontemplatif juga sih. Soalnya pas dengerin musik mereka, langsung teringat sesuatu gitu. Anyway, ini proyek terbarunya salah satu personil dari Amuk Redam -band skramz asal Jakarta juga. Mereka juga masuk dalam kompilasi Revolution Autumn #2, ituloh kompilasi yang fokus untuk memetakan scene emo di Indonesia. Banyak band keren di sana, cari dan beli deh fisiknya. Tapi jangan lupa untuk dengerin rekah dulu, cek tautan di bawah ini. (Roy)

Free Streaming: OATH - Saksi Bisu Kesakitan / Terbekam (New Single)

Kuartet sludge/crust asal Bandung, OATH, rilis single terbaru mereka. Silahkan dengar langsung di bawah ini. Untuk para penikmat EyeHateGod, Noothgrush, dan Corrupted.

Sebagai informasi tambahan, vokalis mereka (Hera) sedang menggarap film dokumenter seputar aktifitas perempuan di scene punk loh. Baca interviewnya di sini: Ini Scene Kami Juga!.(AL)

Trio Pop Punk Fiv Card Miracle Bawakan Tembang Dangdut

Band pop punk asal Depok, Fiv Card Miracle yang kini telah menjadi trio setelah hengkangnya bassis dan drumer mereka beberapa waktu yang lalu. Menayangkan sebuah video yang tidak biasa, mereka mengcover sebuah tembang dangdut milik penyanyi Ikke Nurjanah berjudul "Selalu Milikmu".

Dalam video tersebut FCM yang kini digawangi oleh Gmux (gitar), Aray (vokal), dan Icad (gitar) bersama dua orang bassis dan drummer tambahan membawakannya dengan cara mereka namun tidak menghilangkan unsur dangdut secara keseluruhan. Walaupun vokalis Aray tidak bercengkok ria layaknya para biduan dangdut pada umumnya, namun FCM membuktikan bahwa band punk bisa mengcover lagu apapun. "Siapa bilang anak punk gabisa cover lagu dangdut. Cek nih," tulis mereka pada fanpage Facebook FCM.

Tonton deh video mereka di bawah ini. (Akim)

Sabtu, 20 Februari 2016

Minim Kesadaran Untuk Menjaga, Twice Bar Milik JRX SID Tutup

Ada kabar kurang menyenangkan datang dari Bali, selain tentunya kasus Reklamasi Teluk Benoa yang semakin meradang, juga tersiar kabar bahwa Twice Bar resmi tutup pertanggal 17 Februari 2016. Bar milik JRX drumer Superman is Dead tersebut tutup lantaran, menurut sang pemilik, karena minimnya dukungan dari segelintir orang yang berkunjung ke sana. "Masih banyak yang beli minuman di luar bar. Masih banyak yang hanya menuh-menuhin bar tanpa mau berkontribusi," ujar JRX.

Lanjutnya, masih ada pula pengunjung yang beli minuman dari luar namun mabuknya di Twice Bar. Selain itu maraknya minimarket di sekitar tempat dan juga intervensi pihak kepolisian juga menjadi kendala di tutupnya Twice Bar. "We tried everything, mencoba memakai tiket dan melarang orang membawa minuman dari luar. Namun tidak ada efeknya," keluhnya.

JRX mengaku bahwa Twice Bar didirikan atas passion untuk memberikan taman bermain bagi tumbuh kembangnya band bawah tanah yang ada di Bali. Namun menurutnya, hal tersebut tidak disertai dukungan yang layak. "Dan passion tanpa support adalah passion yang pincang. Ketika kepincangan terjadi berkali kali dan ia tak kunjung menunjukkan tendensi positif. Maka hanya ada satu jalan keluar dari lingkaran ini, its time to say good bye. Thanx for all the good times and, obviously, the bad!" tandasnya.

Twice Bar adalah salah satu tempat yang intens mengadakan pertunjukan musik bagi band-band bawah tanah di Bali juga Luar Bali. Berbagai band dengan latar belakang musik pernah main di sana, di antaranya Real Project, Kontradiksi, Ugly Bastard, Devildice, Dialog Dini Hari, Error Brain, Navicula, Bigger Boss Sound (Polandia), Mom's Day (Jerman), dan masih banyak lagi band lokal ataupun internasional lainnya yang pernah merasakan atmosfir di sana. (Roy)

=================================================================

Opini nyelip:
Sebenarnya ini bukan masalah apa tempatnya, tapi bagaimana kita menjaga tempat tersebut, apapun tempatnya, entah itu bar/cafe, GOR, ballroom, apalagi studio music. Perlu diakui bahwa hal yang terjadi pada Twice Bar, juga pernah dialami oleh berbagai teman dari belahan kota manapun di Indonesia. Yang terdekat mungkin isu ditutupnya Rossi Music Fatmawati oleh pihak kepolisian setempat, lantaran pemicunya keributan hingga menelan korban jiwa di salah satu konser musik yang ada di Jakarta Selatan. Sehingga Rossi yang terdaftar dalam wilayah tersebut juga ikut terkena imbasnya. Beruntungnya kini Rossi sudah mulai beroperasi kembali.

Sementara itu pula, tak sedikit tempat pertunjukan yang harus ditutup karena ulah kita sendiri. Yang pada akhirnya merugikan berbagai pihak yang berada dalam sebuah susunan acara: panitia, band, dan penonton yang benar-benar datang ingin menikmati musik. Ini masalah klasik yang tak pernah berakhir sepertinya. Tapi jika kita tidak benar-benar sadar untuk merubah mental ketika berada dalam sebuah acara, membeli tiket, menjaga harmonisasi diantara yang lain, dan tidak menimbulkan keributan. Akan tidak mungkin bahwa semakin sulit untuk kita mendapatkan tempat guna menumpahkan seluruh ekspresi yang ada. Kalau begitu jangan berharap membangun community space layaknya Rumah Api atau Rumah Pirata deh.

Atau kita harus memelas iba pada pemerintah untuk menyediakan tempat pertunjukan untuk komunitas ini ? Musik kita terlalu keras untuk memelas. Mereka-pun sepertinya sibuk dengan hitung-hitungan upeti dari kantong para investor. Jangan berharap. Maka yang bisa kita lakukan adalah memaksimalkan yang ada dan menjaganya. (AL)

Jumat, 19 Februari 2016

Sounds of Bitch Vol.01 by Codename A of Wreck

Satu waktu salah seorang kawan dari Lemarikota Webzine mengontak dan memintaku untuk membuat sebuah playlist untuk konten Sound of Bitch yang menurutku asik. Jujur saja, aku sedikit kebingungan karena begitu banyak lagu yang bagiku menarik dan tentu saja enak untukku sendiri. Terlebih aku menemukan begitu banyak band-band yang ‘canggih’ dan membantuku untuk mulai tak bermalas-malasan mencari referensi-referensi baru yang menyegarkan. Walaupun pada kenyataannya lagu yang aku pilih adalah lagu-lagu lama yang mungkin adalah favorit bagi beberapa orang.

Akhirnya dengan mantap aku putuskan 10 lagu favorit yang dalam beberapa bulan terakhir ini selalu ada dalam daftar lagu yang selalu kuputar semenjak aku tinggal di Ibukota. Niat awalnya aku ingin menjelaskan kenapa 10 lagu ini yang aku pilih, tapi setelah dipikir-pikir aku malah takut jika aku malah meracau tak jelas dan berbelit-belit. Jadi kuputuskan tak perlu diberi tulisan segala. Selamat mendengarkan! (Codename A)

Disdain Bebas Dengarkan Debut Album "In Ordinary"

Unit screamo/post-hardcore asal Depok, Disdain pada 14 Februari 2015 lalu merilis debut album bertajuk In Ordinary melalui Optical Records -label independen milik sang bassis Fikri. Itu tandanya sudah setahun lebih sejak debut album yang dirilis dalam format kaset pita dan cakram padat tersebut beredar.

Bertepatan dengan setahun rilisnya debut album milik band yang digawangi oleh Fajar Muharram (gitar), Fikry S. Firmansyah (bass), Hafidz Faze (vokal), Lutvy Zulhram (gitar), dan Kamal Pasha (drum). Mereka merilis kembali dalam bentuk digital melalui akun resmi di bandcamp. Berisikan lima buah track yang melodius dan emosional. Jika kalian menyukai La Dispute, Pianos Become The Teeth, Suis La Lune, dan band sejenis lainnya. Silakan coba dengarkan mereka, jika kalian tertarik silahkan untuk membeli rilisan fisiknya juga.

Dalam akun bandcamp tersebut, Disdain tidak hanya menggratis dengarkan debut album saja. Terdapat pula satu track berjudul "Such As Gold", yang mana lagu tersebut terdapat juga dalam album kompilasi Not So Quiet On The Starfruitcity yang dirilis via netlabel Lemarikota Records pada Maret 2015 lalu. (Akim)

**Foto diambil dari Disdain Fanpage

Vakum Tiga Tahun, Unit Hardcore Yogyakarta Throughout Siapkan Album Baru

Pada 2012 lalu Throughout merilis mini album bertajuk Step Ahead Into the Real World dibawah label Samstrong Records. Kemudian setahun kemudian, tepatnya Maret 2013, mereka kembali merilis album split dengan Challenge -band asal Portugal, masih melalui label yang sama. Setelah itu mereka tiba-tiba hilang tak tentu rimba dan album split tersebut adalah karya terakhir dari band bervokaliskan perempuan ini.

Setelah tiga tahun menghilang dari scene hardcore lokal, Samstrong Records selaku label yang menaungi mereka mengabarkan bahwa Throughout akan kembali dengan album ke dua. Aditya si empunya Samstrong Records menuturkan bahwa dirinya sangat bersemangat untuk bekerjasama dengan mereka setelah sekian lama.

Lanjutnya lagi, "Mereka mengalami masa sulit atas kepergian vokalis Astrida ke luar pulau untuk bekerja, Saya masih melihat passion dan spirit mereka dalam band dan Mengharapkan sesuatu yang berbeda dari album sebelumnya."

Throughout terbentuk sekitar tahun 2004 oleh Sidharta, dan saat ini beranggotakan Rika Fadhila (Vokal), Julianus Ferry (Gitar), Rio Catur
(Drum), Yusron (Bass), dan Sidharta (Gitar). Throughout dikenal memiliki riff yang merdu dengan part modern oldschool hardcore sejak kemunculan pertamanya, Performa panggung mereka terlihat sangat emosional, Mereka juga ikut meraimaikan kancah gigs Hardcore Punk di Yogyakarta dan Jawa serta melakukan tur Jabotabek dan Jawa Timur bersama Knockdown dan Reason to die awal tahun 2012, Bersiaplah untuk menantikan album baru mereka. (Akim)

Ini Scene Kami Juga!: Sebuah Film Tentang Perempuan Punk

Pertama kali mendengar bahwa akan ada sebuah film dokumenter tentang scene hardcore punk Indonesia, membuat gua penasaran. Selain memang film dokumenter adalah sesuatu yang masih asing di scene lokal, ditambah lagi film tersebut ternyata fokus ke aktifitas para perempuan. Dua hal yang langsung membuat gua semakin menggila. Pun gua pikir sudah bukan saatnya lagi scene ini terperangah kagum ketika melihat American Hardcore, The Punk Singer, The Other F Word, atau yang sedang panasnya The Other Option, dan seabrek film lainnya yang mengekspos scene punk di luar sana. Scene ini butuh pendokumentasian yang solid juga. Dan gua pikir langkah Hera Mary untuk membuat Ini Scene Kami Juga! cukup tepat, walaupun ia mengakui dikerjakan dengan kemampuan yang serba terbatas, namun itu bukan masalah yang besar. Terpenting adalah semangat untuk melakukannya terlebih dahulu.

Beruntungnya Lemarikota berkesempatan untuk ngobrol dengan Hera yang berdomisili di Bandung seputar film garapannya dan ide dibelakangnya. (AL)


Kamis, 18 Februari 2016

Kuartet Post Metal Cipanas Ensena Rilis Single 'Instrumental'

Datang dari Cipanas, kuartet post-metal/hardcore punk Ensena melepas single baru berjudul "Instrumental". Lagu sepanjang 30 menit lebih tersebut mereka lepas melalui akun official soundcloud pada Rabu (17/2) kemarin.

Menurut bassis Randy Pradana, lagu tersebut buah dari kejenuhan mereka dalam pembuatan musik. "Mungkin terdengar aneh, namun part yang kami mainkan di album dengan durasi sekitar 39 menit ini. Tercipta dengan sangat alami," lanjutnya.

Randy juga mengatakan kalau sebenarnya "Intrumental" adalah bagian dari wacana album ke dua mereka, yang sudah dipersiapkan sejak 2014 lalu namun sayangnya mengalami berbagai kendala hingga menuai keterlambatan. "Dan kami sepakat untuk membagikan secara gratis. Segratis melihat indahnya pemandangan elok Gede-Pangrango ketika terbangun di pagi hari," tandasnya. (Roy)





**Foto oleh Holding On

Rabu, 17 Februari 2016

Dead Vertical Segera Rilis Album Kempat

Gebrakan yang signifikan dan progress di Album ke - 4 dari trio DeadVertical ini membuktikan bahwa band ini memang suatu band Grindcore yang mempunyai ciri musikalitas tersendiri yang membedakan dengan band-band ekstrim lainnya.

Hantaman atmosfir depresif, kemarahan, kekecewaannamun tetap dibalut optimisme dengan lirik yang puitis berkarakter kuat tentang kehidupan, pergaulan, rumah tangga, dan pengkhianatan semua tertuang dalam album Angkasa Misteri ini. Kualitas sound dan style musik yang makin mantab serta easy listening di album ini siap menghajartelinga para Grinder dan metalhead, wait this.

Album terbaru trio asal Jakarta Timur ini akan dirilis pada 1 Maret mendatang di Joglo Beer Jakarta Selatan. Turut pula dimeriahkan oleh Arkenstoned dan Siksa Kubur. Berisikan 11 lagu, album ini siap menggerinda telinga kalian. (Akim)

Selasa, 16 Februari 2016

Pentolan The Milo dan Ex-Cherry Bombshell Bikin Album Bareng

Anoa Records berencana untuk merilis enam buah lagu milik Silverglaze yang belum pernah terpublikasikan sejak direkam pada tahun 2000-an. Enam lagu tersebut nantinya akan di rilis pada akhir Februari dengan tajuk Essays EP dalam format cakram padat. Sebelumnya pada awal Desember 2015 kemarin, single "We Can Do It Now Together" dilepas ke umum.

Silverglaze digawangi oleh nama-nama yang sudah tidak asing lagi bagi skena indie, khususnya di Bandung seperti Ajie Gergaji (Cherry Bombshell, Themilo), Widi (Cherry Bombshell,Lass) dan Ajo (Cherry Bombshell, Puppen), terbentuk pada sekitaran tahun 2000. Sayangnya dari sejak kemunculannya dalam skena indie lokal, band ini belum sekalipun melakukan pertunjukan langsung.

Dapat dikatakan pula berkumpulnya tiga nama dalam band ini sebagai reuni, sebab mereka pernah sama-sama berada dalam Cherry Bombshell untuk album Waktu Hijau Dulu dan Luka Yang Dalam. Terlebih lagi untuk Widi dan Ajo yang sempat memutuskan untuk berhenti bermusik karena alasan berkeluarga.

Sebagai bentuk promo Essays EP, Anoa Records sebagai label yang akan menanguni Silverglaze akan mengadakan bundling t-shirt dan CD yang dilegalisir langsung oleh para personil. Juga, pada Maret mendatang akan diadakan listening session untuk mini album tersebut dengan dihadiri oleh seluruh personil di Kineruku Bandung. (AL)

#youshouldknow | Insomnoise: Kuartet Shoegaze Dari Jakarta

Insomnoise adalah band yang terbentuk di kota metropolitan tepatnya Jakarta, Indonesia dan mengusung genre Shoegaze, genre yang telah merambah permusikan dunia sejak tahun 80-90an. Dankini Jakarta telah menelurkan sebuah project shoegaze yang menetaspada akhir 2014 lalu, terinfluence dari My Bloody Valentine, Slowdive, Dan band band pengusung genre alt rock lainnya.

Tepat pada bulan februari 2016 ini, mereka telah menyelesaikansingle pertama yang bertitle "100 Days" dengan durasi 04:31 dan direkam di suatu Home Recording Chrysocolla Record dengan format Donald Mauls [Vocal], Alwi [Gitar], Ronald [Gitar], dan drum di isi oleh Paul.

Rupanya single pertama ini menjadi pintu gerbang menuju EP album yang akan rilis di pertengahan tahun 2016 dengan title yang sama seperti single pertama ini yaitu "100 Days". Kemungkinan untuk track selanjutnya mereka akan mengisi lineup yang kosong seperi bass.

Senin, 15 Februari 2016

Mari Bagi Cerita Lo Di Noizetalgia

Kemarin secara sengaja, gua kembali membaca koleksi zine yang ada, khususnya zine-zine hardcore punk yang eksis sekitar tahun 2007 hingga sekitar 2010-an. Ada satu hal yang membuat gua merasakan kerinduan dengan zine format cetak tersebut yakni kolom essay. Di mana dalam kolom tersebut kadang berisi tulisan-tulisan personal dan semi-personal entah dari sang pembuat zine ataupun kontributor yang menulisnya. Mulai dari yang isinya berbobot sampai yang sampah sekalipun, namun dari semuanya tetap ada yang bisa dipetik, yang lebih pentinynya lagi adalah proses saling berbaginya itu yang mengasyikan. Masalah isinya berbobot atau tidak sebenarnya sangat relatif sekali.

Kemudian merangsang gua untuk membuat zine cetak kembali, sayangnya untuk saat ini gua tidak punya energi dan keuangan yang cukup. Membuat zine cetak itu benar-benar butuh perjuangan, dari proses pengumpulan data, produksi, hingga pasca produksinya. Pun juga harus ditunjang dengan finansial yang oke, sebab ada biaya produksi seperti print atau fotocopy di prosesnya tersebut.

Setelah menjalankan Lemarikota sekian tahun, gua semakin menyadari ada sisi yang hilang yakni personalnya itu sendiri. Maka dari itu untuk kembali menghadirkan sisi personal dari menjalankan sebuah zine (meskipun kini formatnya webzine). Gua membuat satu konten bernama Noizetalgia, di mana isinya adalah tulisan personal tentang segala bentuk kenangan yang pernah terjadi dalam hidup kita. Entah kenangan akan sebuah momen ataupun terhadap benda. Selain untuk mengobati kerinduan gua terhadap format zine cetak, gua ingin kembali menumbuhkan kebiasaan saling berbagi cerita dalam skena ini. Karena gua yakin setiap orang punya cerita yang menarik untuk dibagi. Persetan itu penting atau tidak bagi orang lain, karena seperti gua bilang diatas, hal tersebut relatif sekali. Namun terlepas dari bagaimana cerita tersebut, biasanya akan ada satu hal yang bisa kita petik.


Di Noizetalgia, lo bisa menceritakan ketika datang ke sebuah gigs, membeli sebuah rilisan, mendengarkan band, terjun ke dalam scene untuk pertama kalinya, ribut di gigs, puasa 30 hari untuk nabung beli kaos band luar, datang ke gigs tanpa beli tiket atau jebolan, pertama kali manggung/tour, ataupun hal lain yang masih ada sangkut pautnya dengan musik dan hardcore/punk pada khususnya. Lo gak perlu pintar menulis atau sampai ikut kursus tulis menulis, untuk bisa berbagi cerita di sini. Cukup luapkan apa yang ingin dibagi dan tulis semampu yang lo bisa lalu kirim ke email redaksi di lemarikota_redaksi@yahoo.co.id, subjectnya noizetalgia. Gua tunggu cerita dari lo. (AL)

**Foto diambil dari Bob Gruen[1] dan Jim F.[2]

#noizetalgia | Sebab Kenapa Akhirnya Membeli Kaset DS-13

Sekitar tahun 2007 di Depok, khususnya di SMP gua, sedang demamnya trend punk rock atau sering disebut melodic punk kala itu. Beberapa teman hampir setiap akhir pekan selalu mendatangi gigs yang pada saat itu marak diadakan di Balai Rakayat Depok 2 ataupun Parkit Dejavu. Imbasnya, beberapa teman gua ini akhirnya ada yang membentuk band melodic punk dengan kiblat ke Blink 182, Rocket Rockers, Speak Up, ataupun band-band yang ada di kompilasian Berpacu Dalam Melodik.

Menjadi anak melodic adalah suatu hal yang membanggakan. Apalagi kalau lo seorang cowok, sering ikut basis ribut, dan ditambah selera musik lo melodic punk. Tak bisa dipungkiri hal ini menambah sekian persen aura keren dalam diri setiap orang yang menganutnya ketika itu.

Ketika trend melodic punk ini menjamur di sekolah, gua terbilang yang telat tau. Ketika itu masih asyik dengan debut albumnya Peterpan dan Sheila on 7. Seperti anak remaja ketika itu pada umumnya, gua pun ingin terlihat keren, terutama di mata lawan jenis. Mulailah mendengarkan beberapa band seperti Green Day, Nofx, Mxpx, Not Available, dan untuk lokalnya seorang teman sebangku merekomendasikan gua band-band seperti Stupidity, Konflik, Endank Soekamtie, Kuro, juga Rocket Rockers. Dari teman gua itu pula, akhirnya gua diperkenalkan oleh jenis punk rock dengan muatan lirik yang lebih bernuansa sosial politik seperti Sosial Sosial, Marjinal, Bunga Hitam, dan Silly Riot. Gua pun mulai sering ikut-ikutan datang ke gigs, berharap dapat stiker band yang manggung dan stempel tanda masuk acara yang kemudian hari Seninnya bisa gua pamerkan di kelas.

#youshouldknow | My Secret Identity: Penyegar Scene Indie Pop Kota Hujan

Pernah ada suatu masa dimana scene musik independen Bogor sangat berwarna dan variatif. Masa yang sangat indah bagi saya kala itu yang masih berseragam SMA. Gelaran demi gelaran lokal Bogor disambangi untuk memuaskan dahaga saya akan musik. Saya masih ingat bagaimana dibuat tercengang oleh band-band seperti Douet Mauet’s, The Safari, Her Spring Holiday, Daylight, The Nova, Elora, dan tak terkecuali My Secret Identity. Kehadiran mereka pada pertengahan 2000-an merupakan sebuah anomali di tengah kukungan scene musik Bogor yang hingar bingar oleh musik Metal dan Punk. Saya merasa sangat beruntung bisa menikmati era kejayaan Indie Pop/Indie Rock/Alternatif Bogor saat itu.

Kembali ke masa sekarang, apa yang anda pegang saat ini adalah buah karya dari salah satu eksponen Indie Pop/Indie Rock/Alternatif Bogor era 2000-an, My Secret Identity. Terbentuk pada tahun 2004, My Secret Identity memang bukan band pertama yang memainkan musik Indie Pop di Bogor, mereka tidak pernah wara-wiri secara masif di setiap pagelaran musik, tetapi mereka adalah salah satu penanda keberadaan musik Indie Pop di Bogor, salah satu yang bertahan hingga saat ini walaupun bongkar pasang personil harus dilakukan dan hanya menyisakan Ricky Hendriansyah sang vokalis sebagai satu-satunya member orisinil. Mereka adalah salah satu yang paling siginikan dan tepat untuk menggambarkan bagaimana seharusnya musik Indie Pop dimainkan; muram, hangat, bersahaja, dan naif, hal ini dapat anda dengar pada “Bittersweet and Those In Between”.

Sebagai sebuah album penuh, “Bittersweet and Those In Between” adalah penyegar di tengah ‘kekeringan’ yang melanda scene Indie Pop/Indie Rock/Alternatif Bogor. Corak sound Indie Pop yang mereka suguhkan menyiratkan perasaan lega, bagai sebuah pelukan di tengah rutinitas yang dingin dan mencekik. Dilain waktu, lirik gelap mereka hadirkan tanpa harus terkesan ‘sakit’ dan menjadi ‘pesakitan’, nuansa yang mereka bangun begitu elegan dan tidak murahan. Ada suatu sisi yang tanpa sadar mengingatkan kita akan era 90-an yang romantis dan naïf secara bersamaan, juga bauran akustik teduh dengan vokal lembut sedikit berbisik. Ada banyak perwujudan dalam vokal Ricky yang sedikit muram, terkadang ia bisa dingin juga hangat dalam satu waktu dalam menyampaikan kegelisahannya, pun diperkuat oleh pola aransemen yang sangat mendukung terciptanya hal tersebut. Perasaan sentimentil yang muncul setelah mendengarkan album ini merupakan bonus spesial yang manis untuk dinikmati, istilah “lemesin aja jangan dilawan” mungkin cocok untuk mendeskripsikan perasaan ini. Berisikan 7 lagu baru, 2 lagu lama, dan 1 lagu cover version dari grup chiptune/bitpop Bogor Turbo Blip, “Bittersweet and Those In Between” bagai seorang kawan lama yang datang kembali dan menjadi bijak setelah 11 tahun ditempa pengalaman. Album ini adalah awal baru bagi My Secret Identity untuk terus bertahan dan tak tergerus zaman, untuk sekali lagi menjadi anomali di tengah kukungan rasa bosan.

“Mencoba meng-eksplor sound-sound gitar diluar tradisi sound gitar ciri khas mySecretidentity yang kental dengan ambient, menjadi tantangan tersendiri. Hasilnya cukup menyegarkan, semoga” ujar Ade Pujarama gitaris.

“Karakter yang berusaha dibangun tidak lagi dibalut dengan nuansa yang melulu gloomy, lebih dinamis, utuh. Inginnya penikmat album kami masing-masing punya satu lagu favorit yang berbeda” imbuh Adi Adriadi gitaris.

“Sebagai personil baru otomatis ada pengaruh baru yang saya bawa. Meski demikian, lagu-lagu band ini sangat familiar ditelinga, sehingga dalam waktu yang singkat bisa saya terjemahkan dan nikmati” sedikit menambahkan Billy Irian penabuh drums.

“Lebih dari 3 tahun bukan waktu yang sebentar. Selama proses produksi semangat kami memang naik turun, apalagi masing-masing personil lumayan sibuk, kami sempat pesimis. Sekarang produksi telah selesai dan hasil materi-materi pilihan yang kami masukkan kedalam album menjadikan semuanya sepadan” ujar Indra bassist.

“Selama Ricky masih menjadi vokalis band ini, saya rasa suara apapun yang menjadi musik dalam lagunya, band ini tak akan kehilangan akar. Sangat bersemangat untuk menggarap album-album kami berikutnya. Beberapa lagu baru sudah kita siapkan” ujar Resky, Synthesizer/Keys.

“Album ini ialah manifestasi sebuah perjalanan yang dirintis bersama kawan-kawan terdekat sejak tahun 2004. Sebuah album perdana yang sangat personal nilainya bagi saya. Terlepas dari segala kekurangannya, ada perasaan lega yang menyelimuti. Seperti menemukan kembali mainan kesayangan yang hilang” ujarnya sambil tersenyum Ricky, Vokal/Gitar.

My Secret Identity merupakan band Indie pop asal Bogor yang berdiri pada tahun 2004. Album yang diberi judul “Bittersweet and Those in Between” ini merupakan rangkuman dan rekam jejak dari karya-karya mereka setelah 12 tahun malang melintang di scene musik lokal. Proses perekaman album ini berjalan cukup lama dan memakan waktu 3 tahun lamanya dikarenakan kesibukan masing-masing personelnya, formasi teranyar dari grup ini antara lain: Ade Pujarama (Gitar), Adi Adriadi (Bass), Billy Irian (Drums/Percussions), Indra (Gitar/Bass Gitar), Resky Machyuzar (Synthesizer/Keys), Ricky Herdiansyah (Vokal/Gitar). “Bittersweet And Those In Between” dirilis dalam format kaset pita dan cakram padat oleh Tromagnon Records.(tahu88)

Unit Punk Eksentrik The Kuda Rayakan Album Baru Di Kota Sendiri

Setelah sukses menggelar pesta peluncuran album Satu Aku Sejuta Kalian di Eco Bar Kemang Jakarta pada September 2015 lalu. The Kuda akan melangsungkan pesta rilis album untuk kedua kalinya dengan tajuk Kandang Kandung Kuda di kota mereka sendiri, Bogor. Didukung oleh sebuah kolektif baru dari kota hujan, Kick It! Collective, acara tersebut akan diadakan pada 27 Februari mendatang di RRI Bogor.

Showcase Kandang Kandung Kuda, menurut Kick It! Collective, adalah bentuk sambutan positif atas rilisnya album eksentrik milik The Kuda. "Meski umur album tersebut sudah tidak lagi muda, showcase ini berupaya menjadi pesta penghangat presensi album tersebut," ungkap Indra mewakili Kick It! Collective.

Acara ini tidak dipungut biaya, sebagai gantinya akan dirilis merhandise The Kuda yang sangat khusus dan tentu saja dengan jumlah yang sangat terbatas untuk menambah biaya operasional acara. Acara yang juga akan menampilkan Wreck, Fakk, Bequiet, taRRkam, dan The Draguars ini, nantinya akan disiarkan secara langsung melalaui radio 106.8 Pro 2 FM, Radio Republik Indonesia Bogor.

Band yang beranggotakan Adipati (vokal), Andi ‘Idam’ Fauzi (gitar), Aditya ‘Jamur’ Sutiadi (bass), dan Dhany ‘Ahong’ Rhamdhani (drum) merilis album Satu Aku Sejuta Kalian dengan melibatkan seorang Jimi Multhazam (Bequiet/The Upstairs/Morfem) sebagai produsernya. Pada awal 2016 lalu album tersebut didapuk sebagai salah satu album terbaik 2015 versi majalah Rolling Stone Indonesia. (AL)

**Foto oleh irockumentary.com


Bundlepack The Kuda (T-Shirt, sticker, button)
IDR: 120k

Mekanisme pemesanan:
0822-1373-6704 (sms atau whatsapp)

Open pre-order dimulai dari tanggal 1-20 Februari 2016.

Produksi dimulai tanggal 21-25 Feb 2016
Pengiriman paket dimulai tanggal 26 februari atau dapat diambil di gig Kandang Kandung Kuda.

Pembayaran 100% dari total IDR: 120K
Material kaos Gildan softstyle.

Format pemesanan :
Nama - alamat - jumlah pesanan - ukuran t-shirt (sertakan tanda bukti transfer)
No rek: BCA. AN/ Junaedi 7380494137

Sabtu, 13 Februari 2016

Tragedi Salim Kancil Diangkat Dalam Sebuah Film

Sebuah film dokumenter tentang Salim Kancil pada tanggal 12 Fabruari 2016 tayang pertama kali melalui kanal youtube. Film tersebut menceritakan tentang kejadian pembunuhan dan penganiayaan aktivis anti-tambang pasir, Salim Kancil dan juga Tosan pada September 2015 lalu.

Tragedi Salim Kancil terjadi pada 26 September 2015. Penolakan terhadap praktek tambang pasir liar di desanya, Selok Awar-awar, berujung pada pengeroyokan terhadap Salim dan Tosan oleh orang tak dikenal.

Salim tewas di jalan dekat makam desa setelah dianiaya di Balai Desa. Sedangkan Tosan mengalami luka serius serta sempat dirawat dan menjalani operasi di Rumah Sakit Umum Daerah Saiful Anwar, Kota Malang.

Menurut Kepala Kejaksaan Negeri Surabaya Didik Farkhan, terdapat 36 orang yang sudah ditetapkan menjadi tersangkan atas kasus tersebut. Semua tersangka itu rencananya akan disidangkan di Pengadilan Negeri Surabaya. Jaksa dari Surabaya dilibatkan dalam penyusunan dakwaan menyusul adanya Keputusan Mahkamah Agung, yang menunjuk Pengadilan Negeri Surabaya untuk memeriksa dan memutus kasus tersebut. (Qori)

A-Tseng Fikrey & The Ladies: "Junjung Tinggi Kode Etik Playboy, Segel Rusak Barang Kembali"

A-Tseng Fikrey & The Ladies adalah nama baru untuk dikancah rock tanah air, namun kemunculannya langsung mencuri perhatian massa rock dengan nama band yang eksentrik dan terlebih setelah rilisnya debut album Sasa Bagara Malas Malas (jangan coba membacanya dengan mengganti huruf "A" menjadi "U") pada 2015 lalu. Karakteristik musik yang heavy dan darkness, dipadukan lirik yang vulgar dan kadang melahap ranah sci-fi. Menjadi karakteristik tersendiri bagi band asal Yogyakarta satu ini. Bahkan debut album tersebut mendapat predikat album terbaik versi Warning Magazine tahun lalu.

A-Tseng Fikrey & The Ladies adalah sperma hasil persenggamaan para personil Kultivasi, Rabu, Goorsha, dan MDAE yang dikeluarkan begitu saja tanpa adanya ekspektasi dan tendensi kecuali untuk satu tujuan yakni bersenang-senang. Meski begitu bisa dibilang mereka adalah representasi rock yang flamboyan, apa adanya, dan tipikal band rock lainnya yang nakal. Oh yah, mereka juga punya fantasi yang liar dan mewakili gairah muda mudi yang menggebu.

Berikut adalah hasil obrolan Lemarikota dengan sang vokalis Wednes Mandra. (AL)

Unit Indie Rock Kalimantan Choco Pasta Rilis TAIK

Setelah terhenti sejenak, unit indie rock asal Pontianak, Kalimantan Barat, Choco Pasta kembali berkarya lagi. Meskipun hanya menyisakan dua personil yakni Qnoi (drum) dan Mumu (gitar), setelah sebelumnya ditinggal oleh Alvin (bass) dan Vita (vokal). Namun mereka berhasil kembali masuk studio pada awal 2016 guna menyelesaikan mini album terbaru bertajuk TAIK.

Menurut mereka, kepergian dua personil lainnya menambah tugas lagi, khususnya kekosongan yang terjadi pada bagian vokal. Atas saran dari Qnoi, pada akhirnya Mumu yang dirujuk untuk mengisi kekosongan tersebut.

“Tugasnya nambah lagi. Dari awal, Mumu memang yang nulis semua lagu Choco Pasta dan maen
gitar. Sekarang dia juga yang nyanyi. Karena waktu itu kita memang nggak kepikiran buat nyari vokalis baru,” jelas Qnoi.

TAIK sendiri memiliki kepanjangan The Almost Interesting Kids, yang juga menjadi bagian dari materi album tersebut. Sebuah lagu yang diciptakan oleh Mumu untuk memperolok dirinya yang pernah menerobos lampu merah dan membuang sampah ke sungai.

Mini album TAIK berisi lima buah lagu dengan musik yang ringan dan lirik yang mudah dicerna, yang dirilis dalam format cd oleh PTK Distribution. (Dick Head)

Sabtu, 06 Februari 2016

Febricated: Hajar Batas Skena Sebab Musik Untuk Semua Kalangan

Skat dan ekslusivitas yang terjadi dalam skena telah menjadi rahasia umum, hal tersebut yang lantas ingin dirobohkan oleh sekelompok orang dengan menyajikan satu gigs sebagai mesin penghancurnya. Adalah HOS -sebuah gerakan untuk mengeksplorasi venuw baru bagi para musisi untuk berekspresi, yang berinisiasi menggelar gigs bertajuk Febricated yang berarti bebas membangun sesuatu dengan mengombinasikan berbagai materi.

"Dirasa cocok dengan misi yang diusung HOS," ungkap mereka.

Melalui gigs tersebut, HOS memang ingin menghancurkan batas skena dan ekslusivitas yang selama ini menjadi rahasia umum. Sebab dari itu pada pagelaran Febricated, mereka mengundang para penampil dengan latar belakang musik berbeda. Ada Raincoat yang memainkan hardcore, Marsh Kids dengan Indie rock, Gizpel dengan dream-pop, Avhath dengan blackened-punk, dan beberapa penampil lainnya dengan corak musik yang berbeda.

"HOS sengaja mengundang para penampil yang membawakan berbagai aliran musik. Sehingga event musik dapat kembali kepada kodratnya, yaitu menjadi sebuah perayaan untuk semua kalangan," tambah mereka.

Gigs Febricated akan diselenggarakan pada Sabtu 06 Februari 2015 di Mondo by The Rooftop -sebuah cafe yang terletak dilantai atas Rossi Music Fatmawati. Dengan tiket yang lumayan terjangkau yakni Rp. 35.000,- kalian bisa menyaksikan band-band lintas genre dalam satu waktu. (AL)

p.s. untuk menuju venue, silahkan lewati backdoor dari Rossi Music Fatmawati dan parkirkan kendaraan kalian di parkiran belakang.

6 Band Yang Mengusung Konsep Virtual Reality Pada Video Clip

source google
Kemajuan teknologi yang semakin hari bertambah pesat, turut membawa dampak pada berkembangnya kreatifitas video maker. Jika sebelumnya menyaksikan sebuah video hanya dari satu arah. Kini melalui teknologi virtual reality, video dapat dilihat secara penuh dari segala penjuru arah atau 360 derajat. Cukup putar ke kanan, kiri, atas, dan bawah penonton bisa leluasa menikmati video. Sekilas hal ini mengingatkan pada layanan Google Street View yang ada di Google Maps bedanya ini video bukan foto.

Kemajuan teknologi video tersebut langsung merangsang para musisi untuk menggarap video clip masing-masing dengan konsep virtual reality 360 derajat. Apalagi setelah youtube sebagai situs sharing video nomer satu di dunia telah mendukung fitur ini. Penonton jadi semakin merasa seolah-olah dekat dengan para musisi. Tentu hal tersebut memberikan pengalaman dan sensasi yang baru dalam menikmati tayangan video, bukan ?

Mau tau siapa saja musisi yang menggunakan fitur virtual reality dalam video clipnya ? Berikut ini tim Lemarikota telah merangkumnya. (AL)

Kamis, 04 Februari 2016

#youshouldknow | Mutombo: Band Indie Rock Jakarta Bernuansa 90an

Joko Wiryawan (gitar) memiliki banyak materi lagu yang selama ini terpendam bertahun-tahun dan belum juga dieksekusi menjadi sebuah karya. Hal tersebut ia akui lantaran belum menemukan bandmate yang tepat. Barulah pada akhir 2015 di sebuah kamar yang terletak dibilangan Jakarta, bersama dengan Anto F. Rachman (bass) mulai berlatih bersama dan disusul oleh masuknya Budi Triyadi (Drum). Dari sanalah cikal bakal Mutombo lahir sebagai band.

"Kita teman kecil kebetulan. Baru ngeband sekarang tapi," ungkap mereka.

Proses kreatif mereka tergolong cepat, akhir tahun terbentuk, langsung menggarap mini album. Alhasil pada awal Februari 2016, mereka merilis Dreadfully Yours yang bisa kalian unduh gratis melalui akun soundcloud ataupun bandcamp. Terdapat lima lagu bernuansa indie rock 90-an, seperti Yo La Tengo, Sebadoh, Pavement, dan band sejenisnya.

Silahkan dengar dan download mereka melalui link di bawah ini, mari kita bernostalgia bersama. Oh yah, mereka belum pernah manggung. Tolong jangan ragu untuk mengundang mereka tampil. (AL)


Reuni Band-Band Underground Bogor Terekam Dalam Sebuah Film

Sebuah film tentang pelaku skena underground kota Bogor belum lama ini dirilis oleh Kick It! Collective melalui kanal youtube resmi mereka pada Senin (1/2) kemarin. Film dengan judul Kick It!: Teenage Revival The Movie tersebut menangkap betapa serunya sebuah konser musik yang diisi oleh band-band lintas generasi juga genre yang ada di kota hujan.

Dikutip dari pernyataan Kick It! Collective selaku penyelenggara, film ini mengalami berbagai kendala sehingga berdampak pada mundurnya jadwal rilis yang memakan waktu setahun.

"Butuh waktu yang cukup lama untuk merilis video ini karena beberapa alasan seperti kesibukan, keterbatasan kemampuan, hingga mood para panitianya," tulis mereka.

Film tersebut adalah bagian dari pagelaran pesta temu dengar yang berjudul sama yang terselenggara pada Februari 2015 lalu di Baranangsiang, Bogor. Band-band seperti Revolt, Topi Jerami, Psychotic Angels, Lepas Landas, Deadly Eye Candy, Full of Envious, Her Spring Holiday, The Kuda, My First Wet Dream, dan masih banyak lagi, turut meramaikan gigs reunian tersebut. (AL)

Rabu, 03 Februari 2016

Take This Life: "Semakin Unik Dan Eksperimental Akan Memperkaya Scene Sendiri"

Band asal Malang ini sudah cukup lama berada di skena hc/punk sejak tahun 2005 dan memainkan genre musik yang tidak biasa yaitu Mathcore dan (mid 90s) Screamo or whatever you call. Ya, band ini bernama Take This Life. Band yang cukup bisa dibilang veteran ini sendiri di gawangi oleh Julius Bagus (vocal), Bayu Jabrek (gitar), Yogi Sinyo (bass), dan Rizky Gondol (drum) Mereka juga sudah memunculkan dua EP dan satu Album yang sangat menarik, dan selalu memiliki tema tersendiri di tiap rilisan mereka.

Beruntunglah saya memiliki kesempatan melakukan sesi tanya jawab dengan mereka di tengah-tengah kesibukan mereka semua yang harus bertahan hidup atau bekerja, selamat menikmati interview kali ini. (oldbrains91)

Hai perkenalkan dong siapa kalian dan ceritakan sedikit tentang Take This Life ? 
Halo, saat ini Take This Life adalah Julius Bagus, Bayu Jabrek, Yogi Sinyo, dan Rizky Gondol. Tahun ini Take This Life genap berusia 10 tahun, semoga masih bakal jalan sampai banyak tahun lagi.

Modern Guns Rilis Single "Hopefall" Untuk Album Baru

Band hardcore asal Depok, Modern Guns merilis single terbaru berjudul "Hopesfall" melalui official soundcloud mereka. Lagu berdurasi dua menit lebih tersebut akan menjadi bagian dalam album terbaru mereka yang akan dirilis oleh Armstretch Records. "Sangat senang untuk memberitahukan bahwa kami menandatangani kontrak dengan Armstretch Records. Album baru akan segera rilis tahun ini," tulis mereka pada fan page Facebook.

Dalam lagu tersebut Modern Guns berkolaborasi dengan Praditya Eka Putra yang notabene adalah gitaris dari band hardcore, Limerence. Namun dalam bentuk kolaborasi kali ini, Praditya tidak bermain gitar melainkan menyumbangkan suara untuk bagian clean vocal.

Sebelumnya Modern Guns telah merilis debut album bertajuk Pure Love From The Black Heart pada 2014 lalu dalam format cd dan juga tersedia diberbagai platform musik digital yang ada. (AL)

Selasa, 02 Februari 2016

Kontrasosial: Touring Eropa, Bandung, dan Ganja

Setelah membuka-buka folder redaksi kembali, ternyata saya melewati satu naskah yang saya sendiri sudah lupa sejak kapan menyimpannya. Naskah tersebut berisi transkrip wawancara saya bersama band d-beat asal Bandung, Kontrasosial. Setelah dibaca ulang ternyata materinya masih lumayan relevan untuk dipublikasi.

Saya memang tidak ingat kapan naskah ini tersimpan namun saya ingat ketika itu mewawancarai mereka tepatnya setelah album terbaru mereka bertajuk Vol.4 rilis. Langsung saja di simak hasil wawancara seputar album terbaru mereka tersebut, touring Kontrasosial ke Eropa, hingga makanan favorit mereka. Yang diwakili oleh Billy Anjing (B) dan Ebby (E). (AL)


Hal apa yang dalam waktu terakhir mengganggu kalian nih ?
(B) Akhir-akhir ini aku sedang terganggu oleh terbatasnya perangkat berkarya.

(E) Hal yang sangat mengganggu yaitu PEMILU tapi istri saya memilih JOKOWI

#youshouldknow | Doctrine Clone: Duo Grindcore Bahaya Kota Hujan

Pengaruh yang terkloning! Begitu kira-kira bila di bahasa indo kan, sebuah grup bebunyian penuh distorsi berformat duo asal Bogor. Doctrine Clone adalah Dimas memainkan gitar sambil bernyanyi dan Rian menabuh drum pun sambil bernyanyi, kebayang kan walaupun cuman berdua tapi rame gitu, dua-dua nyanyi, teriak-teriakan pula hihi. Mereka berdua LDR an nih, karena dimas study di Bandung sedangkan Rian di Bogor, dan sebentar lagi Rian pun bakalan cabut karena pekerjaannya sebagai pelaut, makin LDR aja mereka. Makanya nih akhir-akhir ini mereka lagi rajin-rajinnya main di gigs, dan lagi nyicil-nyicil rekaman sebelum Rian berangkat. Mereka berdua sebelumnya sempet gabung di band punk rock bernama Chaos Anarchy, sekitar tahun 2005/2006 an gitu. Posisi mereka sama-sama main drum dan gitar setelah itu, tahun 2009 Rian pindah ke Pontianak dan membentuk band juga disana bernama Disculture. Akhirnya bertemu Dimas kembali akhirnya membentuk si Doctrine Clone ini.

Berawal dari kejenuhan monotonnya hidup mereka, takut menjadi introvert, dan band merupakan pelarian yang cuco buat mereka, asoy! Ketukan drum ala Extreme Noise Terror, riff gitar yang gaspol, sludgy, raw raw gimana gitu,eh gimana sih? Hehe, ditambah dengkingan noise ala Man is the Bastard merupakan deskripsi yang cocok buat musik Doctrine Clone. Mereka juga udah buat beberapa merchandise, kalau mau mesen bisa dikunjungi fanpage facebook nya ketik aja Doctrine Clone, gitu. Bentar lagi juga mereka bakalan rilis ep yang dinaungi oleh label asal Batam, S.O.N Records, dalam format kaset.

Nah seperti yang udah saya sebutin di atas, mereka juga bakalan rekaman lagi sebelum kepergian Rian buat rencana full album nya Grind made Eruption bisa kalian dengerin di bandcamp mereka. Sebuah track berbahaya, juga menjadi satu alesan kenapa band ini dibentuk, sugoy! Eh dari perbincangan saya sama mereka, si Rian ini minta didoain jadi nakhoda, bukan naekhonda ya, biarpun irit sih, tapi boong iritnya, asli. Kalo si Dimas ini lagi mau pameran kebetulan dia tukang gambar gitu, minta doa juga supaya sukses pamerannya. Kenapa pada minta doa gini ya? Oh ya saya lupa genre mereka kan Grindoacore! Hihi. (Fauzan)